Mentalitas Korban

17 June 2016 0 Comments

Kita sangat sering mendengar keluhan orang Islam soal kaum muslimin yang dimusuhi dan dizalimi. Banyak orang yang percaya soal adanya konspirasi global untuk memusuhi Islam. Konspirasi itu dimotori oleh kaum Yahudi dan Nasrani. Tidak hanya secara global. Di tingkat nasional pun begitu. Pemerintah dianggap anti Islam. Atau ada kekuatan-kekuatan tertentu yang menggiring agar berbagai kebijakan pemerintah merugikan dan memojokkan umat Islam.
 
Ini adalah sebuah gejala sakit mental, yang disebut victim mentality, atau biasa juga disebut victimism. Orang dengan penyakit seperti ini biasa menuduh dan menyalahkan orang lain atas kemalangan yang ia alami. Ia juga secara negatif menuduh orang lain memusuhi dia, mencari-cari jalan untuk menyakiti dia. Dalam bahasa lain disebut paranoid. Mereka juga biasa menganggap pihak lain selalu diuntungkan oleh situasi, lebih dari dirinya sendiri. Nah, parahnya, ia sebenarnya menimati situasi itu, yaitu situasi malang yang ia alami. Ia menikmati situasinya, dan ia menikmati proses menyalah-nyalahkan itu.
 
Dalam hal Indonesia, apa sih yang tidak diperbuat pemerintah untuk umat Islam? Setiap kebijakan yang diambil tentulah menempatkan kepentingan orang banyak. Dalam hal Indonesia, orang banyak itu tentulah umat Islam. Sekolah, rumah sakit, berbagai infrastruktur, yang menikmati paling banyak adalah umat Islam. Masih kurang? Coba lihat kementerian agama. Kalau mau jujur, ini sebenarnya adalah kementerian agama Islam. Agama lain hanya sekedar aksesori saja. Belum lagi berbagai regulasi yang dibuat terkait kebutuhan umat Islam, seperti peradilan agama, produk halal, dan sebagainya.
 
Meski begitu masih saja ada orang yang menuduh pemerintah Indonesia di segala zaman adalah pemerintah anti Islam. Bagi saya ini adalah gejala sakit mental tadi, yaitu mental korban.
 
Mengapa umat Islam mengalami ini? Sebabnya banyak. Salah satunya bersifat skriptual. Dalam sejarahnya umat Islam memang dizalimi. Di Mekah mereka disudutkan dan diteror oleh orang-orang Quraisy, sampai harus eksodus ke mana-mana. Puncaknya adalah hijrah atau eksodus ke Madinah, yang kemudian menjadi titik balik sejarah Islam. Di Madinah pada awalnya mereka masih diteror. Kemudian mereka membalikkan keadaan dengan melawan balik. Beberapa perang dimenangkan, tidak hanya melawan Quraisy Mekah, tapi juga terhadap orang-orang Yahudi di sekitar Madinah. Mereka dibasmi dengan satu tuduhan: berkhianat.
 
Bila kita telisik narasi Quran kita akan temukan fakta unik. Quraisy Mekah adalah kelompok yang tidak berhenti memusuhi, namun nama mereka sebagai kelompok tidak secara tersurat dinyatakan dalam ayat-ayat celaan. Berbeda dengan kaum Yahudi, yang diberi stempel musuh abadi. Lebih unik lagi, kaum Nasrani yang tidak memiliki rekaman sejarah konflik terbuka sepanjang sejarah kenabian, ikut terkena getahnya. Narasi Quran soal Yahudi dan Nasrani sangat kental dengan aroma menuduh tadi.
 
Dalam fase sejarah selanjutnya kaum muslim mengalami banyak kejayaan. Kekuasaan mereka sampai menjangkau Eropa, dan hingga kini bekasnya masih sangat terasa. Selepas itu dunia Islam mengalami surut. Hampir seluruh wilayah kaum muslim tunduk di bawah kekuasaan bangsa-bangsa Eropa. Lalu beberapa abad kemudian terjadilah kemerdekaan.
 
Dalam menuturkan sejarah, sambil mengenang kejayaan masa lalu. umat Islam tidak pernah berhenti meratapi permusuhan-permusuhan atas diri mereka. Meski melakukan ekspansi sampai ke Eropa, mereka tetap mengidentifikasi diri sebagai korban permusuhan pihak lain. Tidakkah pihak lain juga berhak menuduh bahwa mereka adalah korban invasi dan permusuhan pihak Islam?
 
Kini, meski sudah merdeka, mayoritas negeri-negeri muslim adalah wilayah tertinggal dalam hal teknologi dan ekonomi. Siapa yang salah? Penjajahan bisa dituding sebagai biang keroknya. Tapi itulah, orang lebih suka berhenti di situ. Apa yang telah kita perbuat setelah sekian puluh tahun merdeka? Ada banyak kemajuan yang dibuat. Tapi tidak sedikit pula kemunduran.
 
Dalam hal infrastruktur, misalnya, jalan utama di pulau Jawa adalah peninggalan Belanda. Demikian pula dengan jalur kereta api. Alih-alih bertambah, infrastruktur kereta api kita banyak berkurang dibanding dengan zaman Belanda dulu. Produksi gula juga demikian. Zaman dulu kita adalah pengekspor, tidak hanya produk gula, tapi juga teknologi produksinya. Kini kita adalah pengimpor.
 
Dalam suasana kalah itu umat Islam lebih sering meratap, menuduh-nuduh. Ketimbang mencari kesalahan untuk diperbaiki, mereka lebih suka meratap menyalah-nyalahkan pihak lain. Persis seperti gejala yang diderita oleh orang yang mengalami sindroma mentalitas korban tadi. Tidakkah umat ini sakit secara kolektif?
 
Yang mengerikan adalah penyakit itu muncul dalam wujud fatal: terorisme. Teorirsme yang dilakukan oleh kelompok-kelompok Islam adalah wujud paling parah dari victimism tadi. Mereka menganggap semua pihak di luar Islam adalah pihak-pihak yang menebar permusuhan. Padahal mereka sendirilah penebar permusuhan itu.
 
Apa yang harus kita perbuat? Bagi saya tidak bisa tidak, pembacaan kita terhadap berbagai skrip harus diubah. Ada bagian-bagian dari teks suci yang harus dibaca sebagai catatan sejarah, bukan sebagai perintah Tuhan. Dengan demikian kita bisa menganggap rekaman-rekaman permusuhan itu sebagai bagian dari masa lalu, bukan sesuatu yang harus kita pelihara sekarang.
 
 
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *