Tentang Iman dan Cinta

27 January 2016 4 Comments

Dalam berbagai diskusi cukup sering orang mencoba menjebak saya dengan pertanyaan,”Bagaimana bila anakmu yang jadi gay? Bagaimana bila anakmu pindah agama?” Ini bukan pertanyaan dalam rangka memahami, melainkan pertanyaan orang frustrasi, ketika tak sanggup lagi berargumen. Ketika saya jawab dengan jujur dan gamblang, mereka tak kunjung paham. Malah makin tambah frustrasi. Lalu mereka mengumpat saya dengan doa,”Semoga anakmu jadi gay. Semoga anakmu murtad.” Mengumpat dengan doa? Ya, begitulah hebatnya orang beriman, mereka bisa menumpahkan umpatan melalui doa.

Bagi saya ada 2 hal yang tidak bisa dipaksakan, yaitu iman dan cinta. Kita bisa memaksa orang melakukan ritual-ritual, atau melarang mereka melakukan ritual, masuk ke suatu agama, atau keluar dari suatu agama, tapi kita tak akan pernah bisa memaksa orang untuk beriman atau tidak beriman. Masih ingat dengan aliran-aliran yang dituduh sesat seperti Islam Jamaah atau Darul Arqam? Banyak upaya untuk meluruskan mereka, tapi apa hasilnya? Mereka hanya berubah dalam bentuk kasat mata, tapi tak berubah dalam keyakinan. Mereka hanya mencoba menghindar dari tekanan sosial. Sebaliknya para penekan sebenarnya tak pernah benar-benar peduli pada iman orang-orang itu. Mereka sebenarnya hanya tak mau ego mereka terusik menyaksikan orang-orang yang berbeda dengan mereka.

Cinta mirip dengan iman. Kau bisa memaksa orang untuk menikah atau tidak menikah, bersenggama atau tidak senggama, tapi kau tak akan pernah bisa memaksa atau melarang orang untuk mencintai. Nasihat-nasihat atau tekanan hanya akan membuat orang mengubah perilaku yang tampak, tapi tidak mengubah cintanya. Makanya banyak kasus gay menikah, punya anak, tapi dia tetap gay.

Anda masih sulit untuk menerima prinsip ini? Tidak percaya? Coba tanya diri Anda sendiri, maukah atau bisakah Anda mengubah iman Anda? Tidak. Kalau Anda tidak mau, mengapa Anda berharap orang lain akan mau mengubah imannya oleh ajakan atau tekanan Anda? Maukah Anda mengubah cinta Anda? Tidak.

Anda merasa sedang mempertahankan kebenaran? Ya, begitu pula orang lain. Masalahnya adalah, Anda menganggap kebenaran itu wujud secara independen. Padahal bukan. Kebenaran itu didefinisikan. Agama adalah kumpulan definisi tentang kebenaran.

Maka kepada anak-anak, dalam hal agama dan cinta, saya tidak akan memaksakan sebuah arahan. Yang saya lakukan adalah memberi mereka ruang untuk tahu dan berpikir. Pilihan ada sepenuhnya pada pikiran mereka masing-masing.

Tadi malam, misalnya, anak saya bertanya tentang mukjizat nabi membelah bulan. Apakah ini nyata?

“Menurutmu mungkin nggak itu terjadi.”

“Nggak mungkin.”

Itu jawaban rasional. Kemudian menyusul jawaban iman.

“Tapi kalau Allah berkehendak, mungkin saja.”

Saya hanya meluruskan,”Bahkan kehendak Allah pun punya konsekwensi. Kalau Allah mengizinkan bulan terbelah, maka Ia juga harus mengizinkan berbagai konsekwensi yang menyertainya, seperti “tumpahnya” magma bulan, atau berubahnya keseimbangan relasi gravitasi bulan-bumi.”

Anak saya masih mencoba mempertahankan argumennya. “Tapi kan ada bekasnya di permukaan bulan.”

“Bukan, nak. Itu adalah Rima Ariadaeus, fenomena di permukaan bulan, bukan bekas terbelahnya bulan.”

Saya hanya hadirkan fakta-fakta kepadanya, lalu saya berikan dia ruang bebas untuk mendefinisikan kebenarannya sendiri.

Dalam usia saya yang hampir setengah abad ini, saya banyak melihat pergulatan iman orang-orang. Pernah saya mengenal seorang gadis muda di tahun 90-an. Ia memakai jilbab, di saat jilbab masih asing. Peliknya lagi, ia sekolah di sekolah Katholik. Ia dilarang pakai jilbab di sekolah, tapi mencoba ngotot. Orang tua dan guru-guru mencoba melunakkan, tapi gagal. Akhirnya dicapai jalan tengah, ia hanya boleh berjilbab di luar sekolah, sampai menjelang masuk ke halaman sekolah. Belasan tahun kemudian saya temukan anak ini tidak lagi berjilbab.

Saya sendiri mengalami pergulatan itu. Orang tua saya penganut Islam tradisionalis seperti NU. Abang saya aktivis Muhammadiyah. Saya? Saya penganut aliran bukan-bukan. Saya tidak mengimani Quran sebagai kitab yang benar dalam setiap detilnya. Saya juga tidak menjadikan Quran sebagai pedoman yang harus dilaksanakan pada setiap ayatnya. Instead, saya memandang Quran sebagai inspirasi dan panduan moral. Fokus saya adalah menegakkan pesan besar dari Quran, yaitu menyelamatkan manusia dari kerusakan (fasad) dan kebinasaan.

Keluarga saya kaget dan keberatan. Abang saya, manusia yang paling saya hormati di muka bumi ini saat ini, berulang kali menelepon saya, mencoba meluruskan saya. Beberapa kali saya ladeni. Lalu saya katakan,”Capek ngomong panjang lebar begini. Kalau ada waktu cobalah kita berdialog kalau De kebetulan ada acara di Jakarta.”

Lalu terjadilah dialog itu. Saya bentangkan Quran di depan abang saya, lalu saya sampaikan pikiran saya. Saya minta dia membantahnya. Dia tidak bisa membantah. Tentu saja dia juga tidak setuju. Saya tidak berharap dia setuju. Saya hanya ingin dia paham, bahwa adiknya sedang membangun jalannya sendiri, bukan sedang tersesat.

Masih penasaran dia mencoba menembak saya. “Kau itu minim ilmu. Kau cuma doktor di bidang sains, bukan bidang agama. Imumu tak lengkap.”

“Ya, memang tak lengkap. Tapi siapa manusia yang lengkap ilmunya? Quraish Shihab? Hamka? Ibnu Katsir? Suyuthi? Quran dan ketuhanan itu begitu luas cakupannya, sehingga tak ada seorang pun yang lengkap ilmunya. Orang-orang yang saya sebut tadi boleh saja luas ilmunya dalam hal bahasa Arab, ulumul Quran dan hadist. Tapi kalau soal ilmu alam yang juga banyak dibahas di Quran, maaf saja, ilmu saya lebih banyak dari mereka.”

Abang saya terdiam. Lalu dia berkata,”Baiklah. Silakan tempuh jalan kamu. Aku hanya bisa berdoa untuk kamu.”

Maka, kepada yang bertanya, izinkan saya membalik pertanyaan itu kepada Anda. Kalau anak Anda gay, apa yang akan Anda lakukan? Kalau anak Anda murtad, apa yang akan Anda lakukan? Mencoba mengubah mereka? Boleh jadi mereka hanya akan mengerjakan ritual-ritual. Mereka hanya mengubah cara senggama. Tapi Anda tak akan pernah bisa mengubah iman atau cinta mereka.

Tidak sedikit pula orang yang menuduh saya mencari popularitas belaka. Orang yang tidak biasa berpikir memang akan sulit memahami makna atau kenikmatan dari kemerdekaan berpikir itu. Ketahuilah bahwa saya belum pernah mendapat nikmat apapun dari pikiran saya yang sekarang, selain jempol-jempo di Facebook. Sebaliknya, saya pernah mendapat cukup banyak uang dari mendakwahkan Islam “konvensional”. Saya dulu sering diundang memberi khutbah dan pengajian, dan mendapat imbalan uang.

Kalau saya mau, saya bisa lebih populer dengan mendakwahkan Quran yang cocok dengan sains, seperti yang dilakukan seorang teman saya. Saya bisa mendapat lebih banyak uang dengan menyampaikan hal-hal populer yang disukai banyak orang.

Tapi tidak. Saya memilih untuk jadi orang merdeka atas pikiran saya sendiri.

4 thoughts on “Tentang Iman dan Cinta”

  1. Sekali lagi, setuju dengan pandangan kang Hasan. Saya baru blog walking dan ketemu blog dan tulisan2 kang Hasan yang sedikit banyak kok banyak banget mirip dengan pemikiran saya. Mengenai LGBT, saya tegas berpendapat itu hak semua orang. Masalah preferensi dan orientasi seksual saja, tidak ada hubungannya dengan akhlak dan moral. Sebenarnya semudah, kamu lebih suka apel atau pisang? dan tidak perlu alas an kenapa. Just the way it is. Saya menyayangkan sungguh pernyataan para pejabat public yang akhir-akhir ini jelas menentang LGBT. Hey, are you all ‘God’, knowing what is right and wrong? Karena standpoint saya, saya sering pun kejatuhan pertanyaan: “Coba kalau anak kamu yang gay, kamu sedih ga?” Dan sejujurnya saya berusaha jujur dan menghayati pertanyaan itu baik-baik. Jika anak laki2 saya satu2nya menjadi gay tentu saya akan sedih. Saya sedih karena saya tau jalan hidup anak saya akanlah berat. Banyak cemohan, ejekan, hujatan yang akan dia terima. Sebagai seorang ibu tentu itu membuat saya sedih. Tapi saya sedih bukan karena anak saya ‘sakit” atau ‘berdosa’ atau ‘sesat’ dan butuh diluruskan. Tidak, anak saya tetap penuh, utuh sebagai seorang manusia seutuhnya. Hanya karena anak saya lebih memilih pisang, ketimbang apel, apakah dia salah?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *