Wawancara

Interview between businessmen

Saya cukup sering diwawancara, umumnya untuk pekerjaan, tapi pernah pula untuk beasiswa. Ada pula pengalaman lain, diwawancara sebagai bakal calon anggota legislatif di sebuah partai politik. Dalam setiap wawancara itu sikap saya selalu sama, yaitu menjadi diri sendiri. Saya tunjukkan apa yang saya bisa, apa yang saat ini saya belum bisa tapi mungkin bisa saya kuasai, danĀ  saya berterus terang soal hal-hal yang memang di luar jangkauan saya untuk menguasainya. Saya tidak mau memoles diri, membangun citra sesuai yang dibutuhkan oleh pewawancara. Saya sadar bahwa kalaupun saya berhasil lolos, saya tidak akan berhasil dalam pekerjaan itu. Karena yang diterima bukan diri saya melainkan saya yang mencoba menjadi orang lain.

Kalau dibandingkan, mungkin lebih banyak jumlah wawancara di mana saya tak lolos ketimbang yang lolos. Sepanjang periode 2011-2013, misalnya, saya ikut wawancara 4 kali, dan baru wawancara yang kelima membuat saya pindah kerja. Tidak selalu pula saya langsung menerima sebuah tawaran meski saya lolos seleksi. Tahun 1999 saat lulus S2 saya ditawari pekerjaan di sebuah perusahaan elektronik, saya ikut tes dan lulus, namun akhirnya tawaran pekerjaan itu saya tolak. Saya memilih untuk melanjutkan sekolah ke S3.

Wawancara yang paling mengesankan adalah wawancara di sebuat perusahaan otomotif (autopart) di tahun 2011. Jabatan yang ditawarkan mentereng: presiden direktur. Perusahaan ini mempuyai karyawan sekitar 500 orang, nilai penjualan 150 milyar setahun. Sebuah perusahaan kelas menengah. Ini adalah perusahaan joint-venture, sahamnya dimiliki oleh grup Malaysia dan Indonesia, dengan komposisi saham 50-50. Menurut head hunter yang mengajukan saya, ada 3 kandidat yang diajukan. Dua di antaranya sekarang bekerja di perusahaan otomotif, hanya saya yang sama sekali tidak berlatar belakang otomotif.

Wawancara pertama dilakukan di sebuah restoran. Saya memesan steak dan sebotol minuman. Kami berbincang sambil makan. “How much you know about lean manufacturing system?’ tanya pewawancara, pemilik perusahaan. Jawaban saya,”I don’t know much. Saya baru bekerja di perusahaan manufaktur selama 4 tahun, dan sebagian tugas saya adalah di bagian administrasi, bukan di lapangan produksi.”

Yang terjadi kemudian adalah, peawancara itu menjelaskan secara ringkas soal yang dia tanyakan tadi, lalu kami berdiskusi. Kami juga berdiskusi soal bisnis manufaktur otomotif di Indonesia. Kemudian wawancara selesai. Saya pamit pulang.

Saya duga saya tak lolos dalam wawancara tadi. Tapi seminggu kemudian saya dipanggil lagi. Menariknya, 2 orang berlatar belakang industri otomotif tadi ternyata malah tak lolos.

Kali ini wawancara dengan pemilik saham dari Indonesia. Berbincang beberapa lama, dia bilang,”Saya paham Anda itu pintar, dan bisa belajar cepat. Tapi terus terang saya tidak yakin. Kalau Anda jadi presdir, itu sebuah pertaruhan besar bagi saya. Tidak hanya soal internal perusahaan, tapi juga soal eksternal. Costumer saya akan mempertanyakan reputasi perusahaan ini karena mengangkat seorang yang tidak berpengalaman menjadi presdir.”

Lalu, apa lagi yang bisa saya katakan? Saya hanya tersenyum. Lalu saya berpamitan pulang.

Saya duga saya akan gugur, lagi-lagi saya dipanggil. Kali ini kembali ke pemegang saham dari Malaysia, dan wawancara dilakukan di pabrik. Saya diajak meninjau pabrik, saya diberitahu masalah-masalah yang harus dihadapi sekarang, dan harapan akan solusinya. “I know you can learn,” katanya meyakinkan saya. Kami kemudian berdiskusi soal teknis seperti soal gaji. Tawarannya cukup menarik, 20-30% lebih tinggi dari gaji saya saat itu.

Beberapa waktu berlalu setelah itu, tak kunjung ada keputusan. Saya tanya ke pihak head hunter, katanya kedua pihak pemilik perusahaan tak kunjung mencapai kesepakatan tentang saya. Akhirnya saya beri tenggat waktu. Waktu masuk awal tahun 2012 saya harus negosiasi soal kenaikan gaji saya di tempat saya bekerja saat itu. “Kalau saya sudah mengajukan usulan kenaikan gaji, dan diterima saya tak bisa lagi pindah, tidak etis. Jadi, putuskan sekarang,” kata saya. Karena didesak seperti itu, saya akhirnya dinyatakan tidak diterima.

Setelah itu ada beberapa wawancara yang tidak menggairahkan. Kalaupun diterima saya sudah putuskan untuk tidak bertanya lagi pada head hunter soal hasil wawancara. Saya ditolak, dugaan saya karena permintaan saya terlalu tinggi.

Setahun kemudian saya diminta wawancara di tempat saya bekerja saat ini. Wawancara yang sangat singkat. Hanya 10 menit saya menceritakan soal siapa saya dan pengalaman saya. Kemudian presiden direktur yang kemudian menjadi bos saya, mengabiskan waktu hampir 1 jam untuk bercerita soal harapan-harapan dia. Di akhir wawancara dia memerintahkan direktur yang ikut mendampingi untuk mengurus penerimaan saya. Gaji yang saya minta, 70% lebih tinggi dari gaji di tempat lama langsung disetujui.

Jadi, bagi saya gagal di sebuah wawancara bukan malapetaka. Saya selalu menerima tawaran wawancara, tapi tidak otomatis saya akan menerima tawaran untuk bergabung. Banyak hal yang saya pertimbangkan untuk memutuskan. Tapi wawancara itu sendiri selalu menarik buat saya. Itu adalah sebuah kesempatan belajar yang jarang saya lewatkan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *