Bekerja Lebih, Membuat Perbedaan

16 March 2016 0 Comments

Waktu mendaftar masuk hotel tadi saya diminta menunggu di lounge selama petugas meja depan mempersiapkan administrasi kamar saya. Saat menunggu seorang gadis muda menghidangkan minuman dan makanan ringan. Iseng saya bertanya,”Kalau mau ke Kaliurang, kira-kira berapa lama ya dari sini?”
 
“Wah, saya nggak tahu, Pak. Saya bukan orang sini.”
 
“Kamu orang mana?”
 
“Ngawi, Pak.”
 
Selesai urusan administrasi, saya beranjak hendak menuju kamar. “Mari saya bawakan tasnya, Pak,” tawarnya.
 
“Oh, nggak usah, biar saya bawa sendiri.” Saya biasa membawa sendiri tas saya. Tapi dia tetap mendampingi saya menuju kamar. Obrolan saya lanjutkan.
 
“Sudah berapa lama kerja?”
 
“Saya masih magang, Pak.”
 
“Oh, dari mana?”
 
“Dari LPK di Madiun.”
 
“Oh, mau nggak saya kasih saran?”
 
“Apa, Pak?”
 
“Kalau ada pertanyaan seperti saya tanyakan tadi, jangan biasakan menjawab tidak tahu, lalu selesai. Kamu bilang saja, saya tanyakan dulu. Nanti kamu bisa informasikan kemudian. Jawaban tidak tahu bukan jawaban yang diharapkan oleh tamu.”
 
Dia tersenyum kikuk, mengantar saya sampai ke kamar. Tapi kemudian tak ada kontak dari dia, menandakan dia mengikuti saran saya, mencari tahu apa yang saya butuhkan. Bagi saya itu tidak penting. Tapi bagi dia sebenarnya akan sangat penting, bagi karir dia di industri jasa seperti perhotelan ini.
 
Kemarin saya tulis soal inisiatif. Salah satu ciri pengambil inisiatif adalah mau bekerja lebih. Lebih tapi tidak berlebihan. Kelebihan-kelebihan kecil yang bisa memberi sentuhan kesan bagi pelanggan atau lingkungan kerja. Kelebihan kecil yang membuat kita berbeda dari orang lain, membuat perusahaan kita berbeda dari perusahaan lain. Itu suatu modal untuk memenangkan persaingan.
 
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *