Takut Belajar Agama

belajaragama

Dalam acara pengajian takziyah wafatnya emak saya 11 tahun yang lalu, Ustaz Hasan Gafar, salah satu tokoh senior Muhammadiyah di Pontianak memberikan tausiyah yang sangat menarik. Kata beliau, urusan penanganan jenazah sebenarnya lebih afdhal bila dilakukan oleh anggota keluarga sendiri. Mulai dari memandikan, mengafankan, dan menyalatkan. Itulah yang kami lakukan. Waktu ayah, kemudian emak meninggal, semua urusan jenazah kami yang menyelenggarakan. Abang saya yang mengimami salat jenazah.

Masih menurut tausiyah Ustaz Hasan Gafar, sangat banyak orang yang tak menguasai hal-hal sepele seperti urusan jenzah ini. Lalu berkembanglah pandangan sesat seolah urusan jenazah adalah urusan orang-orang tertentu saja, spesialis pengurus jenazah. Akibatnya, orang yang “berprofesi” mengurus jenazah itu jadi pontang panting. Bahkan sampai terjadi mayat terlantar tak terurus karena sang pengurus mayat belum datang.

Isi tausiyah tersebut benar adanya. Masih sangat banyak orang Islam yang tak bisa salat jenazah. Kalau pergi takziyah tidak datang untuk menyalatkan jenazah, tapi sekedar pergi ngobrol. Sayang sekali. Masih banyak pula hal-hal yang seharusnya afdhal bila dilakukan sendiri, tapi orang lebih suka meminta orang lain mewakili, seperti menikahkan anak, menyembelih kurban atau akikah.

Banyak orang malas belajar agama, padahal yang harus dipelajari bukan hal yang rumit. Sekedar untuk memenuhi kebutuhan pribadi saja pun mereka tak lakukan. Padahal mereka adalah orang-orang yang biasa belajar untuk hal lain. Mereka pada umumnya sarjana. Kalau kita sanggup belajar ekonomi, hukum, fisika, biologi, manajemen, kenapa tak sanggup belajar agama? Kenapa betah jadi orang awam seumur hidup?

Tapi selain membenarkan, di pengajian itu saya juga mengritik Ustaz Hasan Gafar. Saya katakan bahwa banyak orang takut belajar agama karena sering ditakut-takuti. Untuk paham agama orang harus menguasai banyak ilmu, nahwu, sharaf, hadist, Quran, bla bla bla. Akhirnya ilmu agama itu jadi sangat menyeramkan. Para pemilik ilmu agama menempatkan diri mereka di tempat eksklusif, menjadi sekelompok manusia elit yang mampu menguasai ilmu yang tak bisa dikuasai orang lain.

Padahal setiap ilmu itu ada tingkatannya. Kalau kita tidak bisa berbahasa Arab, tidak terhalang bagi kita untuk belajar fiqh atau ushul fiqh. Banyak buku-buku terjemahan atau buku yang ditulis oleh orang Indonesia yang bisa kita baca. Untuk memenuhi kebutuhan sendiri, belajar di level ini sudah cukup. Orang-orang harus didorong untuk belajar, bukan ditakut-takuti.

Ancaman lain yang menghadang adalah takut sesat. Orang ditakut-takuti akan sesat kalau dia belajar mandiri. Harus dibimbing oleh orang yang benar-benar mumpuni. Mumpuni itu apa sih? Apakah kalau sudah bisa bahasa Arab, punya ilmu ini itu, lantas mumpuni? Maaf saja, cukup sering saya mendengar ceramah dari orang yang seharusnya mumpuni, lulusan pesantren, lulusan Timur Tengah, tapi wawasannya kerdil. Lebih parah lagi, ajarannya mengerikan.

Berulang kali saya katakan, tak ada satu manusia pun yang lengkap ilmunya. Jadi tidak perlu minder. Agama itu sangat luas, tidak hanya soal ilmu alat. Yang biasa disebut ilmu alat itu bagi saya hanyalah sebagian kecil dari alat yang diperlukan untuk memahami agama. Sebenarnya pengetahuan spesifik itu hanyalah pintu masuk saja. Orang-orang lulusan pesantren bisa masuk dalam kajian agama dengan ilmu alat tradisional seperti bahasa Arab, ulumul quran, dan sebagainya. Sedangkan kita bisa masuk lewat ilmu profesi kita. Saya banyak melakukan kajian agama dengan pendekatan sains, sesuai latar belakang saya.

Namun memang ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan, yaitu sikap tahu diri. Di bagian yang kita memang tidak punya ilmunya, kita tidak perlu sok tahu. Dalam soal tafsir atau hadist, ilmu saya sangat dangkal. Maka untuk hal ini saya biasanya merujuk pada pendapat orang-orang yang punya ilmunya. Soal hadist, misalnya, saya tidak pernah membahas bahwa hadist ini sahih atau dhaif, melainkan sekedar mengutip pendapat orang lain yang saya anggap mumpuni.

Masih takut sesat? Yakinlah bahwa yang paling berpeluang untuk sesat adalah orang-orang yang tidak belajar.

 

Sumber foto: Berita Harian

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *