TVRI

image

 

 

 

“Ayah kan bukan reporter, dan tidak pernah jadi reporter, kenapa Ayah mau melatih para reporter?” protes Sarah saat mendengar bahwa saya akan mengisi pelatihan untuk reporter TVRI. Saya sempat hilang percaya diri. “Panitianya mengindang Ayah karena Ayah pernah bekerja sebagai peneliti. Sepertinya mereka ingin mengaji metode jurnalistik dari aspek risetnya,” jawab saya.

Sebelum acara dimulai saya berbincang dengan bu Usi Karundeng, beliau menyatakan alasan mengundang saya kurang lebih sama dengan yang saya jelaskan pada Sarah.

Bulan ini saya mendapat 2 berkah penting, yaitu terwujudnya 2 impian saya. Beberapa tahun yang lalu saya pernah berbincang dengan kawan saya, Sopril Amir soal media. Ringkasnya, saya butuh media untuk menyampaikan gagasan saya.

Dulu saya cukup sering menulis di koran. Tapi setiap kali menulis saya merasa terbelenggu. Saya harus menulis sambil membayangkan apa yang diinginkan redaksi, lalu meraut pendapat saya agar sesuai dengan keinginan mereka, agar dimuat. Akhirnya saya tak sanggup lagi. Saya berhenti menulis di koran. Kepada Sopril saya sampaikan bahwa saya butuh media bebas yang tidak membelenggu.

Waktu itu saya membuat blog. Tapi jumlah akses ke blog sangat rendah, sehingga tulisan saya lebih banyak sekedar jadi arsip. Facebook menyediakan ruang interaksi yang lebih baik, terlebih setelah berbagai fasilitas seperti “share” ditambahkan. Viralitas gagasan meningkat.

Setelah beberapa kali mendapat gangguan di Facebook, dengan bantuan Endro Sulistianto yang sejak tahun 2006 setia mengawal blog saya, saya hidupkan lagi blog dengan domain saya sendiri.

Dua minggu yang lalu seorang kawan wartawan Kompas menawari saya kesempatan untuk menulis kolom di Kompas online. Dibanding dengan blog milik saya jangkauannya tentu lebih luas. Berbeda dengan tulisan di media cetak, di sini tidak ada batasan ruang. Jadi saya bisa menulis tiap hari. Jadi, mimpi saya untuk punya media tempat menuliskan gagasan, kini terwujud.

Soal TV, sudah lama saya gemas melihat kualitas laporan yang disiarkan oleh berbagai stasiun TV. Bobot kandungan rendah, metode peliputan buruk, kualitas laporan juga rendah. Bahkan kemampuan bahasa para reporter maupun penyiar sangat rendah. Beberapa kali saya ungkapkan bahwa saya sangat ingin memberi masukan kepada mereka.

Keinginan saya itu akhirnya terwujud. Dua minggu yang lalu Bu Usi mengontak saya untuk mengisi pelatihan di TVRI.

Ya, TVRI. Kita yang berumur lebih dari 35 tahun tentu pernah merasakan zaman di mana kita hanya punya 1 saluran siaran TV. Kita betah menonton meski acaranya hanya berupa pidato menjemukan yang disampaikan oleh Presiden Soeharto, atau keterangan pers oleh Harmoko. Karena kita tidak punya pilihan lain.

Tapi kita juga ingat bahwa TVRI pernah punya acara legendaris seperto Dunia Dalam Berita, drama Losmen, serta berbagai kuis yang diproduksi oleh Ani Sumadi. TVRI sudah begitu lama memberi kita berbagai informasi dan hiburan.

Kini kita punya banyak saluran, termasuk saluran TV berbayar yang jumlah salurannya bisa mencapai seratus. Masihkah kita menonton TVRI? Mungkin sebagian besar dari kita tidak.

Tapi ingat, TVRI adalah aset bangsa. Ia mungkin masih menjadi saluran TV dengan jangkauan paling luas. Ia juga satu-satunya TV yang tidak komersil. Jadi ada banyak harapan bisa kita sematkan kepadanya.

Tentu tak sedikit dari kita yang mencibir. TVRI kuno, dan tidak kreatif. Itulah kenyataannya. Peralatan siaran dan peliputan sudah tua. Dulu peralatan itu berasal dari bantuan JICA, dan kini tidak ada lagi bantuan. Dana dari pemerintah pun tak seberapa.

Jadi, bagaimana TVRI akan berperan di tengah ketatnya persaingan media seperti sekarang? Hal itu biarlah dijawab oleh pihak manajemen TVRI. Porsi saya kecil saja, menyumbangkan sedikit kepedulian dan pengetahuan saya untuk pernaikan kualitas SDM TVRI.

Kepada peserta pelatihan, para reporter dari berbagai daerah, saya ajarkan untuk melakukan riset kecil untuk memperkaya liputan dan laporan. Wartawan harus punya pengetahuan luas dan selalu memperluas pengetahuan. Mereka harus punya pengetahuan tentang apa yang mereka liput dan laporkan. Tanpa itu laporan mereka hanya akan jadi sekumpulan gambar dan suara tanpa isi.

Saya ajarkan kepada para reporter itu bagaimana belajar secara cepat melalui internet. Juga bagaimana mencari sumber informasi yang sahih.

Di akhir pelatihan saya ajak mereka untuk mengevaluasi laporan yang pernah disiarkan yang saya ambil dari Youtube. Saya ajak mereka mencari kesalahan dalam laporan tersebut. Mereka kaget, dalam sebuah laporan berdurasi 3 menit bisa ditemukan sampai 6-7 kesalahan dalam berbagai bentuk. Itu adalah kesempatan yang sangat bagus untuk mengevaluasi diri.

Dalm diskusi peserta banyak mengeluhkan berbagai belenggu yang melilit mereka. Mulai dari kekuasaan editor, sampai ke kecenderungan kompetisi berbagai stasiun untuk mengejar rating, bukan kualitas. Saya sampaikan bahwa kita semua, dalam bidang apapun, berhadapan dengan gunung tinggi masalah. Melihat besarnya masalah, kita bisa langsung putus asa. Tapi saya tidak. Saya tidak mau dibelenggu. Saya selalu mencari jalan untuk berkontribusi menyelesaikan masalah, sekecil apapun. Seperti saya ceritakan di atas, kalau kita mau bersabar, selalu ada saja jalan.

Sebagai penutup saya ajak mereka untuk terus menerus belajar, memingkatkan kualitas diri. Ada banyak kesempatan belajar melalui berbagai fellowship yang disediakan khusus bagi wartawan. Saya dorong mereka untuk mengikuti program tersebut.

Saya percaya TVRI bisa lebih baik lagi, dan kita bisa berkontribusi untuk memperbaikinya dengan cara kita masing-masing. Karena TVRI itu milik kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *