Perempuan dengan Pilihan

2 February 2016 0 Comments

choceSaya pernah berkenalan dengan seorang perempuan, warga Kanada keturunan Vietnam. Ia ibu dari seorang anak, seorang wanita karir. Ia bekerja sebagai GM HRD di sebuah perusahaan elektronik besar. Suaminya seorang psikolog, saat kami berkenalan sedang menyelesaikan sekolah doktoral.

Beberapa waktu setelah perkenalan itu, ia mengirim surat. Ia bercerita bahwa ia memutuskan untuk berhenti bekerja. “Saya memutuskan untuk berhenti bekerja. Saya ingin menghabiskan lebih banyak waktu untuk anak saya, dan mendukung studi dan karir suami saya.” Bagi kami itu berita gembira. Beberapa waktu kemudian lagi ia mengirim kabar lagi. “Kami sekeluarga pindah ke Taiwan. Suami saya diangkat sebagai profesor di sebuah universitas di sana.” Selamat.

Istri saya sebaliknya. Ia waktu masih lajang bekerja, kemudian memutuskan untuk berhenti saat kami menikah. Alasan utamanya, karena harus ikut saya ke Jepang. Ada beberapa teman saya yang juga begitu, meski tidak pindah tempat tinggal seperti kami. Mereka memilih berhenti atau tidak bekerja saat menikah.

Setelah anak-anak tumbuh besar, istri saya mulai mencari-cari jalan untuk bekerja, atau berbisnis. Saat ini aktivitasnya masih terbatas pada beberapa kerja sosial seperti mengajar anak-anak di mesjid. Teman-teman yang saya sebutkan di atas mulai merintis lembaga konsultasi psikologi. Kebetulan mereka memang dari jurusan tersebut.

Nasib malang. Dua orang teman saya tadi mendapat musibah. Suami-suami mereka meninggal di usia muda. Satu meninggal dalam kecelakaan kerja. Satu lagi karena sakit. Saat suasana duka yang mendalam mulai harus ditinggalkan, saya berbincang lewat telepon dengan salah satu teman saya tadi. “Aku harus cari kerja, Mas,” katanya mantap.

Ada banyak pola soal wanita dan kerja. Tidak ada satupun dari berbagai pola itu yang salah atau boleh disalahkan. Semua hanya pilihan belaka, dan setiap pilihan punya konsekuensi. Maka setiap orang harus bertanggung jawab untuk memikul konsekuensi atas pilihannya itu. Perempuan-perempuan harus diberi kebebasan untuk memilih, dan bertanggung jawab atas pilihan itu. Tentu saja dengan dukungan dari suaminya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *