Tengku Zulkarnain, Memperburuk Citra MUI

13 January 2017 0 Comments

Bicara soal citra MUI adalah soal kontroversial. Banyak orang yang memganggap bahwa MUI itu lembaga yang baik, berisi orang-orang baik, yang memperjuangkan kepentingan umat Islam. Nah, salah satu perbedaan dalam cara memandang MUI memang pada soal apa itu kepentingan umat Islam.

Ada orang-orang Islam penganut prespektif korban. Bagi mereka, orang-orang Islam saat ini sedang dizalimi, dan terus dizalimi sejak dulu. Siapa yang menzalimi? Banyak pihak. Salah satunya adalah pemerintah yang dianggap tidak berpihak para Islam. Zaman Soeharto, ia sering dianggap sebagai musuh Islam. Di sekitar Soeharto banyak orang sekuler dan Kristen yang memusuhi Islam.

Megawati juga dianggap musuh Islam. Bahkan ia tadinya ditolak sebagai pemimpin, karena ia perempuan. Megawati adalah simbol kelompok abangan, dan lagi-lago dituding dekat dengan Kristen. SBY mungkin dianggap sedikit dekat dengan Islam, walau sering juga diaggap tidak ramah terhadap Islam. Jokowi mewarisi citra Megawati, ditambah berbagai citra negatif lain, misalnya tuduhan bahwa ia komunis, antek Cina, dan sebagainya.

Pendek kata, selalu saja ada musuh Islam. Ia ada di pemerintah, aparat penegak hukum seperti polisi, tentara, dan KPK, juga dari kalangan umat lain, khususnya Kristen. Polisi khususnya sering dianggap musuh Islam kalau polisi banyak  melakukan pekerjaan membasmi teroris. Lalu ada lagi pihak-pihak yang dianggap sekuler, liberal, juga berbagai kekuatan ekonomi, spesifiknha Cina, baik Cina daratan maupun Cina perantauan. Pokoknya, bagi mereka ini, musuh Islam itu sangat banyak dan ada di mana-mana.

Bagi orang-orang itu, MUI, khususnya saat ini, adalah lembaga yang berdiri di garis depan dalam pertarungan melawan musuh-musuh Islam. Artinya, MUI memiliki citra yang sungguh bagus di mata mereka. Itulah soalnya. MUI berdiri pada posisi menyuarakan aspirasi dalam sudut pandang Islam sebagai korban. Sikap itu menyebarkan pesan bahwa pihak lain, umat lain, adalah musuh-musuh Islam.

Tidak hanya itu. Cara pandang ini sangat kolokan. Ia menuntut pemakluman dan toleransi dari semua pihak, tanpa batas. Kami dizalimi, jangan mengeluh kalau kami begini. Kami mayoritas, ini hak kami. Kami ini benar, kalian salah. Agama kami sempurna. Pada posisi itulah MUI kini berdiri, kalau dilihat dari sudut pandang umat lain.

Tengku Zulkarnain, Wasekjen MUI adalah sosok ekstrim lagi dari posisi itu. Ia mengkomunikasikan posisinya secara vulgar. Bahasa yang ia pakai adalah bahasa jalanan. Ia mengutip ayat-ayat Quran untuk mendukung sikap kasar dan bahasa vulgarnya itu.

Majelis ulama. Ulama. Umat lain mengharapkannya sebagai lembaga yang sejuk. Terlebih umatnya paling besar. Ia diharapkan memberikan rasa aman. Tapi yang tampil justru sebaliknya. Ia adalah sosok menakutkan, yang segala tindak tamduknya harus dimaklumi, bila kita tak ingin keadaan menjadi lebih buruk. Tengku Zulkarnain adalah titik ekstrim dalam sosok itu.

Orang ini bisa jadi pemicu konflik. Kata-katanya mengusik orang lain. Orang membemcinya. Tapi ada yang menganggapnya sebagai wakil MUI, tidak hanya sosok pribadi. Bahkan wakil Islam. Usikan terhadap dirinya dianggap usikan terhadap Islam. Ditambah sikap kolokan yang sudah ada tadi, ini bisa memicu konflik besar. Saya berharap orang ini dijauhkan dari MUI. MUI sendiri harus berubah.

Tapi di luar sana banyak orang yang tidak setuju dengan saya. Mereka menganggap begitukah seharusnya MUI. Dan Tengku adalah sebenar-benarnya sikap.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *