Wawancara Kerja

Wawancara kerja adalah momok bagi banyak orang. Apalagi bagi yang baru lulus, belum punya pengalaman kerja. Mereka bahkan belum punya pengalaman menghadiri wawancara. Perlukan melakukan latihan dan persiapan khusus?

Jawabannya bisa tidak, bisa ya.

Hal terpenting dalam wawancara adalah menjadi diri sendiri. Pihak pemberi kerja ingin merekrut sosok yang nyata, bukan seorang aktor yang sedang memerankan sosok orang lain. Kalau Anda memerankan sosok orang lain dalam wawancara, kalaupun Anda lulus, maka yang lulus itu adalah sosok yang Anda perankan, bukan diri Anda. Artinya, selanjutnya Anda harus memerankan sosok itu selamanya. Besar kemungkinan Anda akan gagal. Kalaupun Anda sanggup, itu akan sangat menyiksa.

Sering kita berpikir, kita butuh kerja. Alih-alih mencari pekerjaan yang cocok untuk diri kita, sering kali yang terjadi adalah kita mencocokkan diri dengan pekerjaan yang tersedia. Salahkah? Tidak. Dalam beberapa sisi hidup memang menuntut adaptasi. Tapi ingat, beradaptasi berbeda dengan menjadi orang lain. Lagipula, pewawancara biasanya bisa membedakan siapa yang sedang menjadi diri sendiri dan siapa yang sedang berpura-pura.

Saya lebih menganjurkan untuk menjadi diri sendiri dalam wawancara. Tujuan kita adalah menjelaskan siapa kita sebenarnya kepada pewawancara. Kita akan lulus bila menurut dia kita memang cocok untuk pekerjaan yang ditawarkan. Bila tidak lulus, artinya kita memang tidak cocok. Kita tidak perlu memaksakan diri menerima pekerjaan yang tidak cocok dengan kita.

Jadi, perlukah mempersiapkan diri untuk wawancara? Tidak, kalau kita sudah biasa menjadi diri kita sendiri dalam keseharian kita. Perlukah berlatih untuk wawancara? Tidak. Kita tidak perlu berlatih untuk jadi diri kita sendiri, bukan?

Masalahnya adalah, banyak orang yang gagal menjelaskan atau mencitrakan dirinya kepada orang lain. Yang fasih berbahasa Inggris jadi terlihat gagap. Yang pandai matematika jadi terlihat tolol. Kenapa? Mungkin karena memang tak pandai menjelaskan. Atau, sekedar gugup saja.

Jadi dalam hal ini setidaknya ada 2 hal yang harus dipersiapkan yaitu bagaimana cara menjelaskan sesuatu, dan bagaimana mengatasi gugup.

Kemampuan menjelaskan sesuatu adalah bagian dari kemampuan berkomunikasi. Saya selalu mengingatkan kepada para mahasiswa untuk membangun kemampuan berkomunikasi. Intinya adalah bagaimana membuat informasi yang kita miliki sampai ke pihak lain secara utuh. Metodenya bisa berbagai cara. Dalam hal wawancara, kita berkomunikasi, menyampaikan informasi secara lisan.

Jadi, mirip dengan urusan menjadi diri sendiri di atas, kemampuan berkomunikasi tidak dibangun secara instant melalui latihan singkat. Kebutuhan terhadap kemampuan berkomunikasi tidak hanya saat wawancara, tapi juga diperlukan sepanjang karir. Karena itu saya anjurkan untuk membangun kemampuan ini sejak kuliah.

Bagaimana mengatasi rasa gugup? Gugup adalah reaksi tubuh terhadap sesuatu yang tidak biasa kita hadapi. Atau reaksi terhadap suatu harapan besar. Gugup saat wawancara adalah kombinasi keduanya.

Bagaimana mengatasinya? Pertama, dengan membiasakan diri. Dalam hal ini latihan diperlukan. Ada beberapa pertanyaan standar dalam wawancara. Misalnya soal latar belakang pribadi atau kuliah kita. Setidaknya latihlah diri Anda menjawab pertanyaan-pertanyaan standar ini. Bila bagian ini bisa dilewati tanpa gugup, itu akan membantu Anda melewati pertanyaan-pertanyaan lain.

Kedua, atur nafas. Gugup terkait dengan kerja jantung, dan kerja jantung terkait dengan pasokan oksigen ke tubuh. Aturlah nafas dengan baik, tarik nafas secara wajar, hembuskan dengan frekuensi wajar pula.

Ketiga, kendalikan konsentrasi dan pikiran. Fokuslah pada komunikasi dengan pewawancara. Alokasikan energi yang cukup untuk mendengar dan mencerna pertanyaan dengan baik. Banyak orang gagal menjawab pertanyaan karena gagal memahami pertanyaannya.

Keempat, jawab pertanyaan dengan jujur. Jujur artinya kita mengatakan apa adanya. Jujur tidak membuat kita perlu mengarang. Kalau kita mengarang, kita memerlukan energi tambahan untuk membuat karangan kita terlihat konsisten. Kesadaran bahwa kita sedang berbohong, ketakutan akan ketahuan akan membuat kita tambah gugup.

Kelima, be nothing to lose. Seperti saya tulis di atas, kalau kita tidak  lulus berarti pekerjaan itu memang tidak cocok dengan kita. Yakinlah bahwa akan ada pekerjaan lain yang cocok.

Lalu, apa yang biasa ditanyakan oleh pewawancara? Untuk calon pekerja lulusan baru biasanya hanya ditanya soal latar belakang pribadi, latar belakang pendidikan untuk menggali informasi tentang skill, dan motivasi. Sekali lagi kalau seseorang punya skill dan motivasi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ia cuma perlu menjelaskan dengan baik siapa dirinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *