I Didn’t Know I Could

27 January 2016 0 Comments

Richard Dawkins memulai bukunya God Delusion dengan cerita tentang istrinya. Istrinya waktu kecil sangat tidak menyukai sekolahnya, dan ingin berhenti. Tapi ia tidak kunjung berani menyatakan keinginannya, sampai ia berusia 20 tahun. Ketika ia mengungkapkan, orang tuanya bertanya, kok tidak bilang dari dulu?

“I didn’t know I could.” Saya tidak tahu bahwa saya bisa.

Dawkins yang mempromosikan gagasannya tentang ateisme. Menurut Dawkins, banyak orang yang sudah memiliki keraguan dengan agama. Namun mereka tak kunjung berani memutuskan untuk menjadi ateis. Kenapa? Tidak percaya diri.

Saya tidak sedang menyebarkan ateisme seperti Dawkins. Saya hanya menawarkan pendekatan yang lebih rasional soal agama. Saya sepenuhnya sadar bahwa fondasi yang paling dasar dari agama adalah dogma. Apa boleh buat, saya tidak akan mengusik hal itu. Tapi pada level yang lebih teknis, agama tidak hanya melibatkan dogma, tapi juga mitos-mitos. Pendekatan rasional untuk membuang mitos-mitos yang tidak perlu, bahkan membahayakan dalam beragama.

Salah satu yang sering dipenuhi mitos adalah sejarah. Nabi misalnya, disebutkan hanya menikahi janda-janda tua yang suaminya syahid dalam perang. Padahal tidak begitu. Nabi menikahi bekas istri anak angkatnya, juga istri orang Yahudi yang ditaklukkan di Khaibar. Keduanya cantik. Ia juga punya budak Koptik bernama Maria, juga budak Yahudi bernama Ruhana.

Perang dalam Islam dimitoskan hanya untuk membela diri. Namun faktanya, dalam sejarah, perang oleh kekhalifahan Islam meluaskan kekuasaannya samai ke Persia, Afrika, dan Eropa. Para khalifah, khususnya khulafaur rasyidin, digambarkan bak orang suci yang semata mengabdi untuk Allah. Namun bila kita kaji sejarah dengan jujur, maka akan kita temukan fakta-fakta bahwa mereka pun melakukan berbagai manuver politik sebagaimana para penguasa dalam sejarah peradaban lain.

Mitos-mitos ini tidak hanya sebatas pada aspek sejarah. Pada aspek syariat juga banyak berkembang mitos-mitos.

Saya memilih untuk mengaji Islam dengan membuang mitos-mitos itu. Konsep saya tentang Islam kemudian saya bangun berbasis pada kejujuran saya melihat Islam secara apa adanya.

Salah satu contoh pendekatan yang saya ambil adalah soal hubungan dengan Yahudi dan Nasrani. Quran banyak menyatakan kedekatan dengan kedua umat ini. Namun pada saat yang sama Quran juga banyak mengecam keduanya. Bahkan, Quran melarang untuk melakukan aliansi dengan mereka, dan menganggap mereka sebagai kaum (musuh) yang tidak akan pernah ridha terhadap umat Islam.

Meski soal di atas termuat secara tegas (qath’i) dalam Quran, saya memilih untuk menganggapnya sebagai mitos saja. Permusuhan dan persekutuan adalah sesuatu yang kontekstual sifatnya. Tidak ada musuh atau sekutu yang abadi. Ayat yang saya sebut di atas berisi sebuah tendensi untuk menjadikan permusuhan itu abadi. Kedua kaum itu dimitoskan sebagai kelompok yang tidak pernah ridha.

Fakta sejarah menunjukkan bahwa ada kalanya orang-orang Yahudi dan Nasrani memusuhi Islam. Tentu saja tidak bisa disangkal bahwa permusuhan itu dari sisi umat Islam digerakkan oleh ayat tadi. Namun di sisi lain, ada banyak fakta yang menunjukkan bahwa kerja sama antara umat Islam dengan mereka bisa berjalan baik. Salah satu contohnya adalah negara ini. Negara ini dibentuk melalui kesepakatan berbagai elemen bangsa, di antaranya oleh kalangan Islam dan Kristen. Artinya, kita bisa saling ridha dengan kaum Nasrani, bertolak belakang dengan mitos permusuhan abadi yang digambarkan di Quran tadi.

Banyak orang yang sebenarnya tahu dan sadar soal mitos-mitos ini, tapi tidak punya keberanian untuk merumuskannya secara tegas. Kenapa? Karena mereka mengira mereka tidak bisa. I didn’t know I could.

Tradisi pemikiran Islam sekarang ini memang sedang membangun tembok ekslusivisme. Ilmu Islam dibuat tampak rumit, sehingga hanya orang-orang tertentu yang bisa mengaksesnya, dan diberi otoritas untuk berpendapat. Orang-orang seperti saya, yang berangkat dari latar belakang sains, otomatis dianggap tidak komperen. Lucunya, yang kompeten seperti Quraish Shihab, Nurcholis Madjid, atau Gus Dur, juga sering diabaikan, karena berpendapat berbeda dengan arus utama.

Lebih konyol lagi, pandangan otoritatif ini runtuh seketika saat ada orang asing (kafir) bersuara tentang Islam atau Quran, yang suaranya menggembirakan. Lihatlah bagaimana umat Islam menyambut gagasan Bucaille dengan gegap gempita, tanpa mempermasalahkan kompetensi Bucaille dalam hal ulumul Quran maupun ulumul hadist.

Tulisan-tulisan saya banyak dikomentari dengan pernyataan bahwa gagasan yang sama pernah dipikirkan oleh banyak pembaca. Namun banyak dari mereka yang tidak bisa merumuskannya dengan baik. Atau, banyak dari mereka yang mengira bahwa gagasan itu tabu untuk dirumuskan.

Saya ingin mengajak kepada orang-orang untuk berpikir. Yes, you can. Anda bisa berpikir, dan bisa terus mengaji, untuk menemukan sendiri jalan Anda dalam berislam. Jangan mau terjebak dalam gagasan yang bertentangan dengan basis pikir Anda sendiri. Saya tak mengajak Anda untuk mengikuti saya. Saya mengajak Anda membangun jalan untuk Anda sendiri.

One thought on “I Didn’t Know I Could”

  1. Saya tertarik kajian kang Hasan mengenai Islam pada akhirnya seperti apa setelah mengeliminasi dogma-dogma dan mitos-mitos di dalam agama?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *