From a Distance

14 March 2016 2 Comments

“From a distance
You look like my friend
Even though we are at war”

Saya dulu adalah pembenci. Saya membenci orang-orang Kristen. Saya juga membenci orang-orang Cina. Mereka adalah orang-orang minoritas di negeri ini, tapi mereka menguasai semuanya. Siapa penguasa ekonomi Indonesia? Cina. Siapa pengaturnya dalam pemerintahan? Orang Krsiten.

Saya percaya bahwa orang-orang Kristen ini terus menerus melakukan kristenisasi. Mereka terus berupaya menggerus jumlah umat Islam Indonesia, memasukkan mereka ke Kristen. Suatu saat nanti jumlah mereka akan setara dengan jumlah umat Islam. Atau bahkan melebihi umat Islam, sehingga nanti merekalah yang menjadi mayoritas. Mereka melakukan berbagai cara untuk Kristenisasi itu, termasuk cara-cara yang keji sekalipun.

Mereka akan selalu berusaha merebut pos-pos penting dalam pemerintahan, agar mereka jadi pemegang kendali. Kalau pimpinan suatu kantor adalah orang Kristen, maka ia akan menempatkan orang-orangnya di pos-pos di bawahnya. Nanti seluruh jajaran yang ia pimpin akan diisi oleh orang-orang Kristen semua.

Maka bagi saya orang Kristen itu musuh. Musuh utama. Waktu kuliah saya dan teman-teman menyebut mereka dengan berbagai julukan. Kelompok wa lan tardha, musuh Islam yang digambarkan dalam surat Al-Baqarah, atau orang palang, mengacu kepada bentuk salib. Orang-orang ini harus diawasi gerak geriknya, dan dihalangi tindakan-tindakannya. Makanya, ketika ada isu bahwa di kampus UGM akan didirikan gereja, saya dan kawan-kawan bergerak untuk menghalanginya.

Lalu saya pergi kuliah ke luar negeri. Pertama ke Malaysia, untuk belajar bahasa Jepang, tahun 1996. Saat itu meletuslah kerusuhan Situbondo. Ada seseorang, muslim, yang dituduh menghina Islam. Ia diadili, dan waktu di pengadilan massa yang tak terkendali bermaksud membunuhnya. Ia diamankan, tapi berhembus kabar bahwa ia disembunyikan di gereja. Lalu orang mengamuk membakar gereja. Sejenak ada rasa senang melihat musuh saya dirusak rumah ibadahnya. Tapi akal sehat saya mulai bekerja, membisikkan pesan,”Apa salah mereka?”

Kemudian saya ke Jepang. Meletuslah kerusuhan Ambon. Saya melihat kerusuhan Ambon sebagai bentuk kekejian orang-orang Kristen. Mereka memang tidak akan pernah diam, selalu mengganggu orang Islam. Termasuk di dalamnya, mereka akan tega membantai. Maka kebencian saya terhadap orang-orang Kristen memuncak hari itu.

Di berbagai mailing list kerusuhan itu dibahas. Terjadi saling tuduh. Orang Islam menuduh orang Kristen keji. Sebaliknya orang Kristen menuduh orang-orang Islam yang keji. Suatu hari, ada email masuk, dengan lampiran foto-foto korban kerusuhan. Mereka mati dalam keadaan mengerikan. Keterangan foto, itu adalah orang-orang Islam, korban kekejian Kristen. Tapi kemudian foto yang sama masuk lagi ke kotak pesan email saya. Kini keterangannya terbalik, ini adalah orang Kristen, korban kekejian orang Islam.

Lalu saya menangis. Korban-korban itu tak bisa saya kenali identitasnya. Saya tak tahu mereka Islam atau Kristen. Tapi ada 2 hal yang bisa saya pastikan: mereka orang Indonesia, dan mereka mati dibunuh, oleh orang Indonesia juga. Ketika sudah jadi mayat begitu, sepertinya tak penting lagi mereka Islam atau Kristen. Mereka mati, itu yang pasti.

Kemudian pecah lagi kerusuhan lain. Poso, Sampit. Semua mengalirkan darah belaka. Lalu Sambas. Dulu kerusuhan di Kalimantan Barat selalu terjadi antara Dayak dan Madura. Dayak Kristen, Madura Islam. Tapi kini terjadi antara orang Melayu dan Madura, sama-sama Islam. Kenapa bisa terjadi?

Lalu saya merenung dan belajar. Fakta-fakta yang dulu saya lihat, saya ingat lagi, tapi dengan bingkai yang berbeda. Saya ingat, tim ekonomi kabinet Soeharto pernah dikuasai oleh orang-orang Kristen, yaitu Radius Prawiro, JB Sumarlin, dan Adrianus Mooy. Orang Islam menyebut mereka Trio RMS, Radius-Mooy-Sumarlin. Tapi kemudian orang-orang Islam tampil. Mar’ie Muhammad, Saleh Afif, dan Fuad Bawazier. Adakah bedanya? Tidak. Mereka mungkin saja mengangkat orang-orang dekat untuk jabatan-jabatan penting, dan mereka kebetulan muslim. Tapi tidak ada yang lebih dari itu. Umat Islam tidak menjadi istimewa karena itu.

Lalu, benarkah orang-orang Cina menguasai ekonomi? Ya. Konglomerat di masa Soeharto kebanyakan adalah Cina belaka. Tapi ada juga yang pribumi seperti Bakrie, anak-anak Soeharto, Kalla, dan lain-lain. Apa perbedaan mereka? Tidak ada. Sama-sama bermain di sekeliling Soeharto. Cina-cina itu korup? Iya, banyak. Tapi teman mereka yang membantu adalah para pribumi, dan muslim. Mereka sama korupnya dengan Cina-cina itu.

Waktu di Sendai kami belum punya mesjid. Kami beribadah dengan menyewa sebuah ruangan apartemen. Ini sebenarnya ruangan yang peruntukannya adalah rumah tinggal, bukan tempat kumpul komunitas. Tapi pemiliknya berbaik hati menyewakannya kepada kami, meski kami pakai menyimpang dari peruntukan. Para penghuni lain di bangunan itu juga tidak keberatan. Saya terkesan dengan kebaikan mereka.

Kemudian saya pindah ke Kumamoto, di mana komunitas muslimnya lebih kecil. Kami tidak punya cukup uang untuk menyewa apartemen. Untuk salat Jumat, kami memakai satu ruangan di kampus yang dipinjamkan oleh seorang profesor. Suatu hari ada profesor yang menggugat soal ruangan itu. Menurut dia, itu ruangan kampus yang harus dipakai untuk keperluan akademik, bukan untuk agama. Kami tidak bisa salat Jumat selama beberapa pekan. Untung akhirnya ada profesor yang bisa membujuk profesor tadi, sehingga kami bisa kembali memakai ruangan tadi.

Saya merenung lagi. Alangkah pedihnya bila kita tidak bisa beribadah karena kita tidak punya tempat ibadah. Saya jadi teringat pada gereja-gereja yang dirusak, dan dihalangi pembangunannya. Tentu orang-orang Kristen itu sangat sedih dengan kenyataan itu.

Ada pergulatan batin bertahun-tahun yang saya alami, lalu saya sampai pada kesimpulan bahwa kebencian dan permusuhan tidak membawa manfaat apapun. Kebencian dan permusuhan dikobarkan oleh sekelompok orang yang berebut jabatan. Mereka aman menikmati kekayaan dan jabatan. Kalaupun kalah, setidaknya mereka masih berada dalam jajaran elit. Kita yang diadu, mati. Kalaupun kelompok kita memenangkan persaingan, kita tidak dapat apa-apa. Sekedar kesenangan semu, seperti kesenangan saat tim favorit kita menang di pertandingan sepak bola piala dunia.

Lalu saya putuskan untuk berhenti memusuhi. Berada jauh dari Indonesia telah memberi ruang kepada saya untuk melihat Indonesia secara utuh. Melihatnya dari Sabang sampai Merauke sebagai sebuah kesatuan. Berdiri menyanyikan lagu Indonesia Raya membuat dada saya bergemuruh. Menyaksikan para penari Bali menari dengan indah, disaksikan wajah-wajah kagum para penonton Jepang, membuat air mata saya tumpah ruah. Saya sangat bangga, padahal saya bukan orang Bali. Padahal tarian-tarian itu dulu saya anggap sebagai budaya musyrik, milik musuh-musuh saya.

Saya kini punya kesadaran baru. Saya orang Melayu, campur Bugis. Saya orang Kal-Bar. Tapi di atas itu semua, saya orang Indonesia!

2 thoughts on “From a Distance”

  1. Sebagai orang Indonesia yang terlahir sebagai suku Tionghoa dan memilih menjadi Kristen, saya ucapkan congratulation kang. Dari hati saya yang paling dalam.

    Saya jadi ingat Carl Sagan pernah mengomentari sebuah foto bumi yg difoto dari spacecraft Voyager yang melintasi Saturnus (atau Uranus?), 6.4 miliar kilometer dari bumi. Pengelana yang satu ini sudah traveling lebih jauh dari kita semua.

    https://youtu.be/4PN5JJDh78I

    Terima kasih tulisan akang. Sungguh mencerahkan.

    Dari seorang Indonesian.

  2. kita mengetahui bahwa sebuah bola itu bulat apabila kita berada diluarnya…….kita (baru) tahu (dan menyadari) bahwa bangsa kita ini seperti krayon yang berbeda2 warnanya, akan tetapi ketika menggambar pelangi akan terlihat menjadi indah karena perbedaannya. Kondisi yang jauh dari kampung halaman membuat kita menjadi “lebih bijak”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *