Penghapusan Perda Miras

21 May 2016 0 Comments

miras
Perda miras dihapus. Lalu orang-orang yang merasa memegang kunci surga dan memiliki kapling di dalamnya ribut memaki pemeritahan Jokowi. Jokowi katanya sedang menghancurkan akhlak bangsa dan merusak generasi muda.
 
Saya hanya ingatkan lagi bahwa meski penduduknya 85% beragama Islam, negara ini bukan negara Islam. Miras dijual di negara yang bukan negara Islam, itu wajar saja. Tidak perlu dibuat heboh. Yang perlu dilakukan oleh orang Islam adalah, jangan beli dan jangan minum. Jaga anak dan keluarga Anda agar tidak beli dan tidak minum. Sulit? Tidak. Masak gitu aja sulit.
 
Bagaimana dengan dampak miras? Dampak apa?
 
1. Kecelakaan. Ini memang harus diatur. Yang berkendara tidak boleh minum. Yang minum tidak boleh bekendara. Yang melanggar dikenai sanksi berat.
 
2. Kesehatan. Sama seperti banyak barang konsumsi lain, minuman keras punya resiko bagi kesehatan. Demikian pula rokok. Bahkan nasi padang juga punya resiko bagi kesehatan. Maka setiap orang dituntut untuk bijak dalam mengkonsumsinya. Tidak perlu campur tangan pemerintah untuk mengatur hal-hal ini.
 
Tapi bagaimana dengan yang tewas minum miras oplosan? Miras oplosan itu sudah tidak bisa lagi disebut minuman. Itu racun. Pembuanya mencampurkan metahnol (yang memang beracun), dengan obat nyamuk dan obat luka. Mereka tidak sedang meracik minuman, tapi meracik racun. Racun begini tidak masuk dalam pengaturan soal minuman keras.
 
3. Kejahatan. Adakah hubungan antara alkohol dengan kejahatan? Ini hal yang kontroversial. Ada banyak kejahatan yang dilakukan orang di bawah pengaruh alkohol. Tapi apakah alkohol penyebab terjadinya kejahatan? Fakta lain menunjukkan bahwa tanpa alkohol pun kejahatan terjadi. Apa maknanya? Orang-orang yang melakukan kejahatan memang berniat melakukan kejahatan. Bukan alkohol yang membuat mereka menjadi punya niat. Alkohol hanyalah bumbu kecil bagi tindak kejahatan.
 
Fakta lain juga, negara-negara yang tingkat kejahatannya rendah seperti Singapura dan Jepang tidak melarang alkohol.
 
4. Moral. Masih begitu banyak orang yang mengaitkan alkohon dengan moralitas. Tidak ada kaitan sama sekali. Orang minum alkohol mungkin ada yang bejat. Sama halnya dengan orang yang rajin salat, juga ada yang bejat. Keduanya tidak saling berhubungan.
 
5. Generasi muda. Alkohol adalah barang yang boleh dikonsumsi oleh orang dewasa. Kalau ada anak-anak mengkonsumsi alkohol, kesalahannya bukan pada regulasi mana pun. Itu adalah produk pelanggaran regulasi.
 
Apakah pencabutan Perda ini berarti peredaran alkohon tidak diatur lagi? Itu kesalahan umum yang dikampanyekan kaum penghuni surga. Tidak demikian. Aturan tetap ada. Hanya saja tidak akan ada pelarangan total. Yang ada adalah pembatasan.
 
Apakah ini bermakna legalisasi alkohol? Tidak juga. Sejak dulu alkohon sudah legal kok. Hanya orang-orang itu saja yang membuat citra seolah alkohol itu ilegal.
 
Apa yang terpenting pada keputusan ini? Semua Perda itu dicabut karena menyalahi aturan yang lebih tinggi. Ini adalah pemberontakan terhadap konstitusi secara senyap. Atas nama syariat ada sekelompok orang yang merasa bahwa pengabaian terhadap konstitusi boleh dilakukan. Ini tidak boleh dibiarkan.
 
Masalah terbesar pada sebagian umat Islam adalah komitmen mereka pada NKRI. Tidak sedikit di antara umat Islam yang enggan mematuhi aturan negara, karena menganggapnya bukan aturan dari Allah. Sepertinya itulah yang ada di benak politikus perumus Perda tadi. Langgar saja aturan yang lebih tinggi, abaikan saja konstitusi, karena kita sedang menegakkan perintah Allah.
 
Sikap pemerintah ini adalah penegasan terhadap tegaknya konstitusi NKRI. Jangan boleh ada pihak yang merasa berhak melawan konstitusi, meski secara diam-diam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *