Dengki

6 January 2017 0 Comments

Ibu mertua saya pernah bercerita tentang kejadian di keluarganya. Cerita yang menyedihkan. Ayahnya waktu muda adalah seorang pedagang di daerah lain. Ketika menikah, oleh mertuanya ia diminta menetap di kampung. Ia diberi hak mengelola sebidang tanah, yang kemudian ia tanami cengkeh. Dengan tekun tanah itu ia kelola, sampai jadi kebun yang menghasilkan.

Ketika ia sudah berhasil dan mulai hidup makmur, mulailah saudara-saudara istrinya menggugat. Mereka menuntut hak atas kebun itu, karena tanahnya adalah tanah ayah mereka. Mereka tidak hanya menuntut sebagian, tapi semua. Entah bagaimana caranya tetua kampung mereka pengaruhi, sehingga setuju pada tuntutan mereka. Keluarga pemilik kebun cengkeh itu diteror dan diusir.

Ibu mertua saya bercerita bagaimana ia ketakutan saat rumahnya dilempari, ia diancam akan dibunuh, pada saat usianya baru 8 tahun. Akhirnya mereka pergi dari kampung itu, lari ke Pekanbaru.

Lalu, apa yang terjadi? Apakah perampas kebun itu hidup makmur? Tidak. Ibu bercerita, tak sampai setahun sejak mereka hidup di Pekanbaru, ia pernah melihat keluarga itu berjualan di emperan pasar. Apa yang terjadi? Kebun yang mereka rebut ternyata tak menghasilkan cengkeh sebagaimana dulu.

“Mungkin itulah hukuman langsung dari Allah,” kata ibu. Mungkin begitu. Tapi saya melihatnya sedikit berbeda. Banyak orang yang hanya bisa melihat hasil, bukan proses. Orang mengira kalau punya sebidang kebun cengkeh, mereka akan selalu bisa menikmati hasilnya, tanpa perlu berbuat apa-apa. Kenyataannya, kebun perlu perawatan untuk memberikan hasil yang baik. Kebun yang tidak dirawat hanya akan menghasilkan rumput dan tikus.

Dalam versi yang berbeda saya sering pula menemukan orang-orang yang dengki. Mereka memusuhi pengusaha, termasuk investor asing. Dalam kasus saya, investor Jepang. “Orang-orang Jepang itu enak saja menjajah kita. Dulu mereka menjajah, sekarang masih menjajah. Mereka datang, bawa modal, memeras buruh, meraup untung sebanyak-banyaknya, kita hanya dapat uang receh,” begitu keluhan orang-orang. Benarkah?

Tahun 2014 saya hadir di sebuah konferensi, pertemuan para eksekutif perusahaan grup kami untuk Asia Tenggara di Singapura. Dalam diskusi itu ada beberapa term manajemen yang tidak begitu saya pahami. Pulang dari situ saya dipanggil oleh pimpinan saya. “Mungkin kamu tidak paham apa yang dimaksud dengan parameter ini. Ini adalah perbandingan antara cost dan profit dari tahun ke tahun. Intinya, kita tidak hanya diminta untuk menambah profit setiap tahun, tapi juga terus menerus memperbesar gap antara cost dan profit.”

“Bagaimana caranya?”

“Pada dasarnya kita itu pengumpul uang receh. Betul, bahwa kita punya teknologi dan dengan itu kita berbisnis. Tapi profit biasanya datang dari uang receh. Efisensi di setiap proses produksi, juga pada kegiatan pendukung, kaizen yang kecil-kecil, menghasilkan selisih biaya kecil-kecil, kemudian terkumpul menjadi besar.”

Tak terlalu sulit bagi saya untuk memahami itu. Sebelum masuk di perusahaan sekarang, 6 tahun lebih saya menjadi mandor pabrik. Kebetulan perusahaan itu baru, saya bergabung saat perusahaan sedang mempersiapkan diri untuk berproduksi. Tiga tahun pertama kami rugi besar. Baru tahun keempat mulai untung. Kini, perusahaan itu untung besar.

Perusahaan itu membuat produk dengan proses assembly. Setiap assembly line adalah pertaruhan untung rugi. Satu line yang kita set beranggotakan 10 orang, akan memberi profit bila menghasilkan produk sesuai target kualitas maupun kuantitas. Bila tidak tercapai, rugi. Karyawan pabrik sering bolos sesukanya. Kondisi ideal line tidak tercapai. Maka target tidak tercapai. Hanya rugi yang kita tuai.

Perlu proses panjang untuk mendidik orang, membuat sistem, mencari celah untuk mendapatkan profit. Hitungannya hanya 5-10 rupiah per produk. Benar-benar mengumpulkan uang receh.

Pernah saya menangis melihat pembukuan kami dalam sebulan. Profit yang kami kumpulkan dari berbagai kreatifitas, sirna begitu saja oleh selisih kurs. Teman saya waktu itu mengeluh,”Kalau begitu untuk apa kita capek-capek melakukan perbaikan kemarin? Tidak ada artinya sama sekali.”

Saya hibur dia. “Maknanya, kita bekerja. Kita melakukan bisnis. Pukulan eksternal seperti ini harus kita sadari sebagai proses bisnis. Kita tidak suka, tapi beginilah bisnis. Kalau tidak mau begini, kita tidak usah bekerja di dunia bisnis.”

Jadi begitulah. Banyak orang mengira bisnis itu hanya soal putar-putar uang, lalu menghasilkan uang lagi dalam jumlah besar. Orang hanya melihat hasilnya, tidak melihat prosesnya. Itulah orang-orang yang dengki.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *