Ahok, Tiga Minoritas

ahok

Pertama, non-muslim. Masih banyak orang Islam Indonesia yang sulit menerima bila pemimpinnya non-muslim. Tak perlu ada kualitas yang tegas soal kemusliman ini, misalnya rajin salat atau peduli pada umat. Pokoknya harus muslim. Kalau tidak, tolak.

Dulu saya pernah diajak ikut “berjuang” dalam pemilihan gubernur di kampung saya. Kita harus dukung calon yang muslim, kalau tidak nanti non-muslim yang jadi. Saya tanya, “Selama ini gubernur kita muslim semua. Apa kelebihan yang kita rasakan?”

Maka, Ahok jadi gubernur di ibukota negara adalah sebuah kejutan yang sangat besar dan sulit diterima oleh sangat banyak orang.

Kedua, Cina. Entah disadari atau tidak, kita menyimpan potensi rasial. Ada banyak konflik yang berakar pada soal rasi, walaupun ras bukan satu-satunya faktor di situ. Biasanya masalah ras berpadu dengan soal kesenjangan ekonomi. Orang Madura tidak disukai di Kalimantan, khususnya pedalaman. Sudah beberapa kali terjadi konflik berdarah antara Dayak dan Madura. Demikian pula pada kerusuhan Ambon dulu terkandung juga faktor etnis, dalam hal ini terhadap Bugis-Buton-Makassar (BBM). Polanya mirip dengan Dayak-Madura, etnis pendatang ini dianggap lebih sukses dalam soal ekonomi dibanding orang setempat, sehingga memicu kecemburuan.

Dalam hal etnis Cina, stereotype-nya hampir merata di seluruh Indonesia. “Cina itu kaya. Kekayaan itu diperoleh dengan cara licik. Maka Cina itu jelek.”

Cina menjadi pemimpin adalah hal yang agak langka, dengan beberapa pengecualian tentu saja. Cina, jadi gubernur, di Jakarta pula, itu adalah sesuatu yang extra extraordinary.

Ketiga, terbuka. Saya tak bisa bilang Ahok itu bersih atau cakap betul, karena saya tidak tahu dan diapun masih harus diuji. Tapi yang sudah sangat jelas, Ahok itu terbuka. Ia terbuka mengungkapkan apa yang ia pikirkan, bahkan dalam bahasa yang vulgar. Ia terbuka menelanjangi kebusukan dan perilaku korup. Ia juga terbuka menyatakan identitas religinya, serta bagaimana ia memandang agama.

Keterbukaan Ahok itu menakutkan bagi sejumlah orang. Ibarat orang yang terbiasa di tempat gelap, tiba-tiba diseret ke tempat terang benderang. Keterbukaan itu menyilaukan dan mengerikan.

Jadi tak heran bila begitu banyak yang menyerang Ahok. Bagi saya, Ahok itu bukan sosok sempurna. Masih banyak kekurangan dia yang harus kita kritik. Tapi bagi saya sangat jelas, Ahok harus saya dukung!

5 thoughts on “Ahok, Tiga Minoritas”

  1. Inilah hasil penjajahan bangsa sendiri sejak 1967, dendam seorang anak babu keturunan cina yg membenci asal muasalnya, doktrinisasi setengah abad perlu minimal satu generasi menghapus mimpi gelap sejarah indonesia bila ingin menuju negara demokrasi

  2. saya dukung ahok karena Tiga Minoritas juga :
    1, karena China
    2. Karena Agama Bukan Mayoritas
    3. Mulutnya yang mudah berkata Maling, Tai, kampret, Anjing, karena diantara pemimpin skarang cuma Ahok yang ngomongnya Bisa seenaknya.

  3. Kenapa kita takut ahok memimpin jakarta..dia cina dia non muslim dia kasar tapi klu unt kebaikan jakarta dan masyarakat…kenapa kita tolak cina pribadi non muslim pribadi kasar juga pribadi…tapi hasil keejanya nyata…lanjutkan saja…lanjut aja Ahok…

Leave a Reply to Dharma Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *