Lelaki Turis

2 February 2016 0 Comments

man

Beberapa kali saya menerima konsultasi dari perempuan muda yang sedang meniti karir.

“Saya ingin sekolah lagi. Tapi orang tua mendesak saya untuk menikah dulu. Rumit. Kalau saya menikah, mungkin itu akan jadi penutup pintu bagi saya untuk sekolah lagi. Jadinya berat. Pilih melanjutkan cita-cita dengan konsekwensi telat nikah, atau menikah lalu melupakan cita-cita.”

Bagi saya ini seperti orang menghadapi problema sembilan titik. Tahu maksudnya? Kalau tidak tahu, carilah artinya di Google. Perempuan seperti ini terjebak pada lingkaran masalah, dan dia tidak melihat adanya pintu keluar. Seolah dunia ini hanya terdiri dari 2 pilihan: menikah atau sekolah lagi. Padahal tidak.

“Kenapa kamu tidak cari saja suami yang mendukung kamu untuk sekolah lagi? Kamu bisa sekolah dulu, dan menemukan jodoh dengan sesama pelajar. Atau, cari suami yang mau menemani kamu sekolah.”

“Lho, memangnya ada, Pak?”

“Ada, dan banyak. ”

Selama kuliah dan kerja di Jepang saya banyak menemukan laki-laki seperti ini. Mereka menyebut dirinya “lelaki turis”, artinya turut istri. Ada yang berhenti sementara dari pekerjaan. Kenalan saya orang Malaysia, berhenti dari pekerjaannya sebagai manager di sebuah perusahaan elektronik.

“Tak takutkah pulang nanti menganggur?”

“Tak. I am a qualified engineer and manager. Any company will need me,” katanya yakin.

Ada pula yang tetap bekerja dengan sistem kendali jarak jauh, karena jenis pekerjaannya memungkinkan. Bahkan, ada yang mengajak suaminya, suaminya kemudian ikut sekolah. Berdua mereka sekolah, mengasuh anak, bersama mencapai tujuan. Dua-duanya jadi doktor! Hebat, bukan?

Tidak sedikit yang bertemu jodoh di tempat belajar. Ada kawan saya yang sudah relatif berumur, tidak kunjung dapat jodoh. Lalu dia memutuskan untuk sekolah ke luar negeri. Eh, di sana malah dipertemukan dengan jodohnya. Artinya, sekali merengkuh dayung, dua pulau terlampaui.

Menikah itu dasarnya cinta. Cinta itu saling dukung, saling bantu. Yang kuat seharusnya membantu yang lemah. Bukan sebaliknya, yang kuat menekan yang lemah. Berdua bersinergi, hasilnya akan lebih dahsyat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *