Muslim Pemenang vs Muslim Pecundang

5 April 2016 0 Comments

winner

 
Masih ada saja orang yang mengomeli Bung Hatta karena pencoretan 7 kata “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi para pemeluknya” dari naskah Pancasila. Ketika naskah disiapkan, di saat terakhir, ada keberatan yang konon berasal dari kalangan non-muslim dari Indonesia Timur. Bung Hatta melihatnya sebagai bibit disintergrasi. Maka ia mengambil inisiatif mencoret 7 kata itu.
 
Langkah ini kemudian disesalkan oleh banyak kalangan dalam Islam. Pencoretan itu membuat Indonesia tak lagi menjadi negara Islam, begitu keluh mereka. Akibatnya, sulit untuk memasukkan berbagai regulasi berdasar syariat Islam. Akibatnya, Islam menjadi semakin menjauh dari Indonesia. Dalam keluhan-keluhan itu tak sedikit yang kemudian mencaci Bung Hatta sebagai biang kerok masalah ini.
 
Benarkah ada pihak non-muslim yang keberatan sehingga Bung Hatta bersikap begitu? Entahlah. Bagian ini masih menjadi kontroversi. Pada pembicaraan sebelumnya sudah dicapai kesepakatan untuk menjadikan Piagam Jakarta sebagai naskah pembukaan UUD 1945. Boleh jadi memang masih ada ganjalan dari kalangan non muslim. Tapi boleh jadi juga inisiatif pencoretan itu datang dari Bung Hatta sendiri, setelah ia mempertimbangkan potensi konflik di masa depan.
 
Namun ada hal yang sengaja dilupakan oleh para perengek itu. UUD 1945 tidak selesai sampai di situ. Ada upaya perumusan UUD melalui konstituante hasil Pemilu 1955. Dalam forum itu soal dasar negara kembali dibahas, apakah Indonesia akan dijadikan negara Islam atau bukan. Perdebatan panjang tak kunjung mencapai kata sepakat, sampai akhirnya Soekarno mengeluarkan dekrit yang menghentikan pembahasan itu.
 
Pada titik ini jelas terlihat bahwa Hatta bukanlah masalahnya. Umat Islam sendiri tidak bersuara bulat soal menjadi negara Islam atau tidak. Yang keberatan dengan negara Islam itu tidak hanya non muslim, tapi juga dari kalangan Islam sendiri.
 
Tapi klimaks ceritanya tidak di situ. Pada amandemen UUD pasca runtuhnya rezim Soeharto Piagam Jakarta kembali diangkat ke permukaan untuk dimasukkan sebagai bagian dari konstitusi. Tapi sekali lagi, usul ini ditolak. Majelis tanpa intervensi pihak luar memutuskan bahwa ruh UUD kita adalah UUD tanpa syariat Islam. Selesai dan final. Tidak perlu lagi ada perdebatan maupun rengekan.
 
Mengapa Hatta berani mengambil inisiatif mencoret kata-kata penting itu? Apakah dia anti Islam? Apakah dia musuh Islam? Bah, kalau ada yang berani menuduh Hatta anti Islam atau musuh Islam, dia patut disembur pakai air zamzam sebanyak 33 kali.
 
Sikap Hatta itu adalah sikap seorang muslim yang sangat dewasa, seorang muslim pemenang. Seorang pemenang adalah seorang yang yakin dengan prinsipnya. Ia tidak goyah dengan prinsip itu, di mana pun ia berada. Hatta yakin bahwa orang-orang Islam tetap akan menjalankan syariat, meski tak ada hukum negara yang mengatur. Bersyariat itu kebutuhan bagi seorang muslim pemenang. Ia tidak berislam karena dipaksa negara.
 
Apa yang dituntut oleh sebagian kalangan Islam kepada negara? Tegakkan hukum syariat. Contohnya, larang minuman keras. Lho, kenapa negara perlu melarang? Bukankah sudah tegas larangannya dalam Quran? Kalau sudah tegas, seorang muslim yang yakin seperti Bung Hatta tidak akan minum, meski ia direndam dalam bak berisi minuman keras. Karena prinsip sudah dia pegang. Jadi tak ada soal bagi orang Islam bahwa minuman keras tetap boleh dijual untuk kalangan non muslim. Orang Islam tidak akan pernah menyentuhnya.
 
Apa lagi? Beberapa peraturan daerah yang dibuat oleh orang-orang yang mengaku ingin menegakkan syariat itu isinya adalah hal-hal yang mencengangkan, seperti kewajiban salat jamaah bagi karyawan pemda. Ha? Tidak cuma itu. Ada yang sampai menyediakan hadiah mobil bagi yang rajin salat. Ha? Ironisnya, penggagas program itu sempat jadi tersangka kasus korupsi. Sekali lagi, muslim seperti Bung Hatta tidak memerlukan peraturan pemerintah untuk menjalankan salat berjamaah.
 
Bung Hatta adalah teladan yang terus dikenang. Ia bersih, jujur, dan amanah. Ia tidak mau ikut hiruk pikuk perebutan kekuasaan. Ia yakin nilai-nilai Islam itu tegak melalui perilaku diri sendiri, bukan dari pemaksaan terhadap orang lain. Islam tegak menjadi penyinar, menjadi kekuatan positif yang membangun bangsa bersama nilai-nilai yang dianut orang lain. Ia adalah muslim pemenang.
 
Adapun muslim pecundang adalah muslim yang selalu takut kalah. Orang muslim macam ini selalu curiga, di sekelilingnya ada kaum lain yang siap menerkam dan memangsa. Ia tidak percaya diri bahwa ia akan menang. Maka ia selalu berusaha membungkam, sebelum musuh fantasinya menyerang.
 
Muslim pecundang tidak yakin akan bisa melaksanakan ajaran agama kalau tak dibuatkan lingkungan yang mendukung. Ia tak sanggup puasa bila orang-orang di sekitarnya tak puasa. Ia akan tercebur ke maksiat kalau di sekitarnya banyak maksiat.
 
Karena itu ia selalu tampil memusuhi, dan memaksa.
 
Anda mau jadi muslim yang mana? Pemenang atau pecundang?
 

One thought on “Muslim Pemenang vs Muslim Pecundang”

  1. substansinya bukan pecundang atau pemenang. namun bagaimana ada sebuah sistem yang bisa menjaga agar lebih konsisten. iman manusia turun naik. kita harus saling menasehati. alangkah baik ada sistem yang baik dalam hal nasehat menasehati.

Leave a Reply to rizal Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *