Ijazah Kosong

15 February 2016 7 Comments

Di perusahaan tempat saya bekerja dulu ada beberapa orang operator mesin yang berijazah sarjana. Suatu hari salah seorang di antara mereka datang kepada saya untuk protes.

“Gaji saya kok disamakan dengan karyawan lain yang lulusan SMA. Padahal saya sarjana.”

“Pekerjaan dan posisi yang kamu tempati itu memang dibuka untuk lulusan SMA. Kalau mau gaji yang lebih tinggi, kamu harus cari pekerjaan untuk lulusan sarjana.”

“Tapi kan seharusnya ada tunjangan khusus untuk sarjana.”

“Tidak ada. Perusahaan memberi gaji atas dasar apa yang kamu kerjakan, bukan atas ijazahmu.”

Dia masih mencoba mendebat, tapi saya potong saja. “Dengar, ya. Saya ini punya ijazah doktor. Tapi gaji saya ya gaji manager, sama seperti gaji manager lain. Tidak ada tunjangan khusus. Kalau kamu merasa kamu punya kelebihan dibanding operator lain, tunjukkan dengan kerja. Kalau kualitas kerja kamu memang berbeda, nanti akan saya naikkan gaji kamu.”

Banyak orang mengira perusahaan itu seperti kantor pemerintah yang menetapkan gaji berdasarkan tingkat ijazah. Pegawai di suatu golongan boleh meminta kenaikan pangkat bila mendapat ijazah dengan tingkat lebih tinggi. Basis penilaiannya hanya ijazah itu. Makanya banyak orang sekolah lagi untuk mencari selembar ijazah.

Mengapa ada sarjana yang bekerja sebagai operator? Tidakkah ada pekerjaan  yang sesuai dengan pendidikannya? Ada, banyak. Besar kemungkinan dia sudah melamar dan ikut tes di banyak tempat, tapi tidak lolos. Akhirnya ia terpaksa bekerja sebagai operator.

Ada begitu banyak sarjana tanpa kompetensi. Tak sedikit dari mereka yang jadi pengangguran. Orang menyebut mereka pengangguran terdidik. Saya lebih suka menyebut mereka pengangguran berijazah. Pendidikan yang mereka lewati tidak menimbulkan bekas, karena itu tak begitu patut kalau mereka disebut terdidik.

Mengapa bisa ada sarjana seperti ini? Pertama, karena secara intelektual mereka sebenarmya memang tidak masuk kualifikasi bisa kuliah. Pola pikir masyarakat yang menganggap sarjana itu hebat membuat orang-orang yang tak mampu secara intelektual pun memaksakan diri untuk kuliah.

Waktu saya jadi dosen, masih banyak saya temukan mahasiswa fakultas teknik yang tidak paham definisi sinus cosinus. Bahkan tidak sedikit yang gagap dengan penjumlahan pecahan. Tapi kenapa bisa lulus tes masuk? Entahlah. Lebih ajaib lagi, mereka bisa lulus sarjana.

Perguruan tinggi berlomba menerima mahasiswa dan memproduksi sarjana. Orang-orang yang tidak lulus seleksi masuk, diterima di program ekstensi. Orang yang sebenarnya tidak punya kemampuan akademik memadai, bisa kuliah dengan membayar lebih.

Di level S2 juga begitu. Saya pernah mengajar di suatu program S2, dan sepanjang semester saya heran tak habis-habis melihat kemampuan intelektual para mahasiswa program itu. Bagi saya, jadi sarjana S1 saja pun mereka belum layak. Tapi begitulah. Program ini memberi kesempatan kepada orang-orang untuk meraih gelar dan ijazah. Hanya itu.

Di luar soal itu, banyak pula mahasiswa yang sebenarnya punya basis intelektual memadai tapi tetap bodoh, karena tidak belajar. Mereka mengira belajar di perguruan tinggi itu hanya aktivitas di ruang kelas itu. Mereka tidak membekali diri dengan kemampuan belajar mandiri. Nilai kuliah tinggi, tapi kompetensi minim.

Kepada mahasiswa selalu saya ingatkan bahwa hal terpenting yang harus mereka kuasai adalah kemampuan belajar mandiri. Mereka harus membangun kemampuan itu, lalu menggunakannya untuk menambah pengetahuan dan skill yang tidak diajarkan di ruang kuliah. Dengan kemampuan itu pula mereka mengembangkan diri setelah lulus. Itulah poin terpenting dari kesarjanaan. Yaitu bisa menambah ilmu dan keterampilan secara mandiri. Tanpa kemampuan itu seorang sarjana akan jadi fosil.

Di kampus-kampus saya selalu mengingatkan par dosen untuk membimbing mahasiswa untuk meraih kompetensi, bukan sekedar dapat nilai kuliah. Kepada para mahasiswa saya ingatkan untuk membangun kompetensi. Jangan sampai jadi sarjana dengan membawa ijazah kosong.

 

7 thoughts on “Ijazah Kosong”

  1. Tulisan yang menarik Pak. Saya suka kata2 “perusahaan memberi berdasar atas apa yang kamu kerjakan, bukan atas ijazahmu.”

    Tapi Pak, kompetensi apa yang dimaksud disini? Saya sebagai calon mahasiswa agak merasa ambigu dengan kata-kata tersebut. Apa yang dimaksud dengan softskill atau kemampuan bernegosiasi, komunikasi dan sosialisasi? Atau berkaitan dengan praktek di lapangan? Yang mana harus diwujudkan?

    Mohon maaf bila salah. Trims.

  2. ditambah lagi,….Relasi atau jaringan, menentukan sukses tidak nya karir seorang lulusan sarjana….

    kalau gak ada relasi, sama saja sekali pun punya kompetensi, siftskill dan lain2….tetap saja akan sulit cari kerja….apalagi sekarang….Wow…baget….

  3. Saya sangat setuju dengan yang disampaikan Pak Hasan. Penilaian yang dilakukan cukup komprehensif, karena tidak selalu kesalahan mahasiswa, ataupun lembaga pendidikan, bisa jadi regulasi yang tidak cukup menuntut civitas akademika untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi.
    Pemerintah sudah berusaha untuk membuat regulasi ini melalui Kurikulum Berbasis Kompetensi yang kemudian “sulit diikuti” oleh penyelenggaraan pendidikan dan belum terimplementasi dalam kurikulum, kemudian diganti lagi menjadi Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia yang memberikan rambu-rambu kualifikasi luaran pendidikan dari setiap jenjang, dan lagi-lagi sulit diwujudkan karena sesuatu lain hal.
    Betul yang Pak Hasan sampaikan, semuanya tergantung motivasi internal, baik dari mahasiswa, lembaga pendidikan, dan pihak terkait lainnya, punya will atau tidak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *