Tentang Cina yang Diskriminatif

cina

 
Ada yang komentar di posting saya. Dia, kalau saya tidak salah ingat, mengaku pernah bekerja di Astra. Di Astra, kata dia, bagaimanapun berprestasinya pribumi, tidak akan bisa naik tinggi. Demikian pula di BCA. Bahkan konon di BCA gaji antara karyawan Cina dan pribumi dibedakan.
 
Benarkah? Entahlah. Iseng saya cari data direksi Astra International. Dari foto saya lihat ada Widya Wiryawan dan Sudirman M. Rusdi. Kalau melihat fotonya, mustahil mereka itu Cina. Kecuali kalau mereka dari golongan Hitachi, hitam tapi China.
 
Bagaimana di BCA? Saya tidak tahu.
 
Saya punya sedikit pengalaman soal ini. Tahun 2011 saya diperkenalkan oleh sebuah perusahaan head hunter ke sebuah perusahaan pembuat komponen otomotif di Cibitung. Waktu itu saya ditawari pekerjaan. Tak tanggung-tanggung, saya ditawari jabatan presiden direktur.
 
Perusahaan ini adalah sebuah joint venture antara perusahaan autopart Malaysia dengan perusahaan Indonesia. Karyawan sekitar 500 orang, nilai sales per tahun sekitar 150 milyar, 3 kali lebih besar dari perusahaan tempat saya bekerja waktu itu. Di perusahaan tempat saya bekerja, saya seorang direktur. Tawaran menjadi presdir di perusahaan yang 3 kali lebih besar tentu menggiurkan.
 
Namun sejak awal saya sendiri ragu, mungkinkah saya bisa bekerja di perusahaan otomotif, padahal saya sama sekali tidak punya pengalaman di situ?
 
Dengan sedikit keraguan saya hadir di wawancara pertama. Tidak seperti wawancara kerja yang pernah saya datangi, wawancara dilakukan pada malam hari, di sebuah restoran. Saya memesan steak, sambil makan dan minum, kami berbincang. Yang mewawancarai saya adalah pemegang saham dari pihak Malaysia. Dia orang Cina. Dia bertanya tentang latar belakang saya, dan pekerjaan yang sedang saya jalani. Kemudian dia bertanya soal pengetahuan saya tentang industri otomotif. Saya jawab dengan jujur bahwa saya tidak tahu banyak.
 
Tidak hanya bertanya, dia banyak menjelaskan tentang sistem produksi di industri otomotif, juga situasi bisnisnya. Alih-alih diuji, saya malah mendapat banyak pelajaran di situ. Dari wawancara itu saya sadar bahwa sepertinya saya tidak akan lulus. Terlebih pihak head hunter memberi tahu bahwa 2 kandidat lain adalah orang yang sedang bekerja di perusahaan otomotif.
 
Tapi kemudian hasil yang dikabarkan head hunter mengejutkan saya. Saya lulus wawancara tahap pertama, sementara 2 kandidat lain tidak. Tahap berikutnya saya wawancara dengan pemilik saham dari pihak Indonesia, dia orang Cina juga. Dalam wawancara pemilik saham ini pun memiliki kesan yang bagus tentang saya. “Tapi ada satu hal yang sangat mengganggu saya, yaitu bahwa Anda tidak punya pengalaman di industri otomotif,” katanya.
 
Setelah itu saya sempat diajak meninjau pabrik, kembali ditemani oleh pemegang saham dari Malaysia tadi. Pada tahap itu kami sudah berbincang tentang gaji dan fasilitas. Saya sampaikan berapa keinginan saya, dan dia menyampaikan berapa budget yang disediakan perusahaan. Tidak persis cocok, tapi masih dalam wilayah yang bisa dinegosiasikan.
 
Di akhir cerita, saya tidak jadi bekerja di perusahaan itu. Sampai tenggat waktu yang saya tetapkan, pihak perusahaan tidak kunjung memutuskan. Menurut head hunter kedua pihak pemegang saham tak kunjung bisa bersepakat tentang saya. Karena saya sedang ada negosiasi lain dengan perusahaan saya, saya putuskan secara sepihak bahwa saya mengundurkan diri dari posisi sebagai kandidat.
 
Pengalaman saya di atas menunjukkan bahwa bagi orang bisnis tujuan berbisnis adalah laba. Untuk meraih laba, mereka memerlukan orang-orang profesional. Alasan utama adalah profesional. Karena itu perusahaan tadi, meski pemiliknya Cina, mau mencoba mempekerjakan saya pada posisi puncak, padahal saya bukan Cina.
 
Mungkin ada yang punya stereotype bahwa, misalnya, orang Cina itu lebih profesional. Tapi sekali lagi, fokusnya profesional. Tentu saja ada juga preferensi pribadi. Orang Jawa lebih suka mempekerjakan orang Jawa. Cina juga begitu. Atau sebaliknya, yang Cina lebih suka mempekerjakan orang pribumi. Semua mungkin saja terjadi.
 
Tapi saya percaya satu hal, bahwa saya profesional. Saya diterima karena saya profesional, bukan karena hal lain. Maka saya tidak terlalu risau dengan isu-isu rasial atau sektarian. Bisa saja hal itu benar, tapi banyak juga yang hanya isapan jempol. Keduanya tidak merisaukan saya. Karena saya profesional. Orang profesional selalu mendapat tempat. Jangankan di perusahaan Cina, di perusahaan Jepang pun ia laku.
 
Nah, sebaliknya, yang suka menghembuskan dan membesar-besarkan isu rasial-sektarian, sangat besar kemungkinan dia adalah seorang pecundang. Ia hanya menyalahkah orang lain atas kegagalannya. Ia mencoba menutupi kekurangan dirinya dengan isu-isu itu.

One thought on “Tentang Cina yang Diskriminatif”

  1. Harus di akui ada Cina yg diskriminatif, yg lebih nyaman punya pegawai yg sesama cina, berteman hanya sesama cina, tapi bukankah ada juga orang jawa, madura, batak dll yg diskriminatif ?? yg merasa lebih nyaman denganyg seetnis, sedaerah, seagama dll

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *