Pemaknaan Sejarah

5 July 2016 0 Comments

QS 9:29 “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.”

Pemaknaan literal atas ayat di atas dan ayat-ayat senada dilakukan oleh ISIS. Mereka membunuhi orang-orang non-muslim, serta orang-orang muslim yang mereka anggap kafir. Mereka lakukan persis sesuai apa kata ayat di atas secara literal.

Pemaknaan kontekstual menyatakan bahwa perang atau pembunuhan (qitaal) terhadap orang-orang kafir (hanya) dibenarkan bila dipenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat tersebut berbeda-beda, tergantung siapa yang merumuskan. Ada yang mengatakan bahwa orang-orang kafir hanya boleh diperangi bila mereka melakukan kezaliman terhadap umat Islam. Tapi ada juga yang membenarkan serangan ofensif atas nama menyebarkan Islam, menegakkan kalimah Allah di muka bumi.

Dalam sejarah, perang ofensif telah banyak dilakukan umat Islam. Pada zaman Umar Islam tak lagi sekedar berkutat di Madinah, namun telah pergi jauh menaklukkan Palestina dan Persia. Di masa Bani Umayyah kekuasaan Islam bahkan telah melebar sampai ke Afrika Utara dan Spanyol. Meski kelihatannya kontekstual, yang dilakukan oleh umat Islam ketika itu tak banyak melenceng jauh dari makna literal ayat di atas. Taklukkan mereka sampai mereka beriman, atau membayar jizyah.

Bagi saya ayat ini hanya catatan sejarah saja. Ini adalah perintah semasa, masa saat itu. Masa ketika orang masih suka berperang dan menyelesaikan masalah dengan perang.

Coba kita lihat lagi catatan sejarah. Pada masa itu orang Islam tidak hanya memerangi orang kafir. Antar mereka sendiri pun mereka berperang. Ketika ada yang enggan membayar zakat, Abu Bakar memeranginya. Ketika tak setuju dengan Ali, Aisyah mengangkat senjata. Ali dan Muawiyah berperang memperebutkan tahta kekhalifahan. Selanjutnya Yazid mengirim pasukan menyerbu Madinah dan Mekah. Ia juga kemudian mengirim pasukan untuk membantai cucu nabi.

Kini kita sebagai manusia modern tak perlu lagi bersikap seperti itu. Ketika kita berselisih wilaya dengan Malaysia, kita bisa selesaikan dengan berunding. Masalah Aceh dan Timor Timur pun akhirnya selesai dengan perundingan, bukan perang.

Yang lebih penting dari itu, tak boleh ada lagi perang atas nama agama. Agama tidak punya keperluan untuk mengobarkan perang. Orang tak boleh lagi diperangi karena imannya. Mereka juga tidak boleh diperlakukan berbeda (diskriminasi) hanya karena berbeda agama dengan penguasa, seperti dikenai pajak khusus (jizyah). Sistem seperti ini tak boleh lagi wujud di zaman modern ini.

Itulah cara pemaknaan sejarah terhadap ayat-ayat suci.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *