Ketika Fotomu tidak “Instagramable”

31 August 2021 0 Comments


Kamu makan mie sekeluarga, di pasar kumuh. Kamu ambil foto di situ, dan berpikir untuk memuatnya di Instagram atau Facebook mu. Lalu kamu membayangkan komentar orang. “Yaelah, kok makan di tempat murahan gitu sih?”

“Kumuh ya.”

Atau, teman-temanmu tidak memberi like. Instagram-mu sepi. Kamu jadi berpikir ulang. Kamu tidak memuat foto itu. Bahkan kamu menghapusnya.

Lalu kamu mencari tempat makan di mal, yang harga semangkuk mie di situ 2 kali lipat dari mie di pasar tadi. Kamu berpikir,”Tak apa, yang penting fotoku bisa dimuat di Instagram.” Kamu kini jadi lebih bahagia.

Kamu sedang berlibur bersama keluarga di Waduk Jatilihur. Tapi kok ya pemandangannya kalau difoto tidak indah. Padahal teman-temanmu menampilkan foto di Pantai Kuta di Instagram mereka. Dengan berutang kamu pergi berlibur ke Singapura, lalu berfoto di depan logo Universal Studio. Wow, kini fotomu layak muat di Instagram.

Kalau kamu pernah punya perasaan seperti itu, malu bahwa kenyataan hidupmu tidak indah, tidak cukup membanggakan untuk ditampilkan di Instagram, lalu kamu memaksakan diri untuk mengubah citra hidupmu, cobalah lihat foto-foto Anika Surachman dan Aniessa Hasibuan. Foto-foto mereka yang sempat bertebaran di media massa, sungguh sangat instagramable. Kenyataannya foto-foto itu memang mereka muat di Instagram.

Saya dan kamu mungkin dulu tak mengenal akun Instagram mereka. Kini kita mengenalnya. Kalau dulu kita kebetula melihat foto-foto mereka, kita juga tak akan peduli. Kini foto-foto mereka jadi perhatian, karena ada cerita di belakangnya. Yaitu cerita tentang orang-orang yang sangat peduli soal citra mereka di media sosial, sampai mereka sanggup melakukan kejahatan.

Tentu dulu banyak orang yang peduli pada akun instagram mereka, memberi like, atau komentar berdecak kagum, iri. Tapi sebenarnya lebih banyak lagi yang tak peduli. Setiap orang sibuk dengan hidup mereka masing-masing. Mampir di media sosial hanya sesekali, untuk iseng saja. Sedangkan pemilik akun, berusaha mati-matian, melewati batas kemampuan, untuk membangun citra yang keren.

Kalau kamu seperti itu, kamu sedang sakit. Kamu membelanjakan uang yang bukan milikmu, membeli hal-hal yang tidak kamu butuhkan, untuk membuat orang-orang terkesan, padahal mereka tak peduli.

Kalau kamu makan mie di pasar bersama keluarga, nikmatilah mie itu beserta kehangatan keluargamu. Jadikan itu kenangan indah tentang kebersamaanmu. Kalau kamu sedang berlibur di Jatilihur, lakukan yang terbaik untuk membawa keceriaan ke tengah keluarga. Buat itu jadi kenangan terbaik bagi keluargamu.

Ingat, hidupmu ada di situ, di ruang nyata, bukan di Instagram atau di Facebook.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *