Tidak Ada Ajaran Final

Seorang teman mengirim pesan WA, minta tolong menjawab pertanyaan anaknya. Ini anak cerdas istimewa. Berkali-kali ia mengajukan pertanyaan tentang doktrin maupun legenda yang diajarkan dalam pelajaran agama.

Pertanyaan yang diajukannya sekarang adalah,”Kenapa dulu menghancurkan berhala itu dianggap pahlawan, sedangkan sekarang kalau itu dilakukan bisa dianggap tindakan kriminal?”

Jawaban atas pertanyaan ini tidak sederhana. Kita harus menjawabnya denganmengurai sejarah peradaban manusia. Salah satu komponen penting dalam peradaban manusia adalah perang. Ya, perang. Suka atau tidak, sampai saat ini banyak hal dalam sejarah manusia diubah atau ditentukan dengan perang. Pahlawan dan orang-orang hebat juga banyak muncul di medan perang.

Sampai dua tiga abad yang lalu manusia masih menggunakan cara berperang yang dipraktekkan sejak ribuan tahun yang lalu. Dalam bahasa sederhana bisa digambarkan sebagai the winner takes all, pemenang mengambil segalanya.

Di masa lalu, ketika suatu kelompok memenangkan perang, maka ia boleh berbuat apa saja terhadap kelompok lawan. Ia boleh membunuh semua orang yang tersisa, atau memperbudak mereka. Mereka boleh merampas semua milik lawan, atau menghancurkannya.

Satu hal lagi, zaman dulu perang sering berlangsung atas nama iman. Kepentingan untuk merebut wilayah, sering kali dibalut dengan kepentingan untuk menyebarkan ajaran agama, atau memuliakan nama Tuhan. Berhala, sesembahan, rumah ibadah, adalah bagian dari benda milik lawan. Maka ia boleh dihancurkan. Tindakan individu atau kelompok pasukan yang menghancurkannya adalah tindakan heroik. Benda-benda itu adalah simbol keberadaan lawan. Menghancurkannya adalah simbolisasi dari penghancuran lawan. Itu sama saja psikologinya dengan membakar bendera lawan.

Perlahan manusia belajar, khususnya dari kepedihan perang. Lalu mereka membuat sejumlah aturan. Salah satu tonggak penting dalam sejarah peradaban kita adalah Konvensi Jenewa. Dalam konvensi ini dirumuskan tata cara berperang, perlindungan terhadap penduduk sipil dan tawanan perang. Termasuk juga perlindungan terhadap harta benda (property) milik lawan.

Dalam konvensi ini tegas dipisahkan antara sipil dan militer. Perang tak lagi melibatkan semua orang seperti dulu, melainkan hanya oleh sekelompok orang bersenjata yang disebut tentara. Warga sipil tidak boleh diserang dan disakiti.
Perbudkaan sudah dihapuskan, sehingga tidak boleh ada lagi warga dari pihak yang kalah yang diperbudak.

Hal lain lagi adalah perubahan tata pergaulan. Hampir semua negara kini beragam. Meski masih ada satu dua negara yang mengaku berdasarkan agama, pada substansinya mereka bukan negara agama. Karena toh ada beberapa negara dengan identitas agama yang sama. Kalau itu negara agama, seharusnya mereka menjadi satu negara, bukan? Bahkan kerap pula terjadi perang antara 2 negara yang berdasarkan agama yang sama.

Perang kini adalah perang antar negara, tidak lagi membawa nama Tuhan. Artinya, simbol-simbol ketuhanan milik lawan, seperti rumah ibadah dan patung-patung juga tak boleh diusik.

Tapi bukankah ajaran agama masih menganggap hebat penghancur berhala itu? Itu adalah ajaran yang dirumuskan belasan abad lalu. Ajaran seperti itu sudah kita tinggalkan. Harus kita tinggalkan. Dalam keadaan perang maupun damai manusia tidak boleh mengusik rumah ibadah dan perlengkapan ibadah milik orang lain. Karena beragama adalah hak azasi yang harus dihormati.

Tapi, kalau ditinggalkan, bagaimana dengan ajaran tentang kesempurnaan agama? Tidak ada ajaran sempurna. Itu hanya klaim saat itu. Sebelumnya agama-agama yang lebih tua juga melakuka klaim serupa. Toh kemudian muncul ajaran agama baru.

Agama adalah tata cara hidup yang dirumuskan di masa lalu. Kini kita terus merumuskan tata cara hidup. Hanya saja kita tak lagi mengaitkan tata cara itu dengan nama Tuhan. Kita menyenutnya undang-undang dan hukum. Tata cara hidup kita terus berkembang. Suka atau tidak, sebenarnya kita sudah banyak meninggalkan ajaran agama. Hanya saja kita enggan mengakuinya terang-terangan.

Di masa depan perang harus ditiadakan. Bagi saya segenap aturan perang, termasuk Konvensi Jenewa itu adalah aturan konyol. Aneh sekali, dalam keadaan biasa kita tidak boleh membunuh dan merusak, tapi dalam perang itu dibolehkan.

Begitulah. Tata cara hidup manusia terus berkembang. Ajaran yang dirumuskan belasan abad lalu secara perlahan akan ditinggalkan. Yang tersisa mungkin hanya ritual-ritual untuk senang-senang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *