Terrorist Mind

Menjelang lebaran dunia maya sedikit riuh oleh soal pelarangan kegiatan takbir keliling di Jakarta. Zara Zettira, seorang penulis, memuat sebuah poster di laman Facebooknya. Isi poster itu adalah kemarahan atas larangan tadi. Isinya, larangan takbir keliling itu adalah bentuk kezaliman Ahok. Acara takbir keliling yang merupakan aktivitas ibadah umat Islam dilarang, sementara keramaian sejenis oleh umat lain dilarang. Karena itu poster itu mengajak untuk melempar bom molotov pada aktivitas tahun baru atau tahun baru Imlek.
 
Bagi saya itu adalah ajakan untuk meneror orang. Pelemparan bom molotov adalah sebuah bentuk teror. Poster tadi adalah ajakan terang-terangan untuk melakukan teror. Saya tidak tahu seberapa serius pembuat poster itu dan para pembacanya memikirkan rencana itu. Namun dalam pikiran mereka sudah ada bibit terorisme.
 
Apa yang ada dalam benak para teroris? Pertama, ada orang-orang yang memusuhi Islam dan menzalimi umat Islam. Dalam kasus tadi, Ahok adalah sosok tersebut. Kedua, tindakan penzaliman itu harus dibalas dengan tindakan zalim juga. Tidak peduli bahwa yang terkena akibat tindakan pembalasan itu bukan Ahok secara langsung, pokoknya harus dibalas. Ketiga, mereka tidak peduli bahwa ketika tindakan balasan itu diambil, umat Islam juga akan jadi korban. Bayangkan, pada keramaian tahun baru misalnya, sebagian besar pengunjungnya adalah umat Islam. Melempar bom molotov ke situ akan melukai umat Islam juga.
 
Pola pikir itu persis sama dengan yang dipikirkan oleh para penyerang di Perancis, Turki, Bangladesh, dan Indonesia. Juga penyerang Madinah. Sulit bagi kita untuk menalar, bagaimana bisa kebencian mereka terhadap orang kafir dilampiaskan dengan menyerang Madinah. Sama seperti tidak bersambungnya nalar antara larangan takbir keliling, dengan serangan kepada acara tahun baru.
 
Orang-orang yang berpikiran teroris hanya mau melihat fakta yang mendukung kesimpulan mereka. Dalam hal larangan takbir, Ahok adalah musuh Islam, itu postulatnya. Mereka hanya perlu mencari tindakan Ahok yang bisa dipakai untuk membenarkan kebencian mereka. Maka mereka mengabaikan fakta bahwa larangan acara takbir keliling itu sudah dilakukan pada zaman Sutiyoso, seorang gubernur yang muslim. Bahkan larangan yang sama juga diterapkan di Jawa Barat yang gubernurnya dari partai Islam, atau di kota Depok, yang walikotanya berasal dari partai yang sama.
 
Cara berpikir teroris ini dianut oleh banyak orang Islam di Indonesia. Meski hanya sedikit yang berani mewujudkannya dalam tindakan nyata, cara berpikir ini tetap berbahaya. Cara berpikir ini membuat mereka permisif terhadap tindakan terorisme. Tak heran bila tidak sedikit orang Indonesia yang mendukung berbagai aksi terorisme.
 
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *