Membuang Manusia

18 March 2016 0 Comments

ottoKemarin koran Kompas memuat 2 berita yang lokasi kejadiannya berjauhan, tapi terhubung oleh suatu benang merah, yaitu soal kemanusiaan. Berita pertama tentang Otto Warmdier, seorang mahasiswa Amerika. Ia ditahan oleh pemerintah Korea Utara saat hendak pulang selesai mengikuti tur ke Pyongyang. Ia kemudian diadili dengan tuduhan “melakukan kejahatan yang mengancam keselamatan negara”. Ia dikenai hukuman kerja paksa 15 tahun.

Apaa yang dilakukan oleh Otto? Tak jelas. Kabarnya ia hanya mengambil sebuah spanduk propaganda di hotel. Tak sulit kita menduga bahwa Otto hanyalah sandera politik bagi Amerika yang kerap melakukan berbagai tekanan terhadap pemerintah tiran Korea Utara. Demi mencapai tujuan politiknya pemerintah zalim ini tidak segan membuang orang ke kamp kerja paksa, memperlakukan mereka bukan sebagai manusia. Tentu mereka pun tak segan membunuh orang, seperti yang sudah sering diberitakan.

Di bagian lain Kompas memuat berita tentang pelarangan pemutaran film berjudul “Pulau Buru Tanah Air Beta”.  Ini adalah film dokumenter tentang Pulau Buru, sebuah pulau tempat pemerintah Orde Baru membuang lawan-lawan politiknya, yaitu tokoh-tokoh PKI. Kenapa dilarang? Menurut berita polisi melarang kegiatan ini karena ada unjuk rasa oleh beberapa kelompok masyarakat.

Kita melihat pemerintah tiran turun temurun di Korea Utara adalah pemerintah yang zalim. Tapi kita perlu sadari bahwa pemerintah kita pun dulu begitu. Belum ada 20 tahun berlalu sejak Soeharto jatuh, dan tahanan Pulau Buru dibebaskan semua. Sebelum itu, dalam suatu sisi, pemerintah kita tidak berbeda dengan Korea Utara, yaitu pemerintah yang sanggup membuang manusia dengan alasan-alasan politik.

Tidak cuma itu. Penting untuk kita catat juga bahwa hingga detik ini pun masih ada orang-orang yang mendukung tindakan itu. Itulah orang-orang yang keberatan terhadap pemutaran film tadi. Bagi mereka membuang orang ke Pulau Buru bukanlah kejahatan. Maka usaha untuk menyebutnya sebagai kejahatan akan mereka tentang.

Konyolnya, polisi menuruti mereka. Tidak jarang polisi membubarkan atau melarang suatu acara karena keberatan sekelompok massa. Lho, polisi itu bekerja atas dasar apa sih? Atas dasar hukum, bukan? Kalau atas dasar hukum, maka polisi tidak boleh menuruti kehendak sekelompok massa. Ini yang juga menyedihkan. Polisi kita sebenarnya masih belum banyak berubah dari polisi di zaman Orde Baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *