Mubazir

16 June 2016 0 Comments

 
“Sesungguhnya orang-orang mubazir itu adalah saudara setan.”
 
Apa sih mubazir? Definisinya bisa agak beragam sesuai konteks. Pada dasarnya mubazir itu adalah menyia-nyiakan sesuatu, khususnya yang berwujud materi. Tapi kalau mau diperluas, mubazir yang sifatnya non-materi juga ada. Namun pada akhirnya, mubazir non materi juga berujung pada mubazir materi.
 
Mubazir bisa terjadi karena yang kita ambil (akan kita konsumsi, atau yang kita konsumsi) lebih dari kemampuan kita mengkonsumsinya. Atau lebih dari kebutuhan kita. Kita ambil makanan sepiring penuh, padahal perut kita kenyang. Maka akan ada makanan yang terbuang, jadi mubazir. Bisa juga kita masak dalam jumlah yang banyak, tidak memperhitungkan dengan baik berapa kebutuhan kita, akhirnya tersisa dan terbuang.
 
Mubazir bisa juga terjadi karena kita memang tidak butuh sesuatu. Kita mengambil sesuatu hanya karena kita ingin. Ini jenis mubazir yang paling parah. Mohon maaf, biasanya mubazir jenis ini banyak dilakukan kaum wanita. Tapi bukan berarti laki-laki yak melakukannya.
 
Mubazir banyak terjadi karena orang tidak paham. Kita sensitif kalau melihat makanan terbuang, tapi bebal soal sumber daya lain. Air, dan listrik, sering kali kita mubazirkan, tapi kita tidak menganggapnya mubazir. Di rumah kita biasa membiarkan lampu menyala di kamar-kamar, tanpa ada orang di dalamnya. Demikian pula dengan AC, TV, dan radio, kita nyalakan tanpa keperluan. Demikian pula keran air, sering dibiarkan terbuka, atau rusak membocorkan air, tidak diperbaiki.
 
Memang diperlukan pemikiran agak mendalam untuk bisa memahami soal mubazir ini secara lebih maju dan mendalam. Banyak orang berpikir pada ruang yang sempit: selama bukan saya yang bayar, hamburkan saja. Maka banyak orang yang tidak peduli kalau yang ia hamburkan adalah fasilitas kantor, atau fasilitas umum.
 
Atau bisa juga sebaliknya. Orang tidak peduli pada sesuatu yang ia hamburkan, karena merasa ia sudah membayarnya, atau sanggup membayarnya. Pada tempat-tempat makan dengan sistem “all you can eat” sering orang mengambil sangat banyak, kemudian hanya makan sedikit saja. Lucu sekali, mereka merasa rugi kalau hanya mengambil sedikit. Bahkan ada orang yang sengaja mengambil saos sangat banyak, ketika makan di restoran cepat saji, karena ia tidak ditagih atas saos yang ia ambil.
 
Apapun yang kita mubazirkan, itu adalah milik semua manusia. Kita memiliki bumi ini secara bersama, karena itu harus menjaganya bersama juga. Kesadaran ini sudah mulai berkembang di negara maju. Orang-orang mengembangkan sikap berhemat meski mereka kaya. Sayangnya belum berkembang di negara kita.
 
Lagi-lagi prinsip mubazir ini diterapkan di dunia bisnis di negara-negara maju, salah satunya Jepang. Toyota mendefinisikan 7 macam kemubaziran (nanatsu no muda), dan menjadikannya sebagai prinsip dasar manajemen produksi. Ini salah satu kunci sukses Toyota menjadi raja industri otomotif dunia.
 
Bagaimana dengan kita? KIta masih terbatas pada sikap sekedar tidak mau membuang makanan yang tersisa.
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *