MUI, Coba Haramkan Rumah Sakit dan Sekolah Kristen

12 January 2017 0 Comments

Memakai atrbut Natal, menurut fatwa MUI haram hukumnya. Adalah dalilnya? Dalil yang dipakai MUI adalah “dalil karet” seperti dalil soal meniru suatu kaum. Saya senut dalil karet, karena dalil ini sering dipakai  untuk mengharamkan banyak hal, tapi sementara itu banyak hal yang sebenarnya terkena dalil yang sama, tapi dinikmati oleh umat Islam.

Memakao atrbut Natal menurut MUI adalah sesuatu yang bisa merusak akidah. Bagaimana prosesnya? Melalui ikut-ikut dan tiru-tiru tadi. Mengikuti berbagai tradisi terkait Natal sama seperti ikut merayakan kelahiran Yesus, Sang Juru Selamat, Anak Tuhan. Dalam pandangan MUI, memakao atribut Natal itu adalah tanda persetujuan terhadap keyakinan bahwa Yesus itu adalah anak Tuhan. Nyambung? Menurut saya tidak. Bagi saya fatwa ini adalah produk nalar yang tidak nyambung.

Sebenarnya ada hal lain yang kalau logika yang sama dipakai, jauh lebih tepat dan lebih penting untuk diharamkan oleh MUI, karena potensi perusakan akidah padanya jauh lebih besar. Hal itu adalah rumah sakit dan sekolah Kristen. Kita semua tahu, pengurius MUI juga tahu, ada jutaan muslim Indonesia yang berobat di rumah sakit Kristen, dan menyekolahkan anak di sekolah Kristen.

Entah ada berapa banyak rumah sakit Kristen di Indonesia. Rumah sakit Kristen itu tidak hanya ada, tapi juga pelopor. Hampir di setiap kota akan kita temukan rumah sakit tua, rumah sakit Kristen. Rumah sakit itu sudah ada sebelum pemerintah sanggup mendirikan rumah sakit untuk rakyat.

Contohnya, Rumah Sakit St. Antonius, Pontianak. Waktu kecil saya mengenalnya sebagai Rumah Sakit Sungai Jawi. Hingga tahun 70-an, inilah satu-satunya tumpuan harapan orang se-provinsi. Ke sanalah mereka datang untuk berobat.

Banyak cerita miring soal rumah sakit Kristen ini yang beredar di kalangan umat Islam. Rumah sakit Kristen diamggap sebagai pusat Kristenisasi. Melalui pelayanan kesehatan ajaran Kristen disebarkan. Orang miskin diberi layanan gratis, dengan syarat harus mau masuk Kristen. Konon banyak yang pindah agama karena ini. Orang-orang yang sedang sekarat didatangi, dibaptis secara paksa, agar ia mati dalam keadaan Kristen.

Benarkah? Entahlah. Saya tidak pernah menyaksikan, juga tidak pernah mendengar cerita ini dalam keluarga saya. Padahal dulu banyak keluarga saya yang berobat ke rumah sakit Kristen. Termasuk di antaranya yang berobat gratis. Tidak pernah ada cerita mereka ditawari masuk Kristen.

Sekolah Kristen juga sama, ada di hampir setiap kota. Lebih hebat lagi, banyak dari sekolah ini yang merupakan sekolah unggulan. Banyak orang muslim menyekolahkan anaknya di sekolah Kristen dengan pertimbangan itu, mencari sekolah yang bagus.

Nah, rumah sakit dan sekolah Kristen tentu jauh lebih merusak akidah ketimbang topi Santa Klaus yang dipakai pada perayaan Natal. Di setiap ruang rawat rumah sakit terpampang salib. Di sekolah-sekolah malah diajarkan pelajaran agama Kristen kepada anak-anak muslim.

Kenapa MUI diam saja? Kenapa tidak ada fatwa haram berobat di rumah sakit Kristen, dan sekolah di sekolah Kristen? Dari kalangan umat sebenarnya sudah banyak tuntutan agar MUI mengeluarkan fatwa. Saya ingat betul kegelisahan almarhum Husen Umar, aktivis Dewan Dakwah yang juga seorang politikus. Di tahun 90-an dalam sebuah perbincangan dengan saya, ia mengatakan telah mendorong MUI untuk mengeluarkan fatwa.

Entah mengapa fatwa tidak keluar. Alih-alih berfatwa, para politikus Islam melakukan manuver politik. Dirumuskanlah UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam UU itu ada pasal yang mewajibkan sekolah-sekolah untuk memberikan pelajaran agama sesuai dengan agama peserta didik. Sasaran tembaknya jelas sekolah Kristen. Dengan begitu sekolah-sekolah Kristen akan dipaksa menyediakan guru agama Islam di sekolah mereka. Hal ini ditolak oleh pihak Kristen.

Bagi saya ini manuver konyol. Orang Islam meminjam tangan negara untuk mengatur urusan internal agama lain. Ini memang biasa dilakukan politikus Islam.  Herannya, kenapa tidak ada fatwa haram? Mungkin karena MUI sadar bahwa Indonesia kekuarangan sekolah dan rumah sakit. Tentu juga mereka sadar bahwa umat Islam, meskipun mayoritas, yang jumlahnya mencapai 200 juta orang, tidak sanggup membangun banyak sekolah dan rumah sakit dalam jumlah memadai untuk menutupi kekurangan itu.

Seharusnya MUI itu malu. Mereka rewel benar pada soal tetek bengek atribut Natal. Tapi mereka tidak punya daya upaya untuk menolak sesuatu yang jauh lebih mendangkalkan akidah, terjadi di depan mereka. Atau, mungkin saja, fatwa haram atribut Natal itu adalah cara mereka mencari kepuasan atas hal yang tak sanggup mereka lakukan, yaitu memfatwa haram rumah sakit dan sekolah Kristen tadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *