Tetap Waras

0 Comments

Tetap waras itu artinya menerima fakta secara apa adanya, tidak peduli fakta itu menguntungkan atau merugikan kita, kita sukai atau tidak.

Fakta sering kali tidak kita sukai. Reaksi alamiah kita adalah mengingkainya. Atau, mencari fakta lain yang lebih cocok dengan preferensi kita, untuk menutupi fakta yang tidak kita sukai tadi.

Saya pernah menulis soal tertinggalnya dunia Islam saat ini dalam bidang sains. Kontribusi ilmuwan dari negara-negara berpenduduk muslim sangat sedikit. Kalaupun ada, kebanyakan dari mereka bekerja di Eropa dan Amerika, wilayah yang bukan negeri muslim. Tiga muslim penerima Hadiah Nobel di bidang sains, semuanya bekerja di luar.

Apa reaksi orang? Mereka mulai mengoceh soal kejayaan sains Islam sekian abad yang lalu. Ya, kita semua tahu itu. Tapi apa hubungannya? Kata mereka, kalau tidak ada kontrbusi dunia Islam dulu, sains modern tidak akan seperti sekarang. Itu ibarat orang diajak gotong royong membesihkan kampung, ia menolak, dengan alasan dulu bapaknya sudah membangun kampung ini.

Kenyataan bahwa dunia Islam sekarang tertinggal dalam sains itu begitu menyakitkan, membuat orang mencari fakta lain, yang meski tidak relevan, akan membuat dia nyaman.

Begitu pula dengan Ahok. Ia Cina, Kristen, dan ia seorang gubernur di ibu kota negara. Ini fakta yang sangat tidak menyenangkan bagi banyak orang Islam. Ditambah lagi, ia membuat banyak gebrakan yang mendapat apresiasi secara luas. Yang lebih penting, ia punya peluang besar untuk terpilih kembali.

Maka orang-orang yang tersakiti oleh fakta itu mulai mencari fakta lain. Ahok itu bermulut kotor, kata mereka. Itu juga fakta. Tapi fakta yang dibesarkan jauh melebihi porsinya. Karena kata-kata kasar Ahok biasanya dalam konteks tertentu. Sama halnya dengan Risma, yang juga kasar dalam bicara. Tapi kenapa kasarnya Risma tidak jadi masalah? Karena fakta lain tentang Risma tidak menyakitkan, sehingga orang tidak perlu mencari fakta lain untuk mengalihkan perhatian.

Fakta soal mulut kotor tadi ternyata tidak cukup untuk menutupi fakta bahwa Ahok itu bekerja keras. Maka orang-orang mencari fakta lain. Bingo! Ada temuan BPK soal indikasi penyelewengan dan pembelian lahan Sumberwaras. Fakta ini langsung disambar. Banyak orang yang sudah mematri kesimpulan di benak mereka bahwa Ahok itu korup. Kesimpulan itu tidak berubah meski KPK menyatakan tidak ada korupsi dalam kasus itu. Saking sulitnya mereka menerima fakta itu, mereka kemudian menciptakan fakta baru, bahwa KPK sudah dibeli.

Soal yang terakhir itu bukan soal baru. Waktu Luthfi Hasan ditangkap KPK, ada begitu banyak orang yang sulit menerima fakta itu. Mereka mengarang cerita konspirasi untuk menyamankan diri. Salah satu ceritanya, KPK itu bagian dari konspirasi untuk menjelekkan Islam.

Yang harus kita lakukan adalah membebaskan diri dari berbagai kerangka yang mengikat kita dalam melihat fakta. Islam pasti baik, orang Islam selalu baik, itu adalah kaca mata yang dipakaikan oleh doktrin yang dicekokkan kepada kita sejak kecil. Dongeng-dongeng indah tentang Islam dan muslim, sering membuat kita gagal melihat fakta dengan jernih. Itu masih ditambah lagi dengan dongeng-dongeng soal keburukan kafir.

Demi kesehatan jiwa, saya memilih untuk melepaskan kerangka itu, membuat diri saya bebas. Saya merdeka dalam berpikir. Itu membuat saya #tetapwaras .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *