Wa Lan Tardha dan Permusuhan Abadi

Sering saya dengar orang berkata,”Orang Yahudi dan Kristen memang tidak akan pernah tinggal diam. Mereka akan terus memusuhi Islam.” Orang-orang percaya pada hal ini. Bila ada Yahudi atau Kristen berbuat baik kepada umat Islam mereka akan mengabaikannya. Kalau ada yang berbuat buruk, mereka percaya bahwa memang demikianlah adanya mereka.

Saya tidak pernah lupa kasus Situbondo. Ada orang Islam yang dituduh menghina Islam. Ia diadili. Saat di pengadilan, ia diamuk oleh massa pengunjung. Ia dilindungi polisi, dilarikan ke temmpat tersembunyi. Lalu mencuat isu bahwa ia disembunyikan di gereja. Maka gereja itu dibakar.

Mengapa ada orang Islam menghina Islam tapi gereja yang dibakar? Karena orang Islam percaya bahwa Kristen itu musuh. Bagaimana hubungan antara dua hal tidak penting lagi. Kalau ada sesuatu yang tak betul, pasti Yahudi dan Kristen ada di belakangnya. Maka konflik antar preman yang kebetulan beragama Kristen dan islam bisa dengan mudah dikaitkan dengan permusuhan abadi oleh orang Kristen kepada Islam.

Dalam situasi ini saya justru bertanya, siapakah sebenarnya yang abadi permusuhannya? Bukankah justru umat Islam sendiri? Seorang teman pernah menafsirkan bahwa ayat di surat Al-Baqarah 120 itu adalah ayat yang secara bahasa berlaku abadi. Artinya, Yahudi dan Kristen itu tidak pernah dan tidak akan pernah rela kepada agama dan umat Islam, sampai umat ini mengikuti millah atau agama mereka. Artinya, umat Islam percaya bahwa keduanya akan selalu memusuhi. Jadi, karena itu sebaliknya permusuhan umat Islam pun akan abadi sifatnya.

Tidak hanya dalil “permusuhan pasif”. Permusuhan itu juga bisa dibuat aktif dengan dalil berikut. “Tidak akan terjadi hari kiamat, hingga muslimin memerangi Yahudi. Orang-orang Islam membunuh Yahudi sampai Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon. Namun batu atau pohon berkata, “Wahai muslim, wahai hamba Allah, inilah Yahudi di belakangku, kemarilah dan bunuh saja. Kecuali pohon Gharqad (yang tidak demikian), karena termasuk pohon Yahudi.” Di akhir zaman, orang-orang Islam sudah ditakdirkan untuk membunuh orang Yahudi.

Benarkah Yahudi dan Nasrani selalu memusuhi Islam dan orang Islam? Ini sulit dikonfirmasi. Karena ini terkait dengan hati. Ada banyak fakta yang bisa dianggap sebagai kebaikan umat Yahudi dan Kristen kepada umat Islam, termasuk yang terjadi saat nabi masih hidup dan terekam dalam Quran. Tapi fakta-fakta itu bisa diabaikan, karena iman, toh? Jadi fakta bahwa orang-orang Kristen pernah menolong umat Islam pada hijrah pertama ke Habasyah juga bisa tidak dihitung sebagai fakta bahwa mereka tidak memusuhi. Karena dalil sudah memastikan bahwa mereka memusuhi.

Tapi sepertinya ada yang tidak peduli dengan dalil ini. Atau tepatnya, dengan tafsir ini. Bapak-bapak kita di BPUPKI dan PPKI dulu bahu membahu bekerja sama dengan kalangan Kristen, membuat dasar negara yang akan mereka tempati bersama. Mereka juga bahu membahu berperang melawan penjajah. Orang Islam melawan penjajah Belanda, orang Kristen pun begitu. Padahal yang dilawan, orang Belanda itu kebanyakan Kristen juga.

Saya senang ternyata bapak-bapak kita dulu tidak terpengaruh oleh dalil atau tafsir pemusuhan abadi ini.

One thought on “Wa Lan Tardha dan Permusuhan Abadi”

  1. Setelah berabad-abad berlalu sejak adanya agama-agama, manakah yang paling mendekati benar dari pernyataan ini:

    1. Agama telah berhasil membawa kedamaian dan rahmat bagi umat manusia di bumi.
    atau
    2. Agama telah berhasil menjadi salah satu sumber kekacauan dan permusuhan bagi umat manusia di bumi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *