Umar dan Al-Maidah 51

Ini adalah kisah yang dikutip oleh Ibu Katsir dalam kitab tafsirnya, ketika ia membahas ayat di surat Al-Maidah 51.  “Bahwasanya Umar bin Khathab memerintahkan Abu Musa Al Asy’ari bahwa pencatatan pengeluaran dan pemasukan pemerintah dilakukan oleh satu orang. Abu Musa memiliki seorang juru tulis yang beragama Nasrani. Abu Musa pun mengangkatnya untuk mengerjakan tugas tadi. Umar bin Khathab pun kagum dengan hasil pekerjaannya. Ia berkata: “Hasil kerja orang ini bagus, bisakah orang ini didatangkan dari Syam untuk membacakan laporan-laporan di depan kami?” Abu Musa menjawab: “Ia tidak bisa masuk ke tanah Haram.” Umar bertanya: ‘Kenapa? Apa karena ia junub?” Abu Musa menjawab: “Bukan, karena ia seorang Nasrani.” Umar pun menegur dengan keras dan berkata,”Pecat dia.” Umar lalu membacakan ayat tadi,”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin…”

Riwayat inilah yang kini dijadikan contoh teladan oleh banyak orang, untuk menolak pemimpin non muslim. Orang-orang Indonesia, hidup di abad 21, menjadikan orang Arab yang hidup di abad 7, sebagai contoh teladan. Hidupnya dijalani dengan mencontoh orang itu.

Baiklah, mari kita bayangkan realisasinya. Anda seorang pejabat negara. Atau Anda seorang pemegang amanah di perusahaan. Anda punya staf yang hebat, ia ahli dan terampil dalam melakukan pekerjaan. Ia bisa menyediakan solusi untuk berbagai masalah yang sedang Anda hadapi. Tapi ia Nasrani. Anda enggan mengangkat dia. Anda memilih untuk mengangkat orang lain yang kemampuannya jauh di bawah orang tadi, hanya karena dia muslim. Adilkah?

Abaikanlah soal keadilan, karena ini toh soal orang kafir yang tak perlu kita risaukan benar bagaimana nasibnya. Pikirkan saja soal pekerjaan dan amanah yang Anda pegang. Anda membutuhkan orang yang bisa diandalkan. Kebetulan hanya orang tadilah yang bisa diandalkan. Tapi karena Anda mencontoh Umar, Anda tak memakainya. Apa yang akan terjadi pada amanah yang Anda pegang? Anda tak bisa menjalankannya dengan sempurna.

Lalu, cobalah kalau keadaanya dibalik. Ada seorang muslim yang hebat, kebetulan bekerja di bawah seorang non muslim. Sama seperti tadi, ia tak dipakai, tak dipromosikan, hanya karena dia seorang muslim. Apa yang Anda pikirkan? Anda mungkin akan ribut protes, ini diskriminasi. Anda bahkan akan menganggap ini permusuhan terhadap Islam. Mengapa kalau hal yang sama Anda laukan Anda tidak menganggapnya diskriminasi, melainkan ibadah?

Banyak orang bedalih,”Saya tidak membenci orang kafir. Saya punya banyak teman non muslim. Dalam hal ini saya hanya menjalankan perintah Allah. Nothing personal.” Iyakah? Kalau Anda berlaku seperti itu, Anda masih yakin hubungan Anda dengan orang-orang non muslim baik-baik saja? Jangan-jangan Anda mengalami delusi.

Bayangkan bila Anda menghalangi orang dari promosi. Atau Anda memecat orang. Alasannya, ia non musim. Bagaimana mungkin Anda akan baik-baik saja dengan orang-orang di sekitar Anda? Sadarkah bahwa Anda sedang menipu diri? Kalau tidak sadar, Anda sedang mengalami delusi.

Umar itu hidup di abad 7. Ia bertindak sesuai kebutuhan masa itu. Kita hidup di abad 21, seharusnya bertindak sesuai kebutuhan zaman kita. Sadarilah itu.

One thought on “Umar dan Al-Maidah 51

  1. Iskandar

    Iya betul kang Hasan. Pada saat kita mencoba menerapkan suatu ayat hendaknya kita hati2. Tidak berlaku dan dzalim itu justru berulang-ulang dilarang oleh Al Quran. Saya yakin pasti ada hal lain yang mendasari Umar ra untuk meminta Abu Musa memecat orang tsb.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *