Islam Pilihanmu

5 February 2016 0 Comments

islamKalau kita bertanya tentang suatu perkara dalam Islam, hampir bisa dipastikan bahwa jawaban yang akan kita terima tidak tunggal. Tentu saja kalau kita bertanya soal siapa Tuhan Islam, atau siapa nabinya, maka jawabannya akan tunggal. Demikian pula, bila kita bertanya, berapa jumlah rakaat salat zuhur. Namun bila kita bertanya, wajibkah bagi perempuan untuk memakai jilbab, maka jawabannya akan berbeda-beda. Atau, tanyalah, halalkah bunga bank? Ada yang mengatakan halal, ada yang berpendapat haram.

Islam yang ada sekarang ini sampai kepada kita melalui komunikasi antar generasi selama ribuan tahun. Islam dirumuskan dari praktek dan perkataan nabi. Pada waktu nabi masih hidup, rumusan formalnya tidak banyak. Orang melihat nabi, kemudian menirunya. Ini yang kemudian kita kenal dengan istilah sunnah. Setelah nabi wafat, orang tak lagi punya contoh. Sahabat-sahabat kemudian menjadi rujukan. Mereka kemudian bercerita bahwa nabi pernah begitu, atau pernah berkata begini. Yang mendengar kesaksian ini meneruskannya kepada pihak lain. Begitu seterusnya, berkelanjutan. Ini berlangsung selama hampir seratus tahun. Kemudian muncullah inisiatif untuk mengumpulkan berbagai kesaksian ini. Kumpulan kesaksian itulah yang kini kita kenal sebagai hadist.

Hadist-hadist masih berupa narasi yang berserakan. Ada begitu banyak perkara yang membutuhkan jawaban secara sistematis. Lalu muncullah beberapa ulama yang merumuskan hukum-hukum secara sistematis, berdasarkan tema-tema, dengan merujuk pada Quran maupun hadist. Beberapa kepala merumuskan ajaran, subjektivitas turut campur di situ. Maka muncullah pendapat yang berbeda-beda. Kita kini mengenalnya dengan sebutan mazhab.

Tapi kenapa bisa berbeda-beda? Bukankah sumbernya satu, sehingga seharusnya hanya satu saja ajarannya? Ya, sumbernya satu. Tapi sumber itu sendiri memang sifatnya multi interpretasi. Contoh yang paling sering dipakai untuk menggambarkan soal ini adalah soal perintah nabi kepada pasukan yang diperintahkan pergi menuju kampung Bani Quraiza.

Dalam kisah itu disebutkan bahwa nabi memerintahkan untuk berangkat, dan memberi instruksi supaya tidak seorang pun di antara mereka melaksanakan salat asar kecuali setelah tiba di kampung Bani Quraizah. Di tengah jalan, tibalah waktu salat  asar. Sebagian berkata, “Kami tidak akan salat sehingga kami sampai di sana.” Sebagian yang lainnya berkata, “Kami akan melakukan salat karena bukan itu yang dimaksudkan Nabi Saw.” Kelompok kedua ini menafsirkan bahwa maksud perintah nabi itu adalah agar mereka bergegas sehingga bisa tiba di tujuan pada waktu asar. Mereka kemudian melaporkan kejadian itu kepada Nabi Saw, tetapi beliau tidak mengecam atau menegur terhadap salah seorang pun di antara mereka. Artinya, beliau mengijinkan adanya multi interpretasi atas perkataan beliau.

Kesaksian-kesaksian yang dibahas di atas tidak tunggal. Ada berbagai versi. Si Fulan mengatakan bahwa ia mendengar nabi berkata begini, sementara Fulanah bersaksi bahwa nabi berkata begitu. Si Anu berkata pada suatu saat nabi melakukan sesuatu dengan suatu cara, tapi Si Ani bercerita bahwa di masa lain nabi melakukan sesuatu dengan cara berbeda. Untuk soal apakah nabi itu kencing berdiri atau duduk saja setidaknya ada 5 hadist yang membahasnya.

Sumber perbedaan lain adalah soal relevansi dalil. Tidak semua perkara yang menjadi bahan kajian tersedia dalilnya secara tegas (qath’i). Para pemikir harus berusaha keras mencari dalil mana yang cocok untuk dipakai. Sementara itu setiap dalil itu juga punya konteks yang dikenal dengan asbabun nuzul dan asbabul wurud. Tentang hal ini pun ada banyak versi.

Waktu berjalan, zaman berganti. Ada semakin banyak hal yang tidak pernah ada rujukannya dari zaman nabi. Orang harus meraba-raba mencari dalil-dalil. Maka makin banyak perbedaan-perbedaan. Walhasil, Islam itu bisa diibaratkan seperti pasar yang menyediakan berbagai jenis bahan. Itulah dalil-dalil dan pendapat mujtahid tadi. Untuk bersikap, menjalankan Islam seperti apa, kita ibarat tukang masak. Kita ambil ini, itu, bumbu anu, rempah itu, lalu kita ramu menjadi sebuah masakan. Teman kita melakukan hal yang sama. Samakah hasil masakan kita? Boleh jadi sama, boleh jadi tidak. Kita masak soto, teman kita masak sop, yang lain masak gado-gado. Kalaupun kebetulan kita masak soto, samakah soto kita? Bisa berbeda. Ada soto betawi, soto madura, atau soto padang. Sama-sama masak soto padang pun, rasanya bisa berbeda-beda.

Maka tak heran, kalau ada seribu orang, kita mungkin bisa menyaksikan adanya seribu Islam. Wajar saja. Tak ada yang salah dengan kenyataan itu. Karena seperti diuraikan di atas, secara alami Islam itu memang seperti itu.

Masalahnya adalah, ada sekelompok orang yang mencoba mengingkari itu. Ia terobsesi untuk mengatakan bahwa Islam itu satu, tunggal. Pendapat tentang Islam itu hanya satu. Orang-orang jenis ini gemar sekali mengklaim bahwa dalil yang ia pakai qath’i, padahal tidak. Ia gemar pula memaksa orang untuk percaya bahwa tidak ada perbedaan pendapat (ikhtilaf) tentang suatu perkara, padahal ada. Ia gemar mengklaim bahwa pendapat yang ia pegang adalah pendapat jumhur ulama. Intinya, ia sebenarnya ingin mengatakan bahwa dialah yang paling benar.

Abaikan orang-orang yang seperti itu. Dalam berislam, jadilah tukang masak. Pergilah ke pasar, nikmati keragamannya. Lalu ramulah formula Islam pilihanmu, dari bahan-bahan yang beragam itu. Setiap orang punya selera, dan ia bisa meramu Islam untuk dirinya sesuai selera dia. Mau Islam yang keras dan galak, bahannya ada. Mau Islam yang ramah dan lembut, ada pula bahannya. Mau Islam yang serius dan tegang, bisa. Mau yang rada santai, juga ada.

Anda mau pilih sikap menghalalkan bunga bank, ada rujukannya. Mau menganggapnya haram, juga ada rujukannya. Mau berjilbab, ada dasarnya. Mau bercadar juga bisa. Tidak berjilbab, juga ada rujukannya.

Jadi, silakan pilih Islammu. Tiap orang boleh memilih Islamnya. Mari tetap saling menghargai.

 

One thought on “Islam Pilihanmu”

  1. Kalimat terakhir;
    “Dalam berislam, jadilah tukang masak. Pergilah ke pasar, nikmati keragamannya. Lalu ramulah formula Islam pilihanmu, dari bahan-bahan yang beragam itu. Setiap orang punya selera, dan ia bisa meramu Islam untuk dirinya sesuai selera dia. Mau Islam yang keras dan galak, bahannya ada. Mau Islam yang ramah dan lembut, ada pula bahannya. Mau Islam yang serius dan tegang, bisa. Mau yang rada santai, juga ada.

    Anda mau pilih sikap menghalalkan bunga bank, ada rujukannya. Mau menganggapnya haram, juga ada rujukannya. Mau berjilbab, ada dasarnya. Mau bercadar juga bisa. Tidak berjilbab, juga ada rujukannya.”
    ☆☆☆
    Orang islam yg seperti ini akan rusak, karena ia boleh memilih mana yg ia sukai saja. Dikalangan ulama juga banyak fatwa yg marjuh, jika diambil yg marjuh, jadilah ia kaum zindiq..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *