Taik, Say It With Love

15 March 2016 0 Comments

Ahok itu Cina, tapi dia Cina Bangka. Di Bangka, Belitung, Bintan, juga di pesisir Kalimantan Barat, pola demografinya mirip. Ada orang-orang pribumi suku Melayu yang mayoritas, ada pendatang suku Jawa yang biasanya termelayukan (anak-anaknya tidak bisa bahasa Jawa), juga Bugis, dan ada orang-orang Cina yang biasanya berdagang. Interaksi antarsuku ini selalu unik dan menarik buat saya.

Di kampung kami dulu orang-orang Cina biasa berbahasa asli mereka, baik Teu Ceu atau Khek. Terus terang, urusan percinaan ini agak rumit buat saya. Suatu saay, ketika membicarakan seseorang, teman saya orang Cina bilang,”Oh, kalau dia bukan Cina. Dia itu orang Khek.” Nah, lu, saya kan bingung kok ada Cina bilang Cina lain bukan Cina. Saya tidak tahu beda antara Teu Ceu dengan Khek. Bagi saya mereka semua Cina belaka. Rupanya berbeda. Kalau dengan orang-orang Melayu, mereka biasanya berbahasa Melayu, dengan logat Cina.

Kami orang Melayu biasanya terbuka. Terbuka untuk menerima orang-orang luar seperti berbagai suku yang saya sebut di atas. Juga terbuka dalam menyampaikan sesuatu. Kalau mau dibandingkan dengan orang Jawa, kami itu lebih mirip orang Jawa Timur yang blak-blakan, kasar, tapi akrab. Orang-orang di kampung saya biasa mencarut agak vulgar, dan itu dianggap biasa saja. Dalam keseharian kami biasa menyebut “pelir” atau “puki”, nama-nama kemaluan, yang mungkin tabu disebut dalam kultur lain. Demikian pula, di kampung orang tidak mengenal kata ningrat seperti “buah dada” atau “payudara”, kami menyebutnya dengan sederhana, “susu”. Bukankah kita menyebut air susu ibu, bukan air payudara ibu?

Setiap suku bangsa punya makian. Ada pengalaman unik saat kami belajar bahasa Jepang. Guru-guru muda kami yang kebetulan perempuan menghindar dari mengajarkan kata-kata “kotor”. Tapi guru senior justru mengajarkannya. “Makian itu realitas hidup. Dalam hidup kita kadang perlu memaki. Karena itu saya harus mengajari kalian, agar kalian siap menghadapi realitas,” kata guru saya. Dalam bahasa Melayu kami punya beberapa makian. Makian paling kasar adalah,”Puki mak kau!” Atau,”Butoh ayah kau.” Butoh bermakna sama dengan pelir. Kadang lebih singkat,”Puki kau. Butoh kau.” Makian lain adalah,”Taik.”

Makian adalah ungkapan kemarahan. Tapi sering kali pula menjadi ungkapan keakraban. Kalau kita sudah bisa memaki teman dengan makian kasar, dan dia tertawa, itu adalah puncak keakraban. Maka dengan kawan-kawan kami biasa saling memaki,”Eeeee, kimaknye benar.” Atau,”Memang taiklah kau ni.” Jadi, makian pun sebenarnya sangat kontekstual. Ia bisa menjadi ungkapan kemarahan yang kasar, bisa pula jadi simbol keakraban.

Ketika Ahok marah-marah sampai maki-maki, bagi orang Jawa mungkin itu sebuah kejutan. Bagi saya pribadi, saya malah ingat pada kampung dan kultur saya. Itulah ciri orang Melayu. (Ini subjektivitas saya, orang Melayu lain mungkin berpendapat berbeda.) Makian seperti itu, sekali lagi menurut saya, biasa saja.

Dalam sudut pandang yang lain, bila terhadap orang-orang korup, rasanya makian Ahok itu masih terlalu halus. Kalau saya bisa, saya tak ingin sekedar memaki mereka dengan sebutan taik. Saya ingin betul-betul menyempalkan tak saya ke mulut mereka. Itu adalah tanda cinta saya kepada negara, karena saya tidak ingin negara ini makin hancur oleh ulah koruptor.

Jadi, katakanlah,”Taik!” Katakan dengan cinta.

 

One thought on “Taik, Say It With Love”

  1. E.. Lama ndak dengar bahase cam itu di bandung nih. Ditulis tanpa sensor pulak same bapak nih. Hahahaha.. Macam di kampong dolo jadinye

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *