Penjajahan dan Kaca Mata Sejarah

22 June 2016 0 Comments

OttomanMap1700

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Apakah penjajahan itu? Definisinya bisa rumit. Sebaiknya kita mulai saja dengan kolonialisasi. Kolonialisasi adalah penguasaan suatu wilayah, yang bukan wilayah negeri sendiri, untuk mendapatkan manfaat (eksploitasi) sumber daya alam, sumber daya manusia, maupun posisi geografisnya.
 
Frase “yang bukan wilayah sendiri” itu agak rumit. Berbagai wilayah di Eropa misalnya, silih berganti penguasa sepanjang sejarah, baik karena ekspansi maupun akibat runtuhnya suatu kekuasaan secara internal. Jadi, mendefinisikan “wilayah sendiri” tadi menjadi rumit, karena setiap wilayah yang ditaklukkan tentu menjadi wilayah sendiri. Tapi baiklah kita sampingkan dulu kerumitan itu.
 
Intinya, kolonialisasi adalah penguasaan suatu wilayah. Orang-orang Eropa menguasai wilayah-wilayah Afrika, Asia, Amerika, dan Pacific, selama beberapa abad sejak abad pertengahan hingga abad ke 20. Kita menyebutnya zaman kolonial, atau zaman penjajahan. Yang sering luput dari kesadaran kita adalah bahwa yang melakukan kolonialisasi itu bukan hanya Jerman, Spanyol, Inggris, Perancis, Belanda, dan Portugis saja, tapi juga Turki!
 
Coba perhatikan peta wilayah kekuasaan Turki Usmani sebelum Perang Dunia II. Wilayahnya meliputi sejumlah negara Eropa (kini) di antaranya Hungaria, Rumania, Bulgaria, dan Yunani. Pusatnya ada di perbatasan Asia-Eropa, yang kini masih menjadi negara Turki. Ia meliputi pula wilayah Georgia dan Azerbaijan. Kemudian di Asia, meliputi Syiria, Yordania, Irak, dan Semenanjung Arab. Ini masih ditambah lagi dengan Afrika utara, yaitu Mesir, Libiya, dan Maroko.
 
Ketika membahas kolonialisasi kita sering melupakan Turki. Mungkin karena mereka tidak datang ke negeri kita. Tapi bisa juga karena Turki itu Islam. Dalam retorika sejarah umat Islam, Islam tidak pernah menjajah. Yang dilakukan Islam adalah membebaskan, meluaskan dakwah Islam. Maka serbuan Umayyah hingga ke Spanyol dikenang dengan bangga. Demikian pula, kuasa Turki yang demikian luas tidak disebut sebagai kolonialisme. Pada saat kita mengutuk penjajahan Belanda atas nusantara, sebagian dari kita dengan bangga bicara soal luasnya kekuasaan Turki Usmani.
 
Pemberontakan Arab atau Arab Revolt (orang Turki menyebutnya Arap isyani) adalah pemberontakan yang dipimpin oleh Sherif Hussein bin Ali, di wilayah Arab. Ia ingin membebaskan wilayah itu dari kekuasaan Turki, dan mendirikan negara sendiri yang merdeka. Sherif menuduh Turki menodai kesucian tanah Islam, sebaliknya Turki menuduh dia melawan kekuasaan suci khilafah Islam.
 
Pemberontakan ini sebenarnya tidak banyak berbeda dengan berbagai pemberontakan di tanah air sepanjang masa pendudukan Belanda. Uniknya, lagi-lagi, kita menganggap pemberontakan di tanah air sebagai perjuangan heroik melawan penjajah, sementara ada kalangan dalam Islam menganggap pemberontakan berbasis nasionalisme Arab terhadap Turki itu adalah pemberontakan haram. Tidak sedikit ulama Islam yang kemudian mengharamkan nasionalisme karena ini.
 
Sherif memenangkan pemberontakan ini dengan bantuan Inggris. Ia sempat berkuasa di situ sampai tahun 1925, meski kekuasaannya sebenarnya terbatas. Inggris cenderung menduking keluarga Saud, yang kemudian mendirikan kerajaan Saudi Arabia, yang bertahan hingga kini.
 
Kita saksikan bahwa sejarah menjadi demikian absurd kalau kita tidak menggunakan kaca mata yang adil dalam melihatnya. Dengan sejarah, kita menipu diri kita sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *