Wada’ Yaa Ramadhan

Banyak orang menangis di akhir Ramadan. Sedih, karena bulan penuh ampunan dan berkah itu akan segera berlalu. Berlalulah pula kesempatan untuk mendapat ampunan sebanyak-banyaknya, dan kesempatan untuk mendapat pahala sebesar-besarnya. Kita harus menunggu setahun lagi untuk bertemu dengannya.

Tapi kita sering lupa bahwa bulan Ramadhan adalah juga bulan untuk menyucikan diri (tazkiyatun nafs). Bulan di mana kita bersihkan hati kita dari berbagai sifat buruk. Juga untuk menjaga peri laku kita. Apakah kita berhasil menyucikan diri selama Ramadhan ini? Dan apakah kesucian itu akan bisa kita pertahankan hingga Ramadhan tahun depan? Marilah kita lakukan evaluasi, atau muhasabah.

Esensi dari setiap ibadah adalah ketundukan. Kita diperintah untuk berpuasa. Untuk apa? Ada banyak manfaatnya. Kata dokter puasa itu menyehatkan. Tapi apakah itu tujuannya? Bukan. Tujuan puasa adalah melaksanakan perintah Allah, meski kita tak tahu untuk apa hal itu kita kerjakan. Pokoknya kata Allah berpuasalah, maka kita puasa. Ini adalah karakter orang yang tunduk. Karakter hamba. Abd Allah.

Banyak orang menyebut Ramadhan sebagai sarana untuk mengontrol hawa nafsu. Kalau terhadap yang halal saja kita bisa mengontrol dan menjaga diri, tentu terhadap yang haram pun demikian. Bagi saya itu satu hal. Tapi ada hal lain yang juga tak kalah penting. Yaitu bahwa terhadap yang tujuan sebenarnya sangat abstrak serta menjadi rahasia Allah saja kita mau tunduk, tentu pada hal-hal yang tujuan serta konsekwensinya sangat jelas, seharusnya kita lebih tunduk lagi.

Saya sering prihatin dengan kehidupan sosial kita. Lingkungan kita semrawut. Jalan raya, pasar, tempat kerja, serta lingkungan tempat tinggal kita, semua semrawut. Tak ada orang yang mau mengalah di jalan raya, misalnya. Mobil mendesak sepeda motor, truk mendesak mobil, sepeda motor mendesak pejalan kaki. Jalan raya kita adalah rimba raya. Tak ada aturan yang dipatuhi, yang ada hanyalah aturan rimba, siapa kuat dialah yang menang. Lingkungan kita kotor. Tempat kerja kita berantakan. Kelakuan kita tak mencerminkan diri kita sebagai orang yang terbiasa tunduk. Padahal konsekwensi ketidak tundukan itu sangat terasa. Kita tak tertib antri, akibatnya kekacauan. Kita buang sampah sembarangan, lingkungan kita kotor. Dan seterusnya.

Maka nanti, saat kita kembali dari mudik, dan mulai melakukan kegiatan kita seperti biasa, maka akan terlihat apakah kita sebagai bangsa telah berhasil berpuasa atau tidak. Telah menyucikan diri atau sekedar mendapatkan lapar dan dahaga sebulan penuh.

Bila jalan raya masih semrawut, lingkungan masih kotor, maka kita gagal. Kalau kantor-kantor pemerintah selalu sepi saat rakyat membutuhkan pelayanan, maka kita gagal. Kalau parlemen masih fokus pada kegiatan berebut kuasa dan mencuri uang rakyat, maka kita gagal. Kalau pemimpin hanya berfikir bagaimana mempertahankan kekuasaan, maka kita gagal. Kita gagal berpuasa, dan kita gagal menjadi bangsa yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Kita gagal sebagai sebuah bangsa.

Wada’ yaa ramadhan…………………

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *