Gathukology dan Obsesi Islam Kaffah

11 November 2015 5 Comments

gathukAda banyak orang yang terobsesi untuk mencocokkan Quran dengan sains. Klaimnya, banyak fakta sains yang baru diketahui manusia pada abad ke XX ini sudah tertulis di Quran. Sebutlah misalnya soal proses perkembangan embrio, gunung yang berjalan, gunung sebagai pasak bagi bumi, teori big bang, besar kecepatan cahaya, dan sebagainya. Lebih dahsyat lagi, kecocokan Quran dan sains modern itu diklaim telah menyebabkan banyak ilmuwan dan profesor masuk Islam. Uniknya, Keith Moore dan Maurice Bucaille, dua tokoh yang menulis buku tentang kecocokan Quran dan sains, tidak pernah ada konfirmasi tegas soal status keislamannya.

Lebih parah lagi, pencocokan ini kemudian diikuti dengan produksi berbagai fakta palsu alias hoax. Misalnya tentang “fakta ilmiah” tentang larangan pemakaian emas. Atau tentang penelitian terhadap sayat lalat, dan sebagainya.

Apa sebenarnya yang mendorong adanya semangat ini? Pertama, ini yang sering dikemukakan, Quran cocok dengan sains adalah bukti bahwa Quran ini kebenaran yang datang langsung dari Allah. Tidak mungkin ini karangan Muhammad. Karena nabi Muhammad tidak mengerti sains, bahkan seorang yang buta huruf. Jadi, ia hanya menyampaikan fakta-fakta saja, yang baru kemudian hari, belasan abad kemudian dipahami orang.

Kadang saya berpikir, sadarkah orang-orang ini bahwa mereka sebenarnya sedang melecehkan Quran dan nabi Muhammad? Coba bayangkan. Nabi Muhammad (dianggap) tidak mengerti sains. Fakta-fakta sains yang dimuat di Quran itu tidak mungkin dipahami manusia abad ke VII, zaman nabi masih hidup. Lalu, apakah itu berarti nabi menyampaikan sesuatu yang tidak ia pahami? Sekedar perekam pesan tanpa paham maknanya?

Quran adalah petunjuk yang nyata. Artinya jelas. Lalu, bagaimana mungkin sebuah petunjuk tidak dipahami orang selama belasan abad bisa disebut petunjuk yang jelas? Apa bukan sebaliknya, ini sebuah petunjuk yang kabur?

Ada pula yang berargumen, kalau fakta-fakta sains itu dimuat dalam bahasa yang tegas dan jelas, dikhawatirkan orang-orang pada masa itu akan menolaknya, karena berbeda dengan kenyataan yang mereka hadapi. Kalau begitu, kenapa orang-orang itu bisa menerima kabar tentang perjalanan Isra’ Mikraj, yang jelas tidak masuk akal pada zaman itu? Argumen ini sekaligus menempatkan Allah seperti tak berkuasa memberi petunjuk kepada manusia, takut manusia tak paham, dan seterusnya.

Ada satu hal lagi yang sebenarnya menjadi pendorong bagi paham ini, yaitu bahwa Quran itu benar dalam setiap ayat dan hurufnya. Benar secara tekstual. Benar seperti apa adanya. Karena ia benar pada setiap ayat dan hurufnya, maka ia harus pula dilaksanakan ayat per ayat, sebagaimana tertulis. Ia boleh dilepaskan dari berbagai konteks yang menjadi latar belakangnya. Ia harus dilaksanakan, sebagaimana orang-orang abad VII menerapkannya, tanpa mempertimbangkan perubahan kondisi dan zaman. Penerapan yang demikian itu disebut dengan Islam kaffah.

Terhadap orang-orang macam ini sering saya sodorkan ayat-ayat yang memuat frase “azwaazukum (atau azwaazuhum) aw maa malakat aimaanukum”. Frase ini menjelaskan bahwa penyaluran kebutuhan seksual dapat dilakukan terhadap istri-istri dan budak-budak yang dimiliki. Frase ini bertebaran di seluruh antero Quran. Silakan laksanakan, biar kaffah. Lalu mereka kehilangan konsistensi, mendadak menjadi liberal, menyatakan bahwa Islam sebenarnya menginginkan penghapusan perbudakan secara bertahap. Padahal tidak ada satupun ayat maupun hadist yang tegas mengharamkan perbudakan, sebagaimana tegasnya pengharaman khamar atau daging babi.

Ziauddin Sardar mengungkapkan fakta menarik, bahwa ada 700 lebih ayat yang menyuruh orang untuk memperhatikan alam. Ilustrasinya disesuaikan dengan pengetahuan manusia pada masa itu. Jumlah ini kontras dengan jumlah ayat-ayat tentang hukum, yang jumlahnya tak lebih dari 300. Lebih menarik lagi, Quran bahkan menantang manusia (sejak zaman itu) untuk mengarungi langit.

Apa artinya ini? Quran tidak menjabarkan satu per satu fakta tentang alam. Kenapa? Karena tidak perlu! Fakta tentang alam tidak ada yang statis sifatnya, tidak fixed. Sains hanyalah kumpulan pemahaman manusia tentang alam, bukan alam itu sendiri. Karena itu sains selalu berubah. Maka, alih-alih memberi penjelasan tegas soal ini dan itu, Quran lebih banyak menyuruh untuk melakukan pengamatan. Tafakkur, ta’qil, tadabbur. Lihat, pelajari, pikirkan, manfaatkan. Sayangnya pesan ini tidak bisa ditangkap. Orang-orang Islam kebanyakan lebih terobsesi untuk memperlakukan Quran sebagai kitab hukum, untuk membekukan peradaban seperti peradaban manusia abad ke VII.

 

 

 

5 thoughts on “Gathukology dan Obsesi Islam Kaffah”

  1. Maksudnya “Fakta tentang alam tidak ada yang statis sifatnya, tidak fixed” apa? Mgkn mksd anda sains?!

Leave a Reply to Purwono Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *