Berbagi Pekerjaan Rumah

12 June 2016 0 Comments

men-ki

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kalau saya memamerkan masakan di Facebook, masih ada saja yang heran dan bertanya,”Kok suami yang masak? Emang istrinya ngapain?” Kemarin di salah satu posting teman saya juga ada orang yang komentar,”Masak itu urusan perempuan.”
 
Beberapa teman pernah mengeluh pada saya soal suaminya yang sama sekali tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah tangga. “Padahal kami sama-sama kerja. Tiba di rumah sama-sama dalam keadaan lelah, dia sama sekali tidak mau membantu. Bahkan untuk sekedar kopi untuk minum dia sendiri, dia tidak mau membuatnya.”
 
Begitulah. Banyak orang yang menganggap bahwa pekerjaan rumah tangga bukan urusan lelaki.
 
Bagi saya rumah itu tempat kita hidup bersama. Maka apapun kebutuhan di rumah itu adalah tanggung jawab bersama. Tanggung jawab itu dibagi bersama anggota rumah tangga. Bagaimana pola pembagiannya, tidak ada aturan baku. Itu terserah kesepakatan anggota rumah tangga tersebut. Tapi prinsip dasarnya semua orang harus berperan.
 
Prinsip berbagi kerja ini tetap harus berlaku meski kita punya pembantu rumah tangga. Punya pembantu bukan berarti kita boleh membebankan semua urusan rumah tangga kepada dia. Ada orang yang begitu. “Saya kan sudah bayar gaji dia, ngapain saya mesti kerja lagi,” begitu prinsipnya. Maka kadang ada pembantu yang bekerja laksana budak, tidak berhenti dari pagi hingga malam.
 
Di rumah kami biasa berbagi pekerjaan. Bangun pagi kalau istri saya membersihkan rumah, maka saya akan sibuk di dapur, menyiapkan sarapan. Bisa pula sebaliknya, kalau istri saya menyiapkan sarapan, saya mengambil inisiatif membersihkan rumah. Anak-anak juga mendapat tugas, sesuai kemampuan mereka. Menjelang makan masing-masing mendapat tugas menata piring dan makanan di meja. Selesai makan mereka membersihkan meja, dan ada yang bertugas mencuci piring. Tak ada pembagian khusus mana yang harus dikerjakan oleh anak laki-laki atau anak perempuan. Anak-anak juga biasa membantu menjemur dan mengangkat cucian. Atau membantu menyapu dan mengepel, atau cuci mobil.
 
Di hari kerja waktu saya dan anak-anak terbatas, karena sebagian besar dihabiskan di kantor dan sekolah. Tapi tetap saja kami berbagi. Tugas rutin saya setiap pagi adalah menjemur cucian. Tempat jemur kami kebetulan di lantas atas. Membawa pakaian basah ke atas memang agak berat bagi istri saya. Maka setiap pagi saya melakukan. Siang ketika pakain sudah kering dan ringan, anak-anak mengambilnya. Malam hari selesai makan kami berbagi tugas membersihkan meja dan cuci piring.
 
Saya memang suka memasak. Tapi tidak setiap saat saya masak karena suka. Kadang dalam keadaan lelah dan tidak ingin, saya tetap masak, karena harus ada yang masak. Ketika sedang dalam keadaan itu saya bangkitkan rasa suka, sehingga pekerjaan itu tidak jadi beban.
 
Mengapa masih harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga meski istri tidak bekerja di luar? Karena ini rumah kita bersama, maka harus kita kelola bersama. Di samping itu hal ini penting bagi pendidikan anak-anak. Anak-anak harus terbiasa punya tanggung jawab dan kepedulian. Jangan sampai terjadi ibu sibuk di dapur anak-anak asyik nonton TV atau main game, tanpa ada kepedulian untuk membantu. Intinya, jangan biasakan anak-anak jadi bebal, bisa santai tidak peduli saat orang lain di sekitarnya sibuk mengerjakan sesuatu. Apalagi yang dikerjakan itu untuk kepentingan bersama.
 
Hal terakhir, mengerjakan pekerjaan rumah tangga itu membahagiakan. Saya punya prinsip, getting things done is happines. Menyelesaikan sesuatu itu adalah kebahagiaan. Melihat rumah kotor, piring bertumpuk, cucian menggunung, adalah siksaan. Kita malas untuk mengerjakannya, tapi kalau dibiarkan juga tidak enak. Maka lapangkan hati, ringankan tangan, kerjakan. Ketika semua selesai, rasanya menyenangkan. Walau kecil, itu membahagiakan.
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *