Alumni Jurusan Fisika

4 February 2016 2 Comments

physicsWaktu baru mulai kuliah di Jurusan Fisika FMIPA UGM belasan tahun yang lalu (saya masuk kuliah tahun 1987) saya sering kesal dengan berbagai pertanyaan tentang jurusan yang saya ambil.

“Jurusan fisika? Kamu kuliah di IKIP atau UGM?”

“UGM, dong.”

“Tapi kenapa ada jurusan fisika di UGM? Bukan di IKIP?”

“Kalau di IKIP itu Pendidikan Fisika. Lulusannya bisa jadi guru fisika di sekolah. Kalau yang di UGM fisika murni.”

“Lantas, kalau lulus bisa jadi apa?”

“Banyak. Bisa jadi peneliti (BATAN, LIPI, BPPT), dosen. Kerja di perusahaan juga bisa.”

Penjelasan seperti itu pun tak serta merta membuat orang paham. Banyak yang mengira bahwa yang bisa bekerja di industri itu hanya lulusan fakultas teknik. Setelah belasan tahun berlalu, sepertinya situasinya tak banyak berubah. Orang masih menganggap jurusan fisika itu tak banyak mendapat tempat di dunia kerja. Bahkan para mahasiswa fisika sendiri mungkin berpikir begitu.

Ada pengalaman yang tak nyaman pernah saya rasakan, meski tak langsung. Saya punya saudara sepupu yang tinggal di Bandung. Ia kuliah di sebuah politeknik yang terkenal lulusannya laris diterima bekerja. Bahkan sebelum lulus kabarnya mereka sudah diikat kontrak. Mendengar saya kuliah di jurusan fisika, ia berpesan pada abang saya yang kebetulan berkunjung ke rumahnya. “Suruh pindah kuliah aja adiknya. Kasihan nanti lulus jadi pengangguran.” katanya.

Waktu mendengar itu saya hanya bisa tersenym getir. Tapi saya yakin bahwa saya tidak akan jadi pengangguran. Belasan tahun kemudian saya bertemu dengan sepupu saya itu. Ia jadi manager maintenance di sebuah perusahaan. Saya waktu itu jadi direktur di perusahaan tempat saya bekerja.

Ketika lulus saya sempat bekerja sebentar di lapangan minyak, sebagai logging engineer pada PT Elnusa, yang waktu itu masih menjadi anak perusahaan Pertamina. Pekerjaannya mengumpulkan data fisis sumur minyak melalui berbagai jenis pengukuran. Ya, ini pekerjaan orang fisika, yang juga banyak dilakukan oleh sarjana teknik. Di sumur minyak, data tentang hambatan listrik, porositas, intensitas sinar gamma, dan lain-lain diperlukan untuk memastikan apakah pada suatu sumur terkandung minyak atau tidak, serta memungkinkan untuk dipompa atau tidak. Sebelum itu saya sempat tertarik untuk melamar kerja ke sebuah perusahaan yang memproduksi semikonduktor di Batam, meski akhirnya saya batalkan.

Tak lama saya bekerja di lapangan minyak. Saya berhenti, kemudian pindah kerja sebagai dosen, lalu saya mendapat beasiswa untuk melanjutkan kuliah S2-S3 di Jepang. Lulus S2 sebenarnya saya ditawari pekerjaan di bagian quality control oleh Matsushita Electronics, untuk ditempatkan di pabriknya di Indonesia. Tapi waktu itu saya memilih untuk melanjutkan kuliah hingga selesai doktor. Lulus doktor saya bekerja sebagai peneliti di dua universitas di Jepang.

Dua tahun bekerja di Jepang, saya pulang ke tanah air untuk kembali bekerja sebagai dosen. Sayang, beberapa masalah saya hadapi sehingga saya putuskan untuk mundur, dan kembali ke Jepang, bekerja sebagai peneliti.

Kemudian saya kembali lagi ke tanah air, bekerja di pabrik pengolahan plastik selama enam tahun lebih. Pekerjaan ini sama sekali tidak ada hubungan dengan ilmu fisika. Tugas saya mengelola seluruh aspek pada perusahan, menyangkut SDM, keuangan, perpajakan, logistik, produksi, dan banyak hal lagi. Lalu saya pindah ke pekerjaan saya sekarang, bertugas membangun bisnis baru sebagai GM business development. Pekerjaan ini sedikit banyak membawa saya kembali bersentuhan dengan riset fisika, meski tidak langsung sifatnya.

Jalur karir yang saya lalui menunjukkan bahwa spektrum lapangan kerja yang bisa dijalani oleh lulusan jurusan fisika sangat beragam. Dari semua itu hanya sekali saya “menyimpang”, bekerja pada bidang di mana ilmu fisika nyaris tak terpakai sama sekali. Selebihnya, semua berhubungan erat dengan fisika. Termasuk di dalamnya dua pekerjaan yang tak jadi saya ambil.

Tapi mengapa lulusan jurusan fisika sering dianggap tidak laku bekerja, khsususnya di dunia industri? Beberapa hal patut kita duga sebagai penyebabnya.

Pertama, dunia industri sepertinya tidak mendapat ekspos memadai terhadap jurusan fisika. Perusahaan misalnya lebih membuka diri untuk mempekerjakan lulusan kimia dibanding lulusan fisika. Banyak lulusan kimia yang diterima bekerja di bidang quality control atau pengembangan produk. Padahal kompetensi lulusan fisika dan kimia tidak berbeda jauh, khususnya dalam konteks pekerjaan di industri, yang kebanyakan hanya memerlukan kompetensi pengukuran tingkat dasar.

Kedua, jurusan fisika sendiri jarang menampilkan diri sebagai jurusan yang punya kompetensi untuk bekerja di dunia industri. Pengelola sepertinya tidak secara khusus memberi penekanan soal kompetensi itu. Kurikulum sepertinya masih tidak punya tekanan khusus. Akibatnya, mahasiswa tidak punya visi yang jelas untuk bekerja di dunia industri, dan tidak percaya diri dalam hal itu.

Ketiga, mahasiswa fisika banyak yang tidak menguasai skill lain yang dibutuhkan untuk bekerja di dunia industri, salah satunya kemampuan bahasa Inggris. Waktu saya ikut tes untuk bekerja di lapangan minyak dulu tesnya sangat sederhana, yaitu tes IQ. Orang dengan IQ yang baik tentu bisa lulus. Tapi soal diberikan dalam bahasa Inggris. Hasilnya, lebih dari separuh peserta berguguran di tahap pertama, padahal setahu saya mereka semua cerdas. Rendahnya kemampuan berbahasa Inggris membuat mereka gagal.

Cerita sedikit saya belokkan. Banyak yang mencemooh ketika saya bekerja sebagai pengelola pabrik. Saya dianggap terlalu pragmatis, tidak menghargai gelar doktor dan ilmu fisika yang saya miliki. “Pindah jalur” bagi sebagian orang dianggap dosa besar, seperti orang murtad.

Kenyataannya, “pindah jalur” bagi saya adalah kesempatan untuk belajar, memperluas cakrawala ilmu. Dengan pindah jalur, saya punya kesempatan untuk belajar banyak tentang seluk beluk bisnis. Ada aspek pembinaan SDM, pengelolaan keuangan, pembiayaan, dan pajak. Pendek kata, saya belajar bagaimana membangun dan mengelola perusahaan yang sehat, menghasilkan keuntungan. Bekal inilah yang membawa saya pada pekerjaan sekarang. Pada pekerjaan ini ilmu (riset) fisika berpadu dengan ilmu bisnis.

Terlebih lagi, tak banyak orang tahu bahwa sudah lama saya “pindah jalur”. Tahun terakhir di Jepang, saya bekerja sebagai Visiting Associate Professor di Interdisciplinary Research Center, Tohoku University. Di situ saya melakukan penelitian tentang struktur DNA. Waktu itu salah satu tren di dunia riset adalah mengaji kemungkinan memanfaatkan DNA dalam nanoteknologi. Karena pada masa sebelum itu riset tentang DNA banyak dilakukan oleh peneliti di bidang biokimia dan kedokteran, maka separuh dari waktu saya habiskan di perpustakaan fakultas kedokteran, belajar tentang biokimia dan kedokteran.

Jadi, dari pengalaman saya, lulusan jurusan fisika sebenarnya bisa bekerja sebagai apa saja yang mereka inginkan. Syaratnya, mereka harus membangun kompetensi untuk hal itu, dan mau terus belajar. Baik bekerja pada bidang yang secara langsung berkaitan dengan fisika, maupun ketika bekerja di bidang yang sama sekali berbeda (pindah jalur). Jadi, tidak ada alasan untuk khawatir akan jadi pengangguran.

Prinsip ini sebenarnya berlaku untuk semua jurusan. Tidak ada orang yang menganggur karena salah pilih jurusan waktu kuliah. Orang menganggur karena tak kompeten.

2 thoughts on “Alumni Jurusan Fisika”

  1. Kondisi yang dialami Pak Hasan di 1987 juga masih saya alami ketika saya lulus fisika UGM tahun 2010. Banyak teman-teman fisika saya datang ke jobfair dan kecewa karena jarang lowongan untuk jurusan Fisika. Akibatnya banyak yang “terpaksa” lanjut S2 fisika atau jurusan lain untuk mengulur waktu. Sebagian bekerja di berbagai industry yang sama sekali tidak related dengan fisika, termasuk saya yang masuk ke industry pertambangan (sebelum akhirnya saya mundur).

    Menurut saya, kurangnya informasi dari jurusan tentang lapangan kerja dan juga keengganan mahasiswa untuk mencari tahu membuat industri tidak tahu dan tidak mau tahu potensi anak fisika di perusahaan mereka. Padahal sarjana fisika murni menurut saya mempunyai kompetensi yang sangat luas dan bisa dibentuk untuk ditempatkan dimana saja.

    Kurangnya industry berbasis riset di Indonesia juga sedikit banyak mempengaruhi. Banyak anak anak jenius yang “terpaksa” menjadi guru bimbel padahal dia lulus s2 fisika dengan nilai sangat menonjol karena lowongan dosen/researcher sangatlah terbatas. Sungguh sangat disayangkan, potensi yang sedemikian bagus lebur begitu saja karena tidak ada wadah yang cukup di Indonesia. Tak banyak juga orang yang mampu & mau untuk menciptakan wadah wadah itu untuk menampung mereka.

    Salam,

  2. Mau kuliah jurusan apapun, yang pasti kuliah itu penting karena yang dipelajari bukan hanya ilmu akademis, tapi juga pembentukan pola pikir seseorang menjadi jauh lebih matang daripada mereka yang kurang beruntung tidak bisa mengecap bangku kuliah.
    Btw, saya lulusan fisika IPB 2013 dan sudah tiga tahun kerja di media sebagai jurnalis. Nggak ada hubungannya, tapi saya bisa survive disini, karena seperti kata mas abdurakhman, yang penting bukan hanya skill tapi kegigihan kita untuk mau terus belajar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *