Erlis Alnur

28 August 2021 0 Comments



Dari luar ruang kelas kulihat Pak Erlis sedang mengajar. Masih dengan gayanya yang dulu. Ia tak duduk di kursi, melainkan duduk di pegangan kursi, tempat tangan orang biasa diletakkan. Ia tampak santai berdiskusi dengan para mahasiswa. Dengan sabar kutunggu sampai Pak Erlis selesai mengajar. Ah sebenarnya tak perlu kesabaran untuk menunggunya selesai. Aku sungguh menikmati tontonan itu, melihat kembali Pak Erlis mengajar.
Usai mengajar beliau keluar ruangan, menemuiku. Melalui abangku yang berteman dengan Pak Erlis, kami memang sudah berjanji untuk bertemu siang ini.

“How are you?” sapa Pak Erlis dengan senyum ramah.

“I’m fine. Glad to see you in a good health.”

“Thank you.”

“By the way, do you still remember me?”

“Yeah, I do. I have a lot of students, and I barely remember everybody. But surely, I remember you.”

Pak Erlis adalah guru bahasa Inggrisku. Bukan guru di sekolah, tapi di kursus. Kami sudah terbiasa berbincang dalam bahasa Inggris, maka ketika bertemu kembali setelah belasan tahun tak saling bertemu secara otomatis kami berbincang dalam bahasa Inggris.

Keinginanku untuk fasih berbahasa Inggris bermula setelah aku melihat beberapa santri pesantren Gontor yang datang ke sekolahku untuk mempromosikan sekolah mereka. Terbit keinginanku untuk melanjutkan sekolah ke Gontor setelah aku tamat madrasah tsanawiyah. Tapi keinginan itu tak sampai, karena Ayah dan Emak tak sanggup membiayai. Ikut kursus bahasa Inggris kemudian jadi pilihan untuk mewujudkan keinginanku. Guru bahasa Inggrisku di sekolah, Ibu Rukaiyah menyanggupi untuk membayar biayanya. Jadilah aku mendaftar.

Guru pertamaku di tempat kursus itu tak kuingat lagi namanya. Aku ikut kelas dasar yang suasananya mirip dengan pelajaran bahasa Inggris di sekolah. Aku belajar tata bahasa lagi. Bedanya, gurunya punya lafal pengucapan yang jauh lebih baik dari guru di sekolah. Aku tak merasa mendapat sesuatu yang lebih. Usai mengikuti kelas ini selama sebulan, aku putuskan untuk ikut kelas percakapan. Di kelas itulah aku ketemu Pak Erlis.

Kelas Pak Erlis sudah terasa berbeda sejak awal. Kami tak lagi belajar tata bahasa, tapi belajar berbicara. Tentu saja dengan tata bahasa yang baik. Mulai dari cara memperkenalkan diri, lalu bertanya tentang ini itu. Pak Erlis mengajarkan bagaimana cara mengungkapkan sesuatu.

Aku sungguh menikmati setiap kelas yang aku hadiri. Pak Erlis selalu tampil santai. Ia duduk seenaknya, dan tak pernah rewel soal pakaian atau sikap murid-muridnya. Ia juga suka bercanda. Wajahnya selalu ceria. Hal lain yang menarik adalah pelafalannya. Dia terdengar sangat fasih, dengan aksen seperti orang Amerika. Dan aku selalu berusaha meniru pelafalannya itu.

Ketika kursus sudah berlangsung beberapa bulan, kami tak lagi sekedar berlatih berbicara mengikuti tuntunan buku teks. Pak Erlis mengajak kami berdiskusi tentang suatu topik. Sungguh pengalaman luar biasa ketika aku sadari bahwa kini aku bisa berbicara, tidak sekedar berbincang mengikuti buku, tapi membangun kalimat sendiri, menyatakan pendapatku.

Pak Erlis juga suka bercerita tentang banyak hal. Pengalamannya kuliah di IKIP Jakarta, juga pengalamannya pergi ke Amerika. Pergi ke luar negeri adalah mimpi yang selalu aku genggam saat itu. Sosok Pak Erlis memberiku motivasi. Aku ingin ke luar negeri pula, seperti Pak Erlis.

Ada sekitar dua tahun aku belajar di kelas Pak Erlis, tiga kali seminggu. Ketika aku tamat madrasah tsanawiyah dan melanjutkan ke SMA, aku sudah cukup fasih berbahasa Inggris. Di sekolah aku tak lagi berbicara dalam bahasa Indonesia dengan guru bahasa Inggrisku. Tentu saja nilai pelajaranku selalu bagus. Kursusku terhenti ketika Pak Erlis sering tidak hadir di kelas. Kabar yang aku dengar beliau sakit, tapi tak jelas apa penyakitnya. Sejak itu aku tak pernah bertemu lagi dengan dengan Pak Erlis, sampai hari itu, ketika aku menemuinya kembali setelah belasan tahu berpisah. Saat itu aku baru saja menyelesaikan program dotor di Jepang, pulang sejenak untuk berlibur sebelum bekerja sebagai peneliti di Kumamoto University.

“I came to see you. I’ve been missing you. I came to thank you for every moment I had in your classes. Without those moments, I wouldn’t be what I am now.”

“I am glad to see you became somebody. I’ll always pray for your success.” kata Pak Erlis.

Terima kasih, Pak. God bless you.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *