Tukang Baca Doa

 
Saya mengenal profesi tukang baca doa saat menemani ibu kos nyekar ke Banjarnegara. Ibu kos saya anak Pak Soemitro Kolopaking, Bupati Banjarnegara zaman dulu. Ia menjadi bupati sejak zaman Belanda. Karena hubungan saya dengan ibu kos sangat dekat, ia sering mengajak saya hadir dalam berbagai acara pribadinya, termasuk saat pergi nyekar.
 
Tiba di makam saya otomatis melafalkan wirid dan doa, sebagaimana biasa dilakukan oleh ayah saya dulu. Usai berdoa baru saya sadar, ternyata di dekat kami ada seseorang yang ikut duduk.
 
“Siapa itu, Mbak?”
 
“Kuncen, yang jaga makam. Biasanya kalau kami nyekar dia yang baca doa.”
 
Waduh. Saya lihat memang wajahnya tak begitu senang melihat saya. Saya jadi merasa tak nyaman karena telah “merampas” pekerjaan orang. Untungnya ibu kos saya tetap memberi dia uang meski dia tak membaca doa.
 
Ketika berziarah di makam mertua di Karet saat menjelang puasa juga demikian. Ada orang pakai sarung, baju koko, dan peci, datang mendekat waktu kami mulai duduk berziarah. Tapi ia segera menjauh saat mendengar saya mulai membaca doa.
 
Hal kecil ini sedikit menyentuh pikiran kritis saya. Ada sangat banyak dari orang Islam yang tidak bisa baca doa. Sekedar doa ziarah untuk mendoakan orang tua, kerabat, dan kaum muslim yang sudah meninggal. Berdoa itu dianggap sesuatu yang sulit. Pertama, karena ia harus pakai bahasa Arab. Kedua, bacaannya sudah tertentu dan panjang. Padahal tidak ada ketentuan soal bacaan khusus yang harus dibaca. Doa kita kepada Tuhan bisa berupa apa saja yang ada dalam pikiran kita, dan bisa diungkapkan dengan bahasa apapun. Lagipula, orang-orang ini bisa hafal begitu banyak teks lagu, tapi tak sanggup menghafal lafal doa. Ini adalah kombinasi antara tidak tahu dan tidak punya niat untuk tahu/bisa.
 
Profesi tukang baca doa adalah jawaban atas keadaan tadi. Karena ada banyak orang yang tak bisa, maka membaca doa itu dianggap sebuah keterampilan khusus, hanya orang tertentu yang bisa melakukannya. Maka muncullah profesi tukang baca doa.
 
Kalau kita lihat dari konteks hubungan antara manusia dengan Tuhan, tidakkah ini lucu? Doa adalah permintaan seorang hamba kepada Tuhan. Tapi si hamba tak sanggup mengatakan keinginannya. Ia kemudian minta pertolongan orang lain. Bagaimana hamba ini berkomunikasi dengan Tuhannya kalau ia tak bisa melakukannya sendiri? Bagaimana ia bisa mendekat kalau ia masih memerlukan perantara?
 
Doa dalam konteks ini tidak lagi dianggap sebagai komunikasi antara Tuhan dengan hamba. Doa adalah mantera untuk membuat sesuatu terjadi. Tuhan dianggap sebagai sosok gaib yang akan bergerak bila kepadaNya dibacakan mantera tertentu.
 
Ada lagi satu jenis tukang baca doa. Mereka sering hadir di laman Facebook saya, menulis komentar berupa doa untuk saya. “Semoga kamu segera mendapat hidayah dari Allah.” Baik sekali doanya. Tapi itu doa yang tersurat. Yang tersirat sebenarnya adalah, penulis doa itu tak setuju dengan isi tulisan saya. Namun ia tak sanggup untuk membantahnya dengan argumen. Yang ada hanyalah rasa dongkol yang kemudian diekspresikan dengan cara tadi. Penulisnya sebenarnya sedang berkata,”Aku sungguh jengkel kepadamu dengan pendapatmu itu. Tapi aku tak sanggup membantahnya. Aku hanya bisa berharap semoga Tuhan berkenan mengubah sikap dan pendapatmu.”
 
Ada juga yang doanya lebih seram lagi. “Semoga kamu segera mati, masuk neraka, bla bla bla………”
 
Tukang baca doa jenis pertama adalah orang cerdik yang mencari hidup dari ketidakmampuan orang lain dalam membaca doa. Tukang baca doa jenis kedua adalah manusia tak berdaya yang berharap Tuhan datang kepadanya setiap saat ia membutuhkan. Ia memanggil Tuhan dengan doa-doa mantera, seperti dukun membaca mantera untuk memanggil jelangkung.
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *