Pekan Raya Pemilu

23 March 2016 0 Comments

pemilu

Saya kebetulan punya banyak kawan di dunia politik. Ada pemain politik praktis, anggota DPR baik pusat maupun daerah. Ada pula beberapa kepala daerah. Bahkan ada yang jadi menteri. Di luar itu ada pengurus dan aktivis partai. Lalu ada satu kelompok lagi, makelar politik. Sesekali saya berkumpul dengan mereka, berbincang saja. Banyak gosip politik yang dibahas, soal siapa ingin jabatan apa, bagaimana pertarungannya, dan seterusnya.

Menariknya, kawan-kawan saya itu datang dari berbagai kubu politik, dan mereka bisa duduk bersama. Tentu saja ada yang benar-benar bermusuhan. Tapi kebanyakan akur-akur saja. Kami bisa berbincang santai, saling ejek, lalu tertawa terbahak-bahak.

Dari berbagai perbincangan saya dengan para pelaku politik itu saya menyimpulkan bahwa pemilihan umum itu, baik di tingkat pusat maupun daerah, untuk eksekutif maupun legislatif, adalah sebuah pekan raya. Apa yang dilakukan orang di pekan raya? Berdagang. Di pekan raya orang menjual segala macam benda dan jasa. Ada yang berdagang kitab suci, tapi di pojok sana orang menjual minuman keras. Tujuannya untuk apa? Cari duit.

Apakah Anda mengira pedagang kitab suci di pekan raya itu sedang berdakwah? Saya tidak. Kalau mereka sedang berdakwah, mestinya kitab itu dibagikan gratis saja. Kalau pun ada niat dakwah, itu sampingan saja sifatnya. Tujuan mereka sama dengan penjual bir di pekan raya itu, sama-sama cari duit. Begitu pula dengan para politikus itu. Kita kadang mengira mereka mau begini dan begitu, tapi tujuan yang paling dasar bagi mereka adalah mendapat kekuasaan. Kekuasaan itu biasanya berkorelasi pula dengan uang.

Mendapat suara dalam pemilu itu ibarat memilih produk yang mau dijual. Calon pembeli dianalisa, apa keinginan mereka, lalu dicarikanlah produknya. Dalam hal politik, hasrat calon pemilih dianalisa, lalu dirumuskanlah strategi kampanye. Jadi apapun isu yang disampaikan oleh para politikus itu, tujuannya cuma satu: meraup dukungan sebanyak-banyaknya.

Di belakang para pedagang pekan raya ada para produsen serta makelar. Mereka membuatkan atau mencarikan produk untuk dijual di pekan raya. Mereka juga tidak pilih-pilih. Tidak pilih-pilih produk, juga tidak pilih-pilih kepada siapa mereka menjualnya. Dalam politik pun begitu. Ada banyak makelar politik yang biasanya diberi nama mentereng, konsultan politik. Mereka berpindah-pindah dari satu kubu ke kubu lain, tergantung kecocokan harga saja.

Lalu siapa kita? Kita adalah pembeli, dengan hak suara di tangan kita. Ada yang tertarik membeli kitab suci, karena memang butuh. Ada pula orang-orang yang membeli makanan, pakaian, atau hiburan, sesuai keinginan dan kebutuhan. Itu adalah hal-hal yang alami saja di sebuah pekan raya.

Adakah yang membeli kitab suci dengan mengira bahwa penjual kitab suci itu sedang berdakwah, dan menganggap membeli barang dagangannya adalah ibadah? Mungkin ada, tapi tidak banyak. Mudah-mudahan tidak ada yang mengajak orang-orang membeli kitab suci, sambil mencela orang yang membeli makanan, pakaian dan hiburan.  Kalau ada, mungkin dia sedikit sakit jiwa.

Begitulah. Politik dan pemilihan umum itu hanyalah sebuah pekan raya belaka. Dalam banyak kasus ia sebenarnya lebih buruk dari pekan raya. Orang-orang membelanjakan hak suaranya tapi tak mendapatkan kebutuhannya. Kenapa begitu? Ada yang menjual barang jelek, tapi diiklankan dengan bagus. Ada pula yang membeli barang berdasarkan iman. Ia membeli kitab suci meski sudah punya begitu banyak kitab suci di rumahnya. Para pedagang dan makelar meraup untung, kita kehilangan uang (hak suara) secara sia-sia.

Jadi, mari nikmati saja pekan raya bernama pemilihan umum itu. Belanjakan hak suara kita berdasarkan kebutuhan kita, dan biarkan orang lain membelanjakannya sesuka mereka. Tapi ingat, jangan sampai tertipu. jangan sampai pemilihan umum itu jadi pemilu, pembuat pilu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *