Tuhan tak Mengutus Rasul ke Jepang

circle-152358844211Prinsip dasarnya adalah bahwa Tuhan memberi petunjuk, untuk setiap kaum (kelompok) umat manusia. Karena Tuhan itu maha pemberi petunjuk dan maha adil. Bila ia memberi petunjuk, maka ia memberi petunjuk kepada semua kelompok manusia, tidak hanya satu kelompok saja. Berdasarkan prinsip ini maka tidak salah bila kita simpulkan bahwa Tuhan akan mengutus begitu banyak rasul ke seluruh penjuru dunia.

Prinsip yang lain, Tuhan itu satu. Tuhan yang satu tentu hanya akan mengajarkan satu konsep. Ia akan mengajarkan sosok diriNya, bagaimana cara mendekatiNya, bagaimanya menyembahNya, dan bagaimana hidup menurut aturannya. Artinya, kita seharusnya menemukan ajaran yang seragam, atau setidaknya mirip, pada berbagai agama yang ada di seluruh muka bumi ini.

Lalu bagaimana kenyataannya? Tiga kitab utama agama Samawi, yaitu Taurat, Injil, dan Quran, ternyata hanya berkutat di sebuah lingkaran mungil di peta dunia. Wilayah cakupannya hanya sekitar wilayah Palestina-Israel, dengan luas cakupan mungkin hanya 1-5% dari seluruh wilayah daratan di muka bumi. Di dalam lingkaran mungil itulah seluruh nabi dan rasul “berkumpul”.

Kita tak menemukan rasul di Cina, yang datang diutus Tuhan untuk memperkenalkan Tuhan yang satu. Di Cina berkembang ajaran berbasis pada pemikiran Khong Hu Cu. Sedangkan di India berkembang ajaran Budha. Di tengah “kesesatan” kaum Hindu di Nepal dan India yang menyembah berbagai jenis berhala, Tuhan tidak mengirim rasul untuk memberi petunjuk. Yang datang untuk memberi “petunjuk” adalah Sidharta Gautama. Ia tidak mengajarkan kewujudan Tuhan sama sekali, bahkan kemudian tak jarang dianggap sebagai Tuhan. Di Jepang manusia tetap menganut dinamisme dan animisme, kemudian ajaran Budha masuk.

Di berbagai belahan dunia lain, sentuhan utusan Tuhan tidak hadir. Orang-orang Afrika, Papua, Maya, Aztec, dan banyak lagi suku bangsa dunia, tetap tak mengenal Tuhan sebagaimana yang dikenal dalam lingkarang mungil tadi. Mengapa?

Ada yang berdalih, bahwa Tuhan sebenarnya mengirim utusan, hanya saja tak semua tercatat dalam sejarah, dan tidak semua diceritakan dalam kitab suci. Dalih ini mirip dengan orang menunjukkan selembar kertas putih, dan mengklaim bahwa di atas kertas itu ada gambar kambing sedang makan rumput. Tapi kenapa kertas putih itu hanya kosong saja? Karena rumputnya sudah habis dimakan kambing, dan kambingnya sudah pergi. Budha yang hidup beberapa abad sebelum Masehi saja bisa ada catatannya, kenapa yang lain tidak?

Begitulah. Tuhan begitu banyak mengirim utusan ke wilayah mungil tadi. Baru berlalu sejenak, Dia kirim lagi. Bahkan pada suatu masa Ia kirim beberapa utusan sekaligus. Ada pula orang yang ia jadikan utusan secara turun temurun. Dari bapak ke anak, lalu ke cucu dan cicit. Tapi sekali lagi, hanya di wilayah mungil itu, tidak di wilayah lain. Mengapa?

Jawaban sederhananya adalah, konsep nabi atau utusan, itu memang konsep orang di wilayah itu. Sebenarnya, orang-orang yang dianggap nabi itu adalah pemikir, pemimpin, guru, filusuf, atau raja di tempat itu. Karena berbagai keistimewaannya, orang tak lagi menganggap ia manusia biasa. Ia dianggap sebagai orang yang punya hubungan khusus dengan Tuhan. Dalam makna ini Sidharta Gautama atau Kong Hu Cu itu sebenarnya sama saja dengan Musa, Ibrahim, atau Sulaiman. Hanya saja kosa kata nabi atau rasul memang tidak dikenal di wilayah selain wilayah mungil tadi.

Lalu kenapa ajaran Budha dan Kong Hu Cu berbeda dengan ajaran agama-agama Samawi? Bah, bukankah ajaran agama Yahudi, Kristen, dan Islam itu juga berbeda-beda? Agama-agama itu hanya memiliki persamaa-persamaan, namun mustahil untuk disebut sama. Yang ada hanyalah usaha atau klaim untuk menyamakannya. Tidak hanya berbeda, ketiga agama itu bahkan saling bermusuhan. Bukankah konflik yang melibatkan agama di muka bumi sekarang sebagian besar terkait dengan 3 agama itu?

 

 

10 thoughts on “Tuhan tak Mengutus Rasul ke Jepang

  1. Pingback: Tuhan tak Mengutus Rasul ke Jepang | AERBE

  2. syanthy

    Saya tambahkan sedikit pendapat saya ya, agama samawi ini kesamaannya ngotot akan suatu bentuk ‘kebenaran absolut’. Kalau ini sudah pasti benar, yang lain di luarnya sudah pasti salah. Makanya ya ga heran sering berantem, lha wong ngotot2an mana yang benar hehehe. Agama timur di sisi lain lebih ga peduli soal klaim kebenaran absolut. Bahkan ga peduli juga soal konsep ketuhanan. Kalau saya tidak salah, Hindu dan Budha bukannya ga mengakui adanya keberadaan Tuhan, Tuhan tetap ada cuman ga applicable lah buat kehidupan manusia. Kayanya konsepnya lebih the creator tok. Budha sendiri lebih concern ke cara untuk terhindar dari moksa dengan cara melepaskan raga. Hindu juga dengan yoganya. Jadi mungkin ini alasannya kenapa agama timur jauh lebih damai. Soalnya ga ada konsep ‘Tuhan’ yang perlu dibela! Hehehe… Konsep Tuhan sendiri di agama Kristen juga masih complicated setau saya. Bahkan di perjanjian lama (hasil baca Karen Armstrong), kemungkinan ‘Tuhan’ yang disembah sama Abraham dan Musa juga Tuhan yang berbeda. Islam sendiri agak unik, dibangun di atas wahyu yang diklaim disampaikan oleh Allah ke Nabi Muhammad SAW. Saya sih berpikir Nabi Muhammad walau bagaimanapun pasti orang besar dan semua yang diajarkannya mungkin memang baik, tapi catat (imho pendapat saya pribadi) di waktu dan di zamannya waktu itu. Beliau mungkin tidak pernah memprediksi suatu hari agama Islam jadi sangat besar dan meluas ga cuma dianut di timur tengah. Ini sangat terasa karena aturan agama Islam yang begitu rigid, beda naturenya dengan agama Kristen yang lebih lega sedikit aturan-aturannya. Ini semua pendapat saya pribadi saat ini, mungkin suatu waktu ketika saya baca dan belajar lebih banyak, pandangan saya juga mungkin berubah. At least saat ini ya inilah yang saya percaya. Keep writing kang Hasan!

    Reply
    1. Adam Hutomo

      Menarik 🙂 Kalau buat saya simple saja sih. Dunia seluas dan sekompleks ini pasti ada penciptanya. Bullshit lah kalau dibilang ini semua cuma kebetulan. Kenapa ada berbagai konstanta matematis dan fisika di alam semesta? Seperti konstanta planck misalnya, dan berbagai konstanta lain yang tanpa itu tidak akan ada alam semesta seperti sekarang, adanya cuma primordial chaos.

      Sains membuat saya percaya adanya tuhan, dan sejauh ini, dari berbagai agama yang ada diluar sana, yang logis dan mendukung frame berpikir sains baru agama yang saya percayai saat ini. Yang lain antara too mystical, terlalu mengada ngada, atau memang bukan agama (cuma ajaran yang jadi quasi-religion) atau penafsiran liar.

      Orang kebanyakan tidak tahu apa apa soal ilmu pengetahuan, bahkan kesannya tidak butuh, dan tidak mau tahu. Karena itu kebanyakan merasa nyaman dengan agama yang longgar, hanya bicara soal damai dan kasih sayang, atau bahkan fantastis.

      Saya lebih memilih mencari kebenaran 🙂

      Reply
  3. Fransiskus Dadiagan

    Yang jadi masalah sekarang, kita sering kali “mengkerdilkan” Tuhan dengan pemahaman dan pikiran kita sendiri. Seolah Tuhan disandra oleh agama dan kepercayaan. Shg membuat alam pikiran kita menyempit, seperti memakai kacamata kuda. Shg tidak menghargai orang lain yg berbeda agama, keyakinan, bangsa, bahasa dan golongan dari dia. Padahal kalau kita betul2 cermati, semua agama mengajarkan kasih dan menghargai seluruh umat manusia tanpa terkecuali. Bahwa jika menghargai manuisia, sebenarnya menghargai Tuhan, demikian juga sebaliknya. Jadi, pecahkan tempurung, para katak, shg bosa keluar dari sana.. salam damai, viva NKRI.

    Reply
  4. Kurniawan

    Sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa agama-agama samawi adalah agama yang berasal dari padang pasir. Mungkin digodok dulu di sana, karena konstelasi keduniaan di situ paling rumit atau butuh revolusi mental, selanjutnya disebarkan ke seluruh dunia. Namun memang kadang Tuhan atau Nabi ada ‘khilaf’-nya, misalnya soal penentuan waktu puasa. Kasihan orang-orang yg tinggal di kutub, mereka bisa mati kelaparan karena matahari muncul hanya sebentar.

    Reply
    1. sebay12

      maaf untuk anda mungkin belum tau mendalam tentang ajaran puasa, dan di kutub matahari muncul sebentar kalo emang mengikuti ajaran islam mereka puasa lebih sebentar dong kan puasa dari matahari terbit sampai terbenam gimana bisa kelaparan?

      kalo emang pernyataan anda benar tentang nabi dan tuhan ada khilafnya tolong buktiin 1 ayat saja dalam al – quran itu salah maka saya akan tarik kata kata saya

      Reply
  5. yoto

    “Sebenarnya, orang-orang yang dianggap nabi itu adalah pemikir, pemimpin, guru, filusuf, atau raja di tempat itu. Karena berbagai keistimewaannya, orang tak lagi menganggap ia manusia biasa. Ia dianggap sebagai orang yang punya hubungan khusus dengan Tuhan.”

    Anda beragumen bahwa karena mereka bijak atau berkuasa maka mereka dianggap istimewa dan punya hubungan khusus dengan Tuhan. Padahal di beberapa kisah, justru yang nyata adalah sebaliknya: Karena mereka punya hubungan khusus dengan Tuhan maka mereka dianggap istimewa.

    Dengan demikian, argumen Anda tidak valid.

    Reply
  6. Babai

    Saya kira kalau aku mendalami memahami satu ajaran agama yg pelajari secara mendalam.. Baru tuh ketemu dimana persamaan konsep ketuhanan didalam hindu dan budha.. Ilmu perbandingan agama salah satu pacarnya zakar naik cek aja di youtube.. Vidionya

    Reply
  7. Avung Muninjaya

    Manusia itu makhluk yang lemah. Ego, nafsu dan akal pikirannya sendiri yang berguna sbg pelengkap hidupnya di dunia telah menyebabkan manusia semakin jauh dan melupakan tuntunan Tuhan. Utk mengatasi kondisi sot ini, kuncinya hanya manusia perlu belajar berserah diri secara total, tulus, ikhlas dan tawakal kehadapan Tuhan sehingga anugrah dan bimbingan Tuhan bisa dirasakan dan diwujudkan dlm kehidupan manusia selama di dunia.
    Hanya dengan tuntunan kekuasaan Tuhan, manusia bisa menghadap kembali keharibaanNya setelah menjalani tugas kehidupannya di dunia.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *