PAUD, untuk Apa?

5 March 2016 48 Comments

DSC_0512

Ketika pulang ke Indonesia awal tahun 2007 anak saya yang pertama baru berusia 5 tahun, masih di TK. Sebelumnya dia masuk TK di Jepang. Pulang ke tanah air saya masukkan dia ke TK Islam di dekat rumah kami. Setelah mengetahui bahwa kami dari Jepang, guru TK yang saya temui berkomentar, “Kami bisa terima anak Bapak. Tapi harap maklum kalau nanti dia tidak bisa mengejar ketertinggalan pelajaran.”
 
“Maksudnya bagaimana?” tanya saya.
 
“Teman-teman sekelasnya sudah maju dalam pelajaran, seperti hafalan surat-surat pendek dan doa. Kami tidak bisa menjamin bahwa dia akan bisa mengejar ketertinggalannya.”
 
Saya jawab bahwa bagi saya hafalan itu tidak penting. Saya tidak berharap anak saya belajar di TK. Saya berharap dia bermain dan menikmati masa kecilnya.
 
Lalu giliran anak kedua saya Ghifari masuk TK. Tiap akhir caturwulan guru TK Ghifari selalu menyodorkan rapor, rekaman kemajuan anak saya itu. Dia menunjukkan poin-poin di mana anak saya masih perlu meningkatkan diri. Lagi-lagi soal pelajaran. Dan tiap kali juga saya jelaskan bahwa bagi saya itu tidak penting. Saya malah tidak ingin anak saya diajari berbagai hal, seperti membaca dan berhitung, karena itu belum perlu.
 
Saya masih ingat bagaimana Mendikbud Fuad Hasan marah ketika tahu banyak TK yang mengajarkan anak-anak membaca dan menulis. Menurut beliau itu berlebihan karena pendidikan anak usia dini tidak untuk itu. Saya setuju dengan pendapat Pak Fuad itu.
 
Tapi guru-guru TK juga terjepit oleh tuntutan orang tua murid. Orang tua menuntut agar TK mengajarkan baca tulis. Alasannya, ujian masuk SD sudah mengharuskan anak-anak yang hendak masuk SD bisa baca tulis. Tak sedikit orang tua yang menyuruh anaknya ikut les baca tulis di sore hari.
 
Menghadapi suasana ini saya terkenang pada TK tempat Sarah bermain selama setahun di Jepang. Setiap pagi saya mengantar Sarah. Beberapa kali saya juga hadir dalam berbagai kegiatan yang melibatkan orang tua. Jadi sedikit banyak saya tahu tentang seluk beluk kegiatan di situ.
 
TK di dekat rumah kami berupa sebuah bangunan sederhana, dengan tiga ruang kelas, satu aula, dan halaman yang luas. Luas halaman nyaris sama dengan luas gedung. Untuk ukuran Jepang di mana harga tanah sangat mahal, ini luar biasa mewah. Di halaman itulah anak-anak bermain.Kegiatan di kelas dimulai jam 8.30. Banyak anak yang sudah datang sebelum jam 8. Mereka bermain bebas di halaman.
 
Saya biasanya mengantar Sarah sekitar jam 8. Masuk ke gerbang, lalu berganti sepatu yg khusus untuk dipakai di dalam ruangan di pintu masuk (genkan). Menarik bahwa di titik itu guru biasanya menyambut sambil mengucapkan salam. Biasanya saya membawakan tas Sarah. Di titik itu gurunya mengambil tas itu dari tangan saya, lalu memindahkannya ke Sarah. Dia harus membuka sepatu sendiri, meletakkannya di tempat sepatu, dan menggantinya dengan sepatu khusus untuk di ruangan. Lalu dia juga harus pergi sendiri ke tempat menyimpan tas dan jaket, menaruh semuanya di situ. Anak-anak diajar mandiri sejak masuk genkan.
 
Kelas adalah sebuah ruangan kecil dan sederhana. Ada bangku-bangku kecil, mainan, dan berbagai hasil pekerjaan anak-anak. Yang menonjol adalah adanya piano. Setiap kelas ada satu piano. Dan setiap guru mahir bermain piano. Aba-aba mengajak anak-anak duduk atau berdiri menggunakan irama piano. Hal pertama yang dilakukan dikelas adalah menyangi dengan iringan piano.
 
Kegiatan di TK berlangsung hingga jam 11.30. Selama itu anak-anak bermain, menyanyi, mendengarkan dongeng, dan sejenis itu. Tak ada saya lihat alat peraga angka-angka atau huruf yang menunjukkan bahwa anak-anak diajari pelajaran. Pelajaran yang terasa menonjol adalah pelajaran bersikap. Pelajaran mandiri.
 
Anak-anak diajari untuk menata sendiri bangku-bangku mereka. Juga mengembalikan alat/mainan ke tempat semula setelah digunakan. Membuang sampah dengan benar, juga membersihkan kotoran yang terlihat. Semua dilakukan sambil bermain.
 
Suatu saat ada kegiatan hari Kartini di sekolah Ghifari. Anak-anak diberi hadiah berupa makanan kecil dan minuman. Tapi saya tak melihat ada tempat sampah di situ. Anak-anak makan lalu membuang bungkus makanan sembarangan. Sampah bertebaran di mana-mana.
 
Saya dekati salah satu guru Ghifari. “Bu, kenapa tidak disediakan tempat sampah? Bukankah ini momen yang penting untuk mengajari anak-anak membuang sampah dengan benar?” protes saya.
 
“Oh, ada kok, Pak. Ini dia,” katanya sambil menunjukkan sebuah kardus yang tertutup. Tidak ada tulisan yang menunjukkan bahwa itu tempat sampah. Juga tidak ada yang mengingatkan anak-anak untuk membuang sampah di situ. Saya ambil kotak itu, saya kumpulkan sampah-sampah yang bertebaran, lalu saya masukkan ke kotak itu. Tak ada orang lain yang peduli dengan apa yang saya lakukan.
 
Apa sebenarnya yang kita harapkan dari pendidikan anak-anak kita di usia dini?
 

48 thoughts on “PAUD, untuk Apa?”

  1. Lain ladanglain belalang kata pepatah. Saya sbg orang Ind juga tidak setuju dng cara pendidikan di TK yg hrs bisa baca tulis. Anak anak di tingkat TK harusnya diberi kesempatan bermain bernyanyi dan kreatifitas utk mandiri. Ibu saya dulu juga guru TK di thn 60 an, murid2 nya diajari menyanyi, membuat topi dr koran bekas yg dihiasi kertas krep w arna warni. Guru menyediakan lem, gunting dsbnya. Pd prinsipnya saya tidak setuju di TK diajari baca tulis seperti di SD saja. Jadi menurut saya pendidikandi Ind tidak punya konsep yg jelas. Hanya mengejar target entah target apa?

  2. Saya pribadi sependapat dengan Bapak dan menurut saya memang PAUD adalah wadah pendidikan mental, komunikasi dan kedisiplinan anak, bukan utk belajar baca-tulis-hitung. Waktu kecil dulu saya ingat bahwa SD adalah tempat anak belajar baca-tulis-hitung. Namanya juga sekolah dasar, yah disitulah belajar dasarnya. Selama ini anak-anak kita dipusingkan oleh sekolah lokal yang sok menerapkan model pendidikan luar padahal orang luar blm tentu begitu modelnya (contoh yg bapak alami di Jepang). Dan yg lbh herannya, para guru kita menuntut perbaikan gaji namun pekerjaannya malah dikurangi. Sudah hal yg biasa jika kita tanya pada anak kita perihal PR apakah dijelaskan oleh gurunya maka mereka menjawab tidak ada dijelaskan guru, hanya menyuruh kerjakan halaman sekian, titik. Lalu utk apa mereka digaji kalau hanya memerintah begitu saja. Ada alasan dari kalangan guru bahwa hal itu terjadi karena model pendidikan saat ini menuntut para murid utk mencari sendiri jawabannya. Kalau memang begitu maka utk apa ada guru ? Berikan saja buku pelajaran itu pada murid dan biarkan mereka bersama orangtuanya mencari sendiri jawabannya. Maka berkenan dgn hal itu sepantasnya jumlah guru dikurangi. Bagaimana ? Apakah anda dari kalangan guru bersedia di PHK ? Tentu jawabannya tidak. Oleh sebab itu kembalilah ke patron semula. Guru adalah pengajar dan pembimbing bukan penyuruh mengerjakan PR saja. PAUD adalah wadah anak usia dini bermain dan belajar komunikasi, mental dan disiplin. SD adalah wadah belajar dasar. Dst.

    1. Saya rasa anda terlalu mengecam guru. Masih banyak guru yg bnr2 mengorbankan waktu dan uangnya yg tidak seberapa demi anak didiknya.

      Dalam 1 kelas ada puluhan siswa, apa puluhan orangtua, ada puluhan pemikiran dan pendapat. Ada yang menganggap PR kebanyakan, PR terlalu sedikit, bahan yg diajarkan terlalu susah, bahan yg diajarkan terlalu mudah. Mengenai PR harusnya sudah diajarkan gurunya saat di kelas.

      Satu orang guru dituntut untuk memenuhi itu semua oleh sekolah dan juga orangtua.

      Saya juga mantan guru, apa saya tidak sayang murid2 saya? Saya sering memberikan pelajaran tambahan tanpa dibayar sampai sore ( kerja dr jam 7 sampai jam 5/6 sore biasanya ), sering mencari hal baru yg dpt memotivasi murid saya dlm belajar ( Buat piala satunya plg murah 20.000, anak saya ada puluhan dan saya pastikan hampir semua dapat, walaupun dgn penghargaan yg beragam, karena benar2 bisa memotivasi mereka dlm belajar. Beli hadiah yg walaupun tidak seberapa, tapi dihitung2 jg lumayan. Belajar metode dr guru yg lain, cari2 hal baru yg menarik di waktu luang, etc ).

      Tapi di lain pihak, saya dikecam untuk mengikuti kurikulum sekolah, saya protes ke koordinator saya untuk mengganti buku yg lbh mudah dan membagi kelas sesuai level anak, tapi saya dimarahi dan diharuskan tetap mengikuti kurikulum sekolah.

      Saya dikecam dan disalahkan oleh orangtua, bahan yg saya ajarkan tidak sesuai level, saya turunkan levelnya, kemudian saya dikecam oleh orangtua yg menganggap itu terlalu mudah. Akhirnya saya dalam satu kelas, harus mengajar materi yg sama, tapi memberikan tugas, penjelasan yg berbeda kepada 3 level anak. Jadi yg harus saya persiapkan setiap harinya 3 level, kenapa? Saya dituntut oleh pihak sekolah, pihak orangtua, dan saya juga ingin anak saya bisa.

      Saya seorang guru juga wali kelas, saya harus bisa menyelesaikan berbagai masalah dgn bijak. Saya guru bahasa mandarin, tapi saya juga dituntut untuk mengerjakan project science, music and art, english dan lain2nya. Saya harus dekorasi kelas dengan budget minim sehingga saya harus mengeluarkan uang dari gaji saya sendiri.

      Saya harus memastikan murid2 aman saat bermain dgn menjaga lapangan dan kantin saat istirahat, memastikan mereka mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, memastikan mereka mendorong kursi mereka setelah mereka pakai, ikut bersih2 kelas dan karena namanya anak2 yg jarang bersih2 di rumah jadi kelas masih kotor sehingga saya yg harus ngepel sampai bersih ( dicek kepsek ). Kalau cover di TK, saya harus bantu mengantar anak ke WC. Oh, dan ini semua hanya sebagian kecil tugas saya. Saat mengajar saya harus berdiri tegap, jarang sekali saya duduk, saya harus jalan mondar-mandir untuk memeriksa pekerjaan anak (sekarang punggung sampai pinggul saya suka sakit karena berdiri berjam2 ). Kalau SD yg kecil saya harus bisa menari, menyanyi, melawak, bercerita sambil mengajar (saya sering sakit tenggorokan karena harus memakai mulut saya selama berjam2 setiap harinya, wajar kalau byk guru yg kena penyakit di tenggorokan). Sepulangnya dr sekolah, saya harus tetap berkomunikasi dgn orangtua yg menanyakan PR dan lain sebagainya ( kadang dpt telepon jam 9/10 malam ).

      Sebenarnya masih banyak guru yg lain yg spt saya dan guru2 yg lebih jauh lg perbuatan mereka, seperti menemani dan mengantarkan muridnya yg kls 1SD yg lupa dijemput jam 6 sorean. Guru2 sokola rimba yg terjun langsung ke hutan rimba untuk mengajar anak2 rimba. Masih banyak hal lainnya lg yg tdk perlu saya sebutkan satu2.

      Yah, kami memang digaji untuk mengajar. Saya sudah lbh beruntung karena gaji saya masih terbilang cukup untuk anak murid dan juga untuk orangtua saya. Tapi masih byk guru yg berdedikasi tapi dengan gaji yg kecil. Teman kakak saya guru yg bergaji hanya 1.5 juta per bulan, tiap akhir semester masih suka beliin mainan dan hadiah lucu buat anak2 muridnya. Kami guru lokal, otomatis gaji kami jauuuuuuuh di bawah guru expat. Kami guru lokal, jadi tanggung jawab dan beban yg kami tanggung jauuuuuh lebih berat. Kami guru lokal, jadi dianggap lebih bodoh dibanding expat. Tapi apa kami2 pernah mengeluh? Boro2 ngeluh, ada juga nanti malah dibilang dan dinilai yg nggak2. Guru expat juga ada yg bnr2 berdedikasi sama anak muridnya, koordinator saya juga hampir tiap hari pulang sore sama saya ( sama2 ngejar koreksian dan prepare bahan ). Koordinator math kami yg org India juga tiap hari tumpukan PRnya banyak, masih bantu koreksi punya anak buahnya lagi ( itu sih ank buahnya yg stress n kagok ndiri liat kerjaan di skul kami spt apa :p ).

      Saya membabarkan hal2 yg saya sebutkan di atas agar anda dapat mengerti, jangan menyalahkan profesi seorang guru. Saya ini bukan apa2, hanya guru yg msh punya banyak sekali kekurangan dan masih harus belajar banyak. Dan walaupun saya bukan guru saat ini, tapi saya paling senang dengan profesi ini. Saya sangat sayang dan kangen anak2 murid saya. Yang saya perbuat untuk mereka saya rasa memang tidak ada apa2nya dan masih banyak kekurangannya. Rasa sayang yang mereka berikan untuk saya yang menurut saya sangat-sangatttt berharga. Karena saya tahu masih byk guru yg berhati mulia yg sangat berdedikasi untuk dunia pendidikan, dan saya selalu berharap mereka dapat bertemu dengan guru2 tersebut.

      Maaf apabila tulisan saya ini tidak berkenan. Sayapun berharap agar dunia pendidikan di dunia tidak hanya berpatok terhadap nilai semata akan tetapi melupakan moral yg plg penting yg dapat membentuk suatu kepribadian anak.

      Terima kasih.

      Salam dari saya, mantan guru yang apa adanya 😀

      1. Ibu guru wen yang baik, ijinkan saya berkomentar. Menurut saya ibu salah memahami apa yang ditulis kang hasan di atas. Sama sekali saya kira tidak menilai guru atau bahkan merendahkan guru. Yang dikritisi itu sistem pendidikannya. Banyak guru yang dedikasinya luar biasa yang sangat peduli pada anak didiknya. Itu sangat sangat kita hargai dan hormati.
        Yang tidak tepat itu menurut saya sistem pendidikan kita sekarang ini. Buktinya apa? Buktinya saya. Saya bisa dibilang murid yang sukses dalam pelajaran sekolah. Saya sangat senang belajar. Karena menurut saya itu sesuatu yang harus dikerjakan, suatu kewajiban. SD, SMP, SMU saya lewati dengan mulus. Hampir selalu berada di 10 besar peringkat kelas.
        Saya kemudian masuk ke universitas. Jurusan arsitektur UI. Hari pertama yang dikatakan dosen saya sangat mengganggu saya. Dia bilang: apa saja yang sudah kalian pelajari selama ini, selama SD, SMP, SMU, lupakan semuanya. Karena hampir semuanya tidak terpakai. Apa itu betul? Ya, saya kaget. Dan tidak percaya. Selama ini saya belajar dengan keras tidak ada artinya. Apa itu betul?
        Setelah bertahun2 baru saya mengerti apa maksudnya. Selama SD, SMP, SMU, saya sudah berhasil menjadi murid yang sukses. Sukses menjawab soal. Saya sangat pintar menjawab soal. Tapi sampai saat saya kuliah saya belum tahu apa yg mau saya kerjakan. Saya tidak diajari oleh siapapun keahlian2 yang lebih penting untuk bertahan hidup daripada pintar menjawab soal.
        Padahal banyak sekali hal yg mau saya coba dan bisa saya kerjakan tapi tidak pernah ada waktu untuk bahkan memikirkan apa saya punya keahlian yang lain selain menjawab soal.
        Apa guru2 saya salah? Tidak. Mereka adalah guru2 yang sangat baik, beberapa di antaranya bahkan menempati tempat tertinggi di hati saya.
        Saya cuma sangat menyayangkan kesempatan yang tidak saya punya untuk menghargai titipan Tuhan yang lain yang ada pada saya yang tidak pernah saya kembangkan.
        Karena kalau semua anak seperti saya, tidak akan pernah ada Albert Einstein, Thomas Alfa Edison, Michael Jordan, Joey Alexander, dan banyak orang hebat lainnya.
        Dan saya ingin anak saya punya kesempatan itu, yang tidak pernah saya punya.

        Salam…

        1. Nice share.. saya juga mengalami dan merasakan hal yang sama, bahwa keberhasilan selama di sekolah belum tentu memberi kemampuan bagi kita untuk menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan

  3. Indonesia.. 🙁 saya sedih juga bacanya… apa yg bisa kita lakukan agar tk tk d indonesia serempak dg tdk mengajarkan calistung? Sedangkan SD mensyaratkan agar calon murid bisa baca tulis berhitung? Apa yg bisa kita lakukan sbg orangtua? tk tempat anak saya sekarang sekolah, sudah mengajarkan calistung tp tdk d tekankan.. hanya mengenali saja.. krn sependapat dg saya tk itu tempat bermain.. taman kanak kanak.. tp krn bbrp wali murid kecewa dg metode belajar nya jadi banyak yg pindah.. krn menurut mereka anak anak mereka selama d tk tsb tdk ada kemajuan dlm calistung.. miris hati saya.. awalnya saya pun tdk menjadikan calistung berada d point pertama atau kedua atau ktiga.. calistung itu nanti di SD pikir saya.. tp lambat laun pun akhirnya saya mengajarkan kpda anak calistung.. krn ada rasa khawatir juga jika anak saya tdk dapat mengikuti.. sedangkan masuk SD ada persyaratan sudah dapat membaca menulis dan berhitung.. krn persyaratan itulah yg membuat saya khawatir jika ia hanya bermain2 saja.. untuk itu belakangan ini saya pun sempat mengajarkan anak calistung sedikit banyak mungkin bahkan sampai dg serius.. 🙁 blm lagi jika blm dapat membaca menulis berhitung jika harus masuk SD swasta.. kan biaya mahal.. swsta pun ternyata ada syarat harus baca tulis.. 🙁 makin galau saya…. jadi harus bgmna kami sbg orangtua menyikapi persyaratan masuk SD trsebut?

    1. Home schooling bu. Home schooling mengembalikan anak dan orangtua pada fitrahnya. Karena pendidikan yang terbaik ada di rumah.

      1. Iya saya setuju pak,homeschooling…saya stres melihat pr anak tiap hari,kelas 2 sd kayak pelajaran smp.. Blm sampai nalar anak ke sana…

  4. Namun jika hafalan surah surah pendek memang setiap hari hampir saya bacakan jika anak menjelang tidur.. Alhamdulillah anak pun hafal dg sendirinya.. tanpa tekanan.. sekarang usia anak saya 4thn sudah hafal bbrapa surah2 pendek.. bahkan sedikit hafal Ayat kursi.. dari bayi setiap hari dibacakan jika hendak tidur.. bahkan doa iftitah sholat pun sedikit2 mulai hafal.. krn biasa dibaca saat sambil bermain.. beda dengan calistung.. yg serius belajarnya.. justru rada sulit keterimanya.. krn beda cara mengajarinya.. surah2 bisa sambil bermain.. kalau calistung tdk bisa dg cara bernyayi.. 🙁

  5. Teruma kasih sudah mengangkat topik ini. Miris mendengar bagaimana PAUD di tanah air telah membuat masa kecil anak2 yang seharusnya bermain bukan di drill untuk mengahafal. Bagaimana sistem ini bisa diubah? Siapa yang harus berubah? Sistem pendidikan atau ekspektasi pasar dimana orang tua harus mengerti kalau TK itu bukan kelas 1?

  6. Yg salah adalah si pembuat kurikulum SD, kurikulum SD menuntut demikian dan menterinya tdk tahu karena tdk sempat baca. Menteri Fuad Hasan juga Bambang Soedibyo memang melarang calistung. Kalau hafalan surah itu kan seperti ngajar kosa kata saja, pengulangan seperti lagu saja. Gak masalah. Jadi, tolong si pembuat kurikulum harus ditegur oleh mendikbud.

  7. Betul bapa saya sendiri juga guru,sayangnya saya menjadi guru ditengah salah kaprahnya sistem pendidikan kita, saya guru kelas 6 sd.anak saya kelas 1 sd,sewaktu masih tk,saya kaget ternyata sedikit bermainnya,banyak calistungnya,apa kata gurunya,gurunya bilang supaya bisa masuk sd favorit,katanya mereka punya akses kesana,miris yaa..setahun kemudian anak saya ternyata memang bisa masuk ke sd favorit itu,lebih kaget lagi di sd kelas 1 pelajarannya terlalu tinggi,matematika yang anak kelas 4 sd pun belum tentu bisa,buku tersebut mengisyaratkan harus bisa baca menulis dan berlogika,yg tidak selayaknya untuk ukuran anak kelas 1 sd.setelah saya cari penyebabnya ternyata buku lks yg dipakai itu hanya karena kesepakatan para kepsek dengan produsen buku,penerbit yg menang adalah yg servisnya bagus,phi penjualan buku dan gratis jalan2 ke singapura bali dsb.jadi buku lks yg dipakai bukan berdasarkan tingkat perkembangan anak didik,tapi lebih kepada bisnis.ditambah lagi pemerintah tidak pernah mengecek layak atau tidaknya buku yg beredar.

  8. Menurut saya, sebetulnya banyaknya PAUD mengajarkan calistung dan pelajaran yang tidak semestinya diberikan kepada anak usia dini tersebut, tidak terlepas dari adanya beberapa SD favorit yang tentunya ada di setiap daerah.
    Kenapa saya bisa berpendapat begitu? Ini sekedar pengamatan saya, bahwa banyak sekali orang tua murid yang berlomba-lomba memasukan anak mereka di sekolah SD favorit mereka. Nah, akibatnya di setiap tahun ajaran baru, sekolah-sekolah dasar favorit ini selalu saja kebanjiran peminat, calon anak didik baru, yang jumlah peminatnya jauh melebihi kapasitas daya tampung sekolah-sekolah dasar tersebut.
    Lalu, apa yang dilakukan oleh sekolah-sekolah yang kebanjiran peminat tersebut, sementara daya tampungnya tidak mencukupi, sebagai contoh, saat saya mendaftar di sekolah anak saya sekarang, daya tampung sekolah hanya 60 siswa. Jumlah pendaftar? 300 siswa lebih! iya benar… 300 siswa lebih. Apa iya, sekolah harus menampung semua pendaftar tersebut? Tidak mungkin kan? Akhirnya diadakanlah proses seleksi.
    Nah… lalu apa kriteria diterima atau tidaknya masuk di sekolah yang kebanjiran peminat tersebut? Siapa cepat dia dapat? Atau siapa yang kaya dia masuk? Enggak mungkin kan? Nah, akhirnya sekolah tersebut mendakan seleksi ya berdasarkan kemampuan calon murid, yang paling gampang dinilai ya tentu saja calistung. Siapa yang pintar calistung, jaminan dapat sekolah di SD favorit.
    Nah, PAUD yang enggak mengajarkan calistung, tentu saja muridnya akan kalah bersaing, alhasil akan kalah pamor dengan PAUD lain yang mengajarkan calistung. Akibatnya PAUD akan berlomba-lomba mengajarkan calistung pada anak, agar si anak nanti bisa mengikuti proses seleksi masuk SD favorit dengan mudah.
    Memprihatinkan bukan? emangnya anda mau anak anda sekolah di SD yang mohon maaf, istilahnya tidak diunggulkan di daerah anda? Saya sendiri juga tidak punya solusi atas permasalahan ini, saya hanya sekedar mengamati saja fenomena tersebut, jadi mohon maaf bila ada kata yang kurang berkenan.

  9. Sy sependapat dg bpk, jk sy mengenang masa-masa sy dl duduk dibangku TK selama 2 thn sgh menyenangkan. Bangun tidur bersemangat dan ceria brgkt ke sekolah tnp beban ada pe er. Dan saat skrg ini …sayangnya tdk semua orang tua spt bapak, orang tua yg menuntut lembaga PAUD/TK memberi pe er dan mengajarkan calistung. Jd kebanyakan ortu akan memasukan anaknya ke PAUD/TK yg mengajarkan calistung.

  10. Akademis Itu Penting, Tetapi Harus Diimbangi Dengan Sikap & Perilaku Anak Yang Bagus Pula, Percuma Ada Guru Kalau Cuma Mau Murid Yang Sudah Bisa, Tugas Guru dan Adanya Sekolah Itu Mengajari Anak Yang Belum Bisa Menjadi Bisa, Bukan Menerima Anak Yang Sudah Bisa Saja, Saya Jarang Berkomentar Di Media Sosial Seperti Ini, Tetapi Ini Artikel Yang Bagus & Harusnya Bisa Dipertimbangkan Untuk Memperbaiki Kurikulum Pendidikan Di Indonesia & Merubah Pemikiran Orang Tua Pada Umumnya, Sayangi Anak Anda, Ada Waktunya Anak Bermain & Belajar , Ada Waktunya Anak Bisa Melakukan Apa Saja Pada Nantinya Melebihi Orang Tua & Guru Mereka Sekalipun, Demikian & Terima Kasih.

  11. Betul banget pak.. anak saya baru usia 3 tahun dn rencana nanti saya mau masukan ke PAUD & TK, tapi saya masih bingung mencari tempat yg tidak mengajarkan BACA & Tulis karena menurut saya ajang pendidikan PAUD DN TK adalah tempat anak2 bermain untuk membangin motorik anak dan membangun mental anak, agar anak mampu bersikap mandiri dn bermental bagus,
    Karena klo motorik anak bagus waktu masuk SD tdk butuh waktu lama untuk bisa baca tulis, karena menurut saya tempat Belajar Baca tulis ya di SD,
    Wajar klo ada istilah masa kecil kurang bahagia.
    Karena msh kecil di jejali pelajaran bukan di ajarkan membangun mental.
    Mudah2an DEPDIKBUD bisa memonitor system yang di terapkan Di Paud dan TK.

  12. saya adalah tutor POS PAUD, yang sifatnya adalah sosial, walaupun ada sedikit uang transport yg besarnya 100rb sebulan. Meskipun saya tdk lulusan sekolah kependidikan. saya berusaha mengajar dengan hati dan kemampuan yg saya miliki.
    toh sekarang banyak referensi yg dapat kita baca di internet. Usia PAUD adlh usia dimana anak merekam semua kejadian yg ada disekitarnya dan jangan salah mereka adl peniru yg sangat ulung. selama sekolah anak tdk boleh dibebani oleh apapun. anak hrs selalu gembira. tdk banyak yg diajarkan hanya hal2 yg dianggap sepele seperti memakai kaos kaki, sepatu membuang sampah membereskan mainan, belajar berinteraksi, bercerita, menyanyi makan tanpa disuapin kadang hal2 tersebut menurut orang tua sangat sepele. Hal2 yg kadang dirumah selalu jangan dan tidak boleh dilakukan sendiri. jadi biarkan anak lebih mandiri dan berilah kepercayaan anak untuk melakukan sesuatu secara mandiri. tantangan ternyata bukan hanya tuntutan jaman tapi dari orang tua sendiri. dan yg pasti pendidikan yg utama dan pertama adalah keluarga. semoga anak2 Indonesia selalu tumbuh dengan ceria dan gembira.

  13. Lihat Dari SDnya,, SD mewajibkan siswa yang baru masuk harus tes baca tulis,, Nah Lo,, kaLo di TK cuma main2 berarti ga bisa LoLos Tes SD dong??? Hahaha…

  14. Saya pun sedih dgn sistem pembelajaran di Indonesia, bayangkan saja anak sy yg baru duduk di kelas 2 SD sdh ada pelajaran pembagian sdngkn prmbagian jaman sy sekolah dulu baru diajarkan di kelas 5 SD saya kasihan dgn anak sy yg kelihatan kesulitan dlm mengikuti pelajaran matematika terutama pembagian

  15. Disangka yang bermain cukup sampai playgroup mungkin ya, setelah itu kan Kindergarten / Taman kanak-kanak tidak mengandung kata “play”.

    Tapi setuju, Pak. Belajar moral juga lebih penting dari sekadar bisa baca tulis.

  16. Dunia pendidikan Indonesia makin kesini sepertinya hanya makin mengejar gengsi Pak. Semua-semua diberi label sekolah favorit lah, unggulan lah. Rasa bangga bisa masuk kesana yang jadi tolak ukurnya, dan mirisnya sering yg membuat sekolah tertentu disebut favorit adalah tingkat kesulitan pelajaran yg diberikan kepada murid.
    Semakin sulit, semakin si anak terlihat stress banyak PR, semakin sore pulangnya si anak, maka makin banggalah orang tuanya.
    Padahal kalau dilihat secara subjektif, si anak tidak dapat apa-apa kecuali kelelahan setiap hari. Tidak sempat lagi bermain karena sekolah dari pukul 7 sampai 1, ditambah les ini dan itu belum lagi PR yg dikumpul besok.
    Benar-benar darurat pendidikan Indonesia ini

  17. Betul bapak….diusia dini mereka…seharusnya mereka diberikan kesempatan bermain lebih banyak. Sedangkan program pendidikan yang diselenggarakan pada usia dini bisa dibuat sedemikian rupa sehingga anak dapat memetik ilmu dengan bermain. Untung ketiga anak saya saya masukan dalam program pendidikan usia dini dimana sekolah tersebut menerapkan sistem bermain untuk menularkan ilmu san kebiasaan kebiasaan baik. Seperti kemandirian,disiplin, penanaman religi,empaty. Tetapi penekanannya adalah tetap dengan memberi kesempatan mereka bermain….Semoga saja kedepan pemerintah dan guru serta orangtua murid lebih memperhatikan anak anak usia dini supaya generasi penerus kita tdk menjadi generasi yg hanya mengedepankan hasil tanpa mementinfjakn proses.

  18. Terima kasih telah mengingatkan kembali tentang prioritas dalam mendidik pak. Kita memang masih perlu banyak belajar dari negara lain soal pendidikan. Dan ini bekal yang sangat bagus, trmsuk bagi calon2 orang tua seperti saya

  19. Iyap.. Bener bnget.
    Masa kecil masanya bermain, kreatif..
    Diajarkan bersikap yang baik.

    Tp lagi2 ini pendidikan di Indonesia seolah tersistem..
    Jadi mungkin susah diperbaiki kecuali ada mandat kebijakan yg tegas dr pemerintah.

    Mungkin perlu TK di desa aja kali ya, biar anak2 bisa bermain aktif, mengeksplor alam sesuai imajinasi anak2..

    Yukk.. Berbenah sistem pendidikan..
    Doakan agar pendidikan kita bisa berubah menjadi lebih baik

  20. Itu adalah dinamika yang membutuhkan perhatian semua pihak…..Khususnya Mentri pendidikan harus melek akan hal ini. Ortu harus diluruskan melalui Parenting atau pola asuh anak, serta pemerintah bertanggung jawab untuk menyadarkan dan memfasilitasi rakyat yang minim informasi keilmuannya.

    Sekarang sekolah yang cukup mengerti akan hal ini umumnya adalah sekolah swasta, namun sekolah2 sejenis ini sangatlah mahal….

  21. persoalan yang kami alami di sekolah adalah : Materi pembelajaran yang seharusnya untuk Paud dan TK, ketika kelas seharusnya memang bukan calistung, tetapi ketika berhadapan dengan wali murid yang maindsetnya salah…, dan itu sudah menjadi salah kaprah, akhhirnya memang sekolah memodifikasi.., calistung tetap dibewrikan di luar jam sekolah ( semacam les), ini karena bagi kami menjaga imege sekolah kami tidak kalah pamor akibat dari mindset orang tua yang salah. Makanya sebenarnya perlunya parenting clas untuk orang tua di Indonesia untuk memahami pembelajaran yang sebenarnya. Orang Indonesia selalu bangga dengan kecerdasan logika, walau kecerdasan yang lain di abaikan, padahal keberhasilan anak bukan hanya karena kecerdasan logika. ada 8 kecerdasan yang bisa dikembangkan dan itu bisa membawa anak berhasil dalam hidupnya. Sy jadi wali kelas kadang sedih.., melihat anaknya di paksa matematika n Ipa, padahal anaknya jelas2 gak bisa. Kembali ke persoaln TK….
    bahwa sebenarnya adalah dilema buat guru TK, antara pembelajaran yang seharusnya … dengan realitas yang dialami….komplain dari rata-rata orang tua.. yang belum terlalu mengerti apa sebanrnya pendidikan sekolah itu. Sehingga ada banyak TK/Paud melaukan itu. Hal yang lain juga akibat dari … (maaf nyuwun sewu), guru TK/Paud kadang bukan lulusan pendidikan yang seharusnya, mereka hanya karena senang dengan anak-anak dan memiliki ke inginan untuk mengajar jadilah orang yang lulusan pajak, bisa ngajar Tk, atau lulsan perbankan ngajar tk atau dan lain sebagainya ( maaf), yang nota bene tidak memahami psikologis, teori pembelajaran, teori pendidikan etc. cuma pertanyaanya…. ini PR siapa?

  22. soal Budaya 5S ( seiri,seiton,seisho, setsuke seiketsu) kita kalah jauh dengan jepang, mereka sudah dididik sejak usia dini. jangan malu tirulah mereka dengan gaya Indonesia, kita juga bisa kok… berangkat segala sesuatu nya dari 5s kemudian selanjutnya yang lain akan menyusul dengan sendiri ny baik kedisiplinan kemandirian, berbudaya rapi bersih dan displin akan tumbuh , saya sendiri sudah bekerja di perusahaan jepang selama 14 thn… just do it.. ganbate

  23. Pendidikan karakter kepribadian dan pendidikan kognitif semuanya perlu dikembangkan. Pada dasarnya pendidikan karakter, kepribadian dominan dipelajari anak dari orang tuanya dulu kemudian pengembangannya ada di lingkungan. Sebenarnya calistung itu juga perlu asal, anaknya sudah siap untuk dibelajarkan. Memang banyak sekolah yang menerapkan sistem calistung dengan biaya pendidikan yang mahal dan kurikulum yang kadang orang tua saja tidak mengerti. Tetapi, di Indonesia juga tak sedikit sekolah PAUD yang tidak mengutamakan calistung (bukan berarti tidak diajarkan, hanya saja intensitasnya tidak terlalu tinggi). Kalau kegundahannya karakter dan kepribadian, pedomannya pada orangtua (pandai-pandai memberi contoh yang baik dan membentuk kepribadian baik pada anak). kalau kegundahannya tentang sistem pendidikan, segera pindahkan anak anda ke sekolah yang lain karena PAUD adalah pendidikan dasar anak, dari PAUD ini lah anak belajar memaknai dirisendiri, dunia dan lingkungannya. Jangan sampai anak salah persepsi tentang dunia gara-gara di PAUD hanya diajar untuk terus belajar dan mengejar nilai. (TK, KB, TPA, DAY CARE dll adalah lembaga yang ada di dalam PAUD). Itu adalah saran dari saya menjawab kegundahan bapak, Terimakasih karena telah membaca komentar saya,

  24. Dari saya baca semua komentar hampir sebagian besar menyalahkan konsep,program,cara didik yang di ajarkan di PAUD…

    Hemat saya dan alangkah baik kita sikapi dengan BIJAK…toh pembelajaran di PAUD atau di TK hanya menyita beberapa jam saja…sebagian besar waktu di habiskan bersama ANDA2 DI RUMAH..peran apa yg ANDA2 kontribusikan kepada anak2

    …HANYA KOMEN DAN TANPA AKSI YANG NYATA..ya toh…

    JADI kita sikapi saja…toh sekarang PAUD sudah baik…

  25. bikin petisi di change.org aja, saya akan jadi salah satu orang yang menandatangani petisi anda pak.!
    saya punya anak umur 2 tahun jalan 3 tahun, saya tidak pernah memikirkan untuk memberikan pendidikan yang memaksakan…
    saya setuju pak dengan anda..
    TK itu artinya taman kanak – kanak…
    SD itu artinya sekolah dasar.!
    dari namanya aja harusnya MENTERI PENDIDIKAN BISA MIKIR.!
    anak – anak berkelahi kita leraikan aja masih bisa berpelukan dan shake hand…
    klo anak SD kan ada grade nya kelas 1, buat apa klo di kelas 1 gak diajari calistu…
    TK itu pengenalan bukan pembelajaran…
    kenal akan sopan santun, kenal akan disiplin, kenal akan mandiri, maka membiarkan kepribadian yang mengembangkannya…
    buhsyedh klo ngeluarin ke dongkolan mungkin gak habis 1 blog…

    bikin petisi pak.!

  26. sepakat sekali jika sistem pendidikan di TK harusnya dirubah kembali bahwa masa TK adalah masa bermain bagi anak. sekarang beban yang diberikan kepada siswa TK tdk jauh beda dengan beban siswa dotingkat SD yg mengharuskan anak bisa calistung. tetapi kita tdk bsoa serta merta menyalahkn pendidika. do TK sebab itu juga dilakukan atas dasar desakan dan tuntutan dilapangan yg mengahruskan lulusan TK sudah mahir baca tulis. seharusnya dr dinas pendidikan atau bahkan tingkat kementrian menegur SD yg mengahruskan tes baca tulis sebagai tolak ukur diterima tidaknya calon siswa di SD tersebut. dan pemerintah bisa mengeluarkan kebijakan terkait seleksi masuk SD. mengenai penerapan pendidikan karakter disekolah, pendidikan karakter yg digemborkan di dunia pendidikan kita mash jauh dari apa makna yg dimaksud dengan pendidikan karakter itu sendiri. selama ini hnya tertulis di silabus tp pada kenyataannya sulit menemukan penerapan yg benar dilapangan. semoga kedepan sistem pendidikan kita bisa lebih baik dan tentunya bukan hanya elemen yg di atas dan yg terlibat lngsung dengan pendidikan yg bertanggubgjawab namun semua elemen masyarakat bisa ikut andil sehingga tercipta iklim pendidikan seperti yg kita sua harapakan

  27. alhamdulillah, anak saya sekolah di TK yang tdk fokus mengajarkan calistung tp lebih fokus untuk kemandirian. Aktivitas yang dilakukan lbh banyak kegiatan menstimulasi motorik halus dan kasar dengan cara bermain sekaligus juga belajar secara tidak langsung.

  28. Besarnya anak akan jd bosan dengan pelajaran…dan tak akan mengerti akan disiplin dan kemandirian. Banyak orang petinggi yang buat aturan memposisikan klo dulu dia bisa dengan program yang beliau buat tapi tidak liat kondisi/kemampuan anak-anak beda-beda. Jd setiap orang tua jg harus berperan aktif dirumah. Paling tidak tanya bagaikan sekolahnya….dsb.

  29. Calistung memang tidak wajib di ajarkan pada anak paud, tapi bukan berarti tidak perlu juga utk di kenalkan. selama anak berminat sendiri dengan calistung yg sudah di perkenalkan , guru paud harus memfasilitasi dan memotivasinya. namun bukan mengharuskannya. sementara untuk pelajaran/materi hafalan seperti doa-doa, menurut saya itu perlu di ajarkan sejak dini sbg pembiasaan karna dari kebiasaan tersebut akan menghasilkan apa yg di sebut dg kata “hafal”, bukankah hafaln doa merupakan bagian dari ibadah? dan ibadah adalah sesuatu yg wajib di lakukan dan di biasakan?. Jadi saat memilih sekolah untuk anak paud / tk, sebaiknya tambahkan pilihan kategorinya ( bukan cuma krn sekolah pavorit atau sekedar murah saja) saja tapi pilih juga sekolah yg guru-gurunya nya kreatif sehingga bisa memenuhi rasa ingin tahu anak paud yg memang sedang luar biasa pada usianya tersebut, termasuk juga minatnya terhadap calistung dan pelajaran hafalan.

  30. IYa bener masih anak 2 uda di kejar target untuk bisa baca n tulis jaman dulu baru sd yang d ajarkan baca tulis…. kasian anaknya kehilangan masa bermain….

  31. Mlm… sebagai mntan guru tk… dn lulusan S1 paud.. mnurut sy.. btul yg di blng bpk… paud sndri memiliki arti atau pngertian yaitu pendidikn yg di berikn pada ank usia 0-5 thun yg bertujuan untuk mningkatkn kemampuan tumbuh kmbng ank (fisikmotorik, bhasa, sensorimotor, agama moral, sosem, dll) dngn cr mmberikn stimulus sehingga ank memiliki kesiapan untuk mngikuti pndidikn ke tingkat selanjutnya… nh dr gris bsar itu mnurut sy sbtulx btul mnurut bpk klo paud bertujuan untuk menikmati masa kcil ank… v tdk ada slhx untuk mngenalkn sejak dini pada anak tntang calistung… tp harus di garis bawahi bahwa pada usia paud ank dpt diknalkn calistung melalui permainan atau kegiatn sehari”… trims

  32. Ketika orang kain sibuk bercerita tentang anaknya di masukkan PAUD aku dan istriku justru memasukkannya ke PBUD (Pendidikan Bisnis Usia Dini) dan itu ga perlu lembaga cukup dirumah saja dan sekali tempo keluar rumah…..dengan PBUD anak menjadi lebih banyak bertanya dlm segala hal dan ini adalah modal dasar dia dalam menganalisa setiap permasalahan bukan hanya sekedar mencari jawaban atas semua permasalahan……dan alhamdulillah tanpa PAUD di usia 4 tahun sdh bisa menulis, menggambar, menghapal banyak lagu, nama hewan, buah juga sayuran, mendongeng dan menganalisa…..karena waktu itu aku punya prinsip tanpa sekolah anakku harus sudah pinter sebelum sekolah

  33. Saya masuk sd tahun 1991 (gk tk) belum bisa apa-apa…tapi saya rangking 1 terus…begitu pula adik adik saya jg gk kalah tertinggal sama temen2nya yg tk…. Tapi guru guru sd kami sangat sabat mengajari calistung (guru kelas 1-3)….mgkn yg pertama adalah kualitas dan kesabaran guru dalam mendidik

  34. hallo bang hasan, assalamulaikum…

    saya ibu dari anak umur 7 th yg sekarang bersekolah di sekolah swasta berbasis non islam, yaitu sekolah katholik.
    bang saya ingin berbagi kisah tentang apa yg sya alami di sekolah yg berbasis islam atau yg di sebut MI.
    sunggu sy menilai anak sy tdk mendapatkan pendidikan dan akhlak yg baik dr sekolah tersebut.padahal sekolahnya berbasis islam yg konon katanya mengutamakan akhlak yg baik.tp itu tdk sy dptkan di sekolah anak sy.
    dari segi pengajaran etika, murid tdk di ajarkan tentang etika krna gurunya sendiri pun saya lihat sangat buruk etikanya.beliau mengajar sambil duduk nan mengangkat kaki di bangku.bahkan pernah sampai tertidur.bahkan saya pernah complain masalah kjp di sekolah tersebut tp di tanggapi dengan buruk oleh guru tersebut.
    sungguh saya sangat kecewa dan prihatin dengan kondisi sekolah2 MI yg bayaranya murah trrsebut menjadi rebutan orang tua untuk memasukan anknya tapi tidk mendapatkan pendidikan etika yg baik.
    akhirnya dengan rasa kecewa dan kwatir anak sy akan bertmbah buruk etikanya dengan guru seperti itu sya pindahkan anak sy ke sekolah katholik.
    dan alhamdulillah sekarang anak sy lebih baik bang dlm etika, dy jg tdk pernh jajan sembarangan lg,krna membawa bekal dr rumah.dan skrg menjadi lebih menurut di bandingkan wktu dy bersekolah di MI.
    sunggug sangat ironi sekolah yg berbasis islam tp gurunya tirak mempunya etika yg sesuai dengan islam.
    di sekolah2 MI tersebut tdk ada kanin bang, dan anak2 di biarkan keluar masuk sekolah pada jam istrahat.sekolah tetsebut oun tidk mngontrol tukang jajanan yg berjualan di depan sekolah.penjual2 tersebit berdagang makanan yg sehat atau tidk pun sekolah tdk perduli.
    sebenarnya apa seh yg mereka ajarkan di sekolah yg namanya berbasis islam itu.
    sy malah menemukan hal sebaliknya di sekolah yg berbasis non islam tempat sekolah anak sy skrng.sekolah tersbut menyediankan kantin, menyedialan tempat sampah di kelas, pintu pagar di tutup tukang jajanan tdk ad yg berjualan di depan sekolah.
    mungkin bila abang ada waktu abang bisa berkenan mengulas tentang sekolah yg berbasis MI ini krna mereka tumbuh subur di tp tdk mempunyai kwalitas pendidikan akhlak yg baik.dan heranya sekolah yg mengutamakan etika dan akhlak yg baik seperti sekolah non islam malah di bully dan kadang di musuhi.ini sy alami sendiri ketika sy memasukan anak sy ke sekolah non islam sy di bully dan di anggap aneh krna orang islam tp memasukan sekolah anaknya ke sekolah katholik.mungkin abang bisa memberikan pandanganya ke sya tentang masalah tersebut.

    berikut kisah saya bang, maaf bila terlalu panjang.karna sy hanya mengeluarkan uneg2 kekecewaan.

    trimakasih
    salam
    siti lestari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *