Beriman dengan Dua Perspektif

21 April 2016 0 Comments

two-point-perspective-6Salah satu titik benturan antara pandangan kaum konservatif dengan kaum liberal dalam Islam adalah soal bagaimana memandang iman selain Islam. Bagi kaum konservatif, Islam adalah satu-satunya kebenaran. Innad diina ‘indallahil islaam. Agama di sisi Allah itu hanya Islam. Ini adalah pandangan ekslusif. Sementara itu bagi kaum liberal, iman itu inklusif. Agama itu baik semua, karena mengajarkan kebaikan-kebaikan.

Bagi saya, kedua perspektif itu, ekslusif dan inklusif, harus dipakai secara bersamaan atau bergantian.

Titik paling fundamental soal iman adalah percaya pada yang gaib. Gaib artinya tidak terjangkau oleh pancaindra. Bahkan tidak terjangkau oleh akal maupun imajinasi. Beriman artinya percaya begitu saja kepada pembawa pesan (messenger-rasul), tanpa memerlukan pembuktian faktual atau logis.  Kita tidak memerlukan seorang nabi untuk meyakinkan kita tentang sesuatu yang bisa kita tangkap dengan indra, atau sesuatu yang punya pijakan logika. Kita tidak memerlukan seorang nabi untuk memberi tahu kita bahwa hari sedang hujan, karena kita bisa memastikannya sendiri. Kita memerlukan nabi untuk memberi tahu kita bahwa hujan itu adalah ciptaan Tuhan.

Apa dasar kita untuk memilih kepada pembawa pesan yang mana kita beriman? Jujur saja, sebenarnya sebagian besar dari kita tidak memilih, melainkan dipilihkan. Agama kita dipilihkan oleh orang-orang di sekitar kita beberapa detik setelah kita lahir, lalu kita hidup mempertahankan pilihan itu seumur hidup. Tentu ada orang-orang yang pindah agama, memilih sendiri imannya. Tapi apakah dia memilihnya dengan logika? Tidak. Bagaimana mungkin orang memilih Tuhan dengan logika, padahal Tuhan tak bisa dilogikakan? Orang pindah agama dengan alasan merasa nyaman, cocok, atau merasa tertuntun oleh sesuatu. Intinya, dasar pemilihannya bukan logika.

Setiap orang tentu yakin dengan apa yang ia pilih. Memilih sesuatu yang tidak diyakini bukanlah iman, itu hanya ikut-ikutan. Keyakinan itu diekspresikan dengan ungkapan-ungkapan seperti tadi, agama di sisi Allah hanyalah Islam. Atau, tidak akan sampai seseorang kepada Bapa melainkan melalui aku. Semua agama punya doktrin itu. Inilah sumber perspektif ekslusif tadi.

Pada saat yang sama, dengan kesadaran tentang apa itu iman, maka kita juga sadar bahwa ada orang lain yang sama dengan kita. Mereka beriman pada sesuatu yang mereka pilih begitu saja. Mereka beriman kepada sesuatu yang berbeda dengan kita, tapi dengan cara yang persis sama dengan kita, yaitu percaya begitu saja.

Bisakah kita menyalahkan iman orang lain? Bisa. Tapi pada saat yang sama, orang lain juga bisa menyalahkan iman kita. Dengan apa kita menyalahkan iman orang lain? Dengan iman kita. Orang Islam menyalahkan iman Kristen yang menganggap Yesus itu anak Tuhan. Kenapa salah? Karena Quran mengatakan begitu. Adakah dari kedua golongan itu yang bisa memverifikasi Yesus itu anak Tuhan atau bukan? Tidak ada. Mereka hanya percaya saja dengan apa yang mereka percayai.

Menurut saya kita sebaiknya beriman dengan cara ini. Ia yakin dengan yang ia imani, tapi pada saat yang sama ada pula orang yang yakin dengan imannya. Dengan begitu pertanyaan tentang apakah iman orang lain itu benar atau salah menjadi tak relevan. Demikian pula soal apakah penganut agama lain masuk surga atau tidak. Surga dan neraka, sebagaimana Tuhan, adalah wilayah gaib yang tak bisa kita verifikasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *