Pemimpin dan Kesalahan Bawahan

22 March 2016 0 Comments

sfat

 

 

 

 

 

 

 

Pemimpin dan Kesalahan Bawahan
 
Waktu mulai bekerja sebagai orang pabrik, saya merekrut karyawan baru. Ia baru lulus kuliah. Saya didik dia sampai menjadi karyawan yang terampil. Suatu hari dia minta bicara dengan saya di ruang rapat.
 
“Ada apa?”
 
“Maaf, Pak. Saya melakukan kesalahan.”
 
“Ada apa, sih?”
 
Lalu dia bercerita. Izin kegiatan maklon di perusahaan kami (kawasan berikat) sudah kadaluwarsa. Tidak tanggung-tanggung, masa berlakunya sudah lewat hampir 6 bulan. “Dulu kan izinnya untuk 1 tahun, Pak. Waktu izin baru ini keluar, saya otomatis aja menganggap izin ini juga berlaku 1 tahun. ternyata cuma 6 bulan. Saya baru sadar sekarang,” katanya. Lalu dia mulai menangis.
 
Saya diam sejenak. Ini persoalan gawat. Sebagai kawasan berikat, ini bisa masuk kategori pelanggaran berat. Kami mengeluarkan dan memasukkan barang tanpa dokumen yang sah. Status kawasan berikat beserta fasilitasnya bisa dicabut.
 
Tapi siapa yang salah? Staf saya teledor. Tapi saya juga. Sebagai direktur sayalah yang menandatangani setiap dokumen keluar masuk barang, yang dilampiri dengan izin pekerjaan maklon tadi. Secara hukum sayalah yang paling bersalah. Tapi orang-orang di kantor Bea dan Cukai juga salah. Mereka seharusnya memeriksa juga. Tapi seperti saya, dokumen-dukumen ini cuma dianggap sebagai rutinitas, sehingga kebanyakan orang asal tanda tangan saja.
 
Staf saya tadi sudah ketakutan karena merasa melakukan kesalahan besar. Ia sudah menangis sejak bercerita tadi. “Kamu salah, tapi saya juga salah. Kesalahan terbesar ada pada saya. Jadi, saya yang akan tanggung jawab. Saya akan membereskannya,” kata saya menghibur. Entah kenapa, ia malah mulai menangis lebih keras.
 
Kesalahan ini kemudian saya bereskan. Saya langsung menemui kepala kantor pelayanan Bea dan Cukai. Akhirnya kami kena sanksi, tapi tidak berat. Kami semua lega.
 
Begitulah. Banyak pemimpin yang dengan enteng menyalahkan bawahan bila terjadi kesalahan. Dalam suatu rapat bulanan di grup perusahaan kami, sempat terjadi diskusi soal SDM. Beberapa presiden direktur mengeluhkan bawahannya yang lambat, tidak punya inisiatif, dan tidak kreatif dalam bekerja. Intinya, mereka ini jelek. Tapi para presiden direktur ini sepertinya lupa bahwa tugas untuk membina bawahan terbeban juga di pundak mereka. Kalau kinerja bawahan jelek, artinya pembinaan oleh sang pemimpin juga jelek.
 
Itu dilakukan oleh para pemimpin nasional. Presiden mengeluh bahwa menteri tidak bekerja dengan baik. Lha, bukankah presiden adalah pemimpin mereka,yang dulu memilih mereka, dan berhak mengganti bila mereka tidak bekerja dengan baik? Lalu menteri mengeluhkan dirjen, dirjen mengeluhkan direktur. Begitu seterusnya. Jarang ada pemimpin yang berani berkata,”Kesalahan terbesar ada pada saya.”
 
Saya menganggap setiap kesalahan yang dibuat oleh bawahan, saya ikut andil di dalamnya. Boleh jadi andil saya lebih besar. Kalau bawahan saya itu kebetulan seorang perempuan cantik, maka biasanya saya akan menanggung semua kesalahannya, 100%! Saya harap para pemimpin mau belajar dari saya.
sumber foto: irish time

One thought on “Pemimpin dan Kesalahan Bawahan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *