Tag Archives: parenting

Anak Juara (2)

Pada prinsipnya anak juara adalah anak yang mampu belajar. Ia menikmati kegiatan belajar, kemudian bisa memanfaatkan setiap kesempatan sebagai tempat untuk belajar. Kelak ia akan menjadi pembelajar mandiri, sanggup menyerap setiap informasi, dan mengolahnya menjadi pengetahuan. Tidak cuma itu, ia juga sanggup mempelajari sesuatu dengan cepat (quick learner).

Apa yang harus dipelajari? Semua hal. Hal-hal yang sifatnya pengetahuan, tata krama, juga yang sifatnya keterampilan. Termasuk di dalamnya keterampilan mengendalikan diri, atau menerima kekalahan.

Belajar sering kali menjadi sesuatu yang menyiksa bagi anak-anak. Karena itu anak perlu dibiasakan belajar dengan cara yang menarik. Harapan kita, kelak dia akan bisa membangun metode belajar yang tepat, mudah, dan menarik, bagi dirinya sendiri.

Bagaimana cara belajar yang mudah? Kita semua tahu bahwa ada pepatah yang mengatakan bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik. Maka, mari kitabawa anak-anak belajar melalui pengalaman.

Pertama, mari kita bawa pelajaran ke ruang pengalaman, dengan melakukan berbagai pengamatan di alam, juga melakukan eksperimen. Jenis-jenis akar pohon, misalnya, akan sulit dipahami dan diingat anak kalau kita hanya memperkenalkan mereka dengan nama-nama jenis akar. Ajak mereka mencabut pohon/rumput, perlihatkan akarnya. Mereka akan lebih mudah paham dan ingat. Ajak mereka mengukur suhu air yang kita masak, maka mereka akan lebih mudah ingat proses air mendidih, serta suhunya.

Saya mengajarkan prinsip aliras listrik dengan mengajak anak-anak saya merangkai kabel, memasang steker, stop kontak, dan saklar. Dengan cara itu mereka paham soal aliran listrik, sekaligus terampil membuat jaringannya.

Kedua, beri learning point pada hal-hal yang mereka alami. Misalnya saat berenang kita bisa menjelaskan hukum Archimedes. Saat melihat laut atau danau di pagi hari, dengan air yang menguap di permukaan, kita bisa jelaskan soal siklus air.

Saat masak di dapur saya biasa menjelaskan berbagai fenomena. Mengapa kerupuk menjadi melar dan garing setelah digoreng? Itu satu contoh soal yang bisa kita jelaskan. Kerupuk kering yang belum digoreng mengandung  air di dalamnya. Minyak goreng dipanaskan pada suhu yang lebih tinggi daripada air. Saat kita menggoreng, suhu minyak mencapai 150 derajat. Makakan yang mengandung air seperti kerupuk, ketika dimasukkan ke minyak panas akan menimbulkan gejala seperti mendidih. Yang mendidih itu adalah kandungan air tadi, yang langsung menguap. Tempat yang tadinya dihuni air membesar karena air memuai dari keadaan cair menjadi uap. Kemudian ia keluar meninggalkan ruang kopong. Inilah yang menyebabkan kerupuk melar dan garing.

Tapi, bagaimana menjelaskan itu semua kalau kita sendiri tidak tahu? Ya, kita harus tahu. Kalau tidak tahu bagaimana? Belajar! Menjadi orang tua adalah proses belajar yang tidak pernah berhenti. Termasuk di dalamnya belajar hal-hal yang dibutuhkan anak-anak.

 

 

 

 

 

Anak Juara

Suatu hari beberapa tahun yang lalu, Sarah bertanya. “Ayah, aku kok nggak pernah juara?”

“Juara apa?”

“Juara apa saja. Teman-temanku punya banyak piala di rumahnya. Juara lomba mewarnai, juara matematika, juara nyanyi………”

“Oh, iya, kamu belum pernah. Bukan nggak pernah. Belum. Suatu saat nanti kamu akan jadi juara.”

“Tapi juara apa? Aku nggak merasa punya bakat apapun. Menggambar tidak bagus, nyanyi juga tidak. Nilai matematika pas-pasan.”

“Gini, nak. Bakat itu ada yang dibawa dari lahir. Tidak ngapa-ngapain, langsung hebat. Tapi ada juga yang perlu diasah. Kamu tahu nggak, intan itu tidak bening dan cemerlang ketika baru saja ditambang. Ia baru cemerlang setelah diasah ratusan kali.”

Bulan lalu Sarah menjadi juara 3 sebuah lomba karya tulis. Kemarin dia juara 2 kejuaraan karate Gojukai se Jawa Barat. Janji saya pada Sarah kini terwujud. Tapi bagi saya anak juara itu bukanlah sekedar anak-anak yang mengoleksi piala dan medali. Tanpa piala dan medali pun anak-anak kita tetap juara. Kita harus mengarahkan anak-anak untuk menjadi juara.

Pertandingan atau kompetisi terbesar yang dihadapi anak-anak kita adalah kehidupan itu sendiri. Akan ada begitu banyak pertandingan dan kompetisi di dunia nyata yang akan mereka hadapi. Setiap hari adalah latihan untuk menghadapi kompetisi itu, untuk memenangkannya. Bagaimana kita mempersiapkan mereka?

Saya sendiri tidak pernah menyiapkan anak-anak saya untuk mengejar piala-piala. Saya rajin mengajak anak-anak saya melakukan berbagai kegiatan eksperimen, tidak dalam rangka mengarahkan mereka pada olimpiade sains. Saya hanya ingin mengajak mereka mengeksplorasi, memperkaya pengetahuan. Anak-anak saya ikut latihan karate. Tak terpikir oleh kami bahwa suatu saat mereka akan bertanding. Kami hanya ingin agar mereka bisa bergaul dengan anak-anak tetangga, sambil berolah raga.

Mendidik anak-anak untuk jadi juara artinya menyiapkan anak-anak untuk tangguh menjalani hidup, menuju masa depan mereka. Hal terpenting dalam proses ini adalah belajar. Belajar tentang apa saja. Kita sering kali terlalu fokus pada pelajaran dalam makna akademik. Padahal anak kita memerlukan lebih banyak pelajaran. Terlebih, saat ini kita tidak tahu akan jadi apa anak-anak kita di masa depan. Dunia kini sungguh dinamis. Akan ada puluhan, bahkan mungkin ratusan profesi baru di masa depan, profesi-profesi itu belum ada wujudnya saat ini. Anak-anak kita mungkin akan menenekuni salah satunya. Bagaimana kita mempersiapkan anak-anak untuk menjalani profesi yang saat ini kita belum tahu wujudnya?

Belajar adalah kuncinya. Anak-anak harus kita biasakan belajar. Belajar tentang apa saja. Belajar dengan cara apa saja. Sampai mereka bisa melengkapi diri dengan ilmu dan keterampilan apa saja yang kelak mereka butuhkan. Sampai belajar itu menjadi darah daging, mereka menjadi orang yang belajar dalam setiap desah napas mereka, seumur hidup.

Menjadikan anak-anak kita juara artinya menyiapkan mereka untuk menjadi seorang pembelajar. Tantangannya adalah, bagaimana mengalihkan proses belajar itu dari hal yang menyiksa, menjadi hal yang menyenangkan. Karena itulah saya selalu duduk dan berdiri di dekat anak-anak saya sejak usia mereka dini. Saya carikan berbagai cara agar belajar itu jadi menarik dan menyenangkan. Juga saya ganti definis belajar itu, tak melulu menghadapi buku. Belajar bisa di dapur saat kita masak, di sungai atau gunung saat kami berkemah atau menjelajah, di laut saat kami berenang atau main kayak. Belajar juga bisa dilakukan saat kumpul-kumpul hajatan keluarga. Bahkan saat duka cita ketika ada yang wafat, itu adalah saat di mana anak-anak kita bisa belajar.

Menjadi juara artinya tak menyerah ketika kalah. Anak-anak harus diajarkan untuk terus mencoba, sampai bisa. Terus mencari tahu sampai tahu. Terus mencari sampai ketemu.

Putramu bukanlah Putramu

gibran

Di kuliah uumum saya di Mataram saya menerima keluhan dari mahasiswa. “Saya itu nggak minat kuliah, Pak. Saya tadinya mau berbisnis. Saya sudah kumpulkan modal, siap mulai. Tapi orang tua saya memaksa saya kuliah. Saya bingung mau kuliah apa, karena saya nggak minat. Akhirnya saya masuk ke sini, prodi pendidikan fisika. Walau saya nggak tahu apa itu fisika.”

Saya beri dia nasihat kecil. “Kamu bisa tetap melaksanakan keduanya. Kuliah jalan, tapi jalankan juga bisnismu.”

Usaha orang tua untuk mengarahkan (memaksa) anak-anaknya untuk jadi ini dan itu suatu saat mungkin akan gagal. Karena, seperti kata Gibran, putramu bukanlah putramu. Mereka adalah putra putri kehidupan yang mendambakan hidup mereka sendiri. Mereka akan jadi anak panah yang lepas dari busur. Begitu kau lepaskan, kau tak lagi bisa mengendalikannya.

Di zaman ini seorang dokter bisa jadi artis atau pedagang. Ahli nuklir bisa jadi pengamat media sosial. Hidup penuh tikungan tak terduga, kata seorang teman. Saya yang berniat jadi guru, “terpaksa” jadi GM. Life is never flat.

Apakah kita masih berpikir untuk menentukan hidup anak kita, misalnya, dengan memaksa mereka kuliah mengambil jurusan sesuai selera kita? Menurut saya itu perbuatan sia-sia. Kita tidak hanya menyiksa anak, tapi juga menipu diri. Kita tidak pernah tahu akan jadi apa anak kita kelak. Karena ada suatu saat di mana kita tak bisa lagi mengontrol mereka, dan mereka akan jadi apa saja.

Maka saya lebih suka mendorong anak-anak saya untuk belajar, memperkenalkan mereka dengan berbagai pengetahuan, serta berbagai profesi. Saya hanya berharap mereka berminat pada sesuatu, lalu menekuninya. Tekun, itulah kuncinya. Anak hanya perlu semangat untuk menekuni sesuatu. Apa yang dia pilih untuk ditekuni, tidak jadi soal. Bisa jadi pula ia akan berganti minat kelak. Tak masalah. Karena orang tekun akan sukses di mana saja.

Bahkan kalau anak saya memilih untuk tidak kuliah demi menekuni sesuatu, saya akan dukung. Tidak semua orang perlu jadi sarjana!

 

Guru untuk Anak, Guru untuk Bangsa

Tadi malam saya sebenarnya sedang sangat lelah. Sejak Senin saya ada tugas di Tangerang, sampai besok. Hari Senin jalan macet luar biasa. Walhasil, 4 jam perjalanan baru tiba di rumah. Tadi malam sedikit baik, kurang lebih 3 jam sudah bisa tiba di rumah. Seperti biasa, tiba di rumah saya disambut oleh jeritan girang Kenji, dilanjutkan pelukan hangat.

Usai makan malam, kami berkumpul di ruang duduk. TV saya matikan. Ghifari minta dibimbing menyiapkan pidato untuk acara di kelasnya. Ia diminta memberi ceramah tentang pentingnya menuntut ilmu. Saya tuntun dia untuk menghafal hadist tentang menuntut ilmu. Kemudian saya bimbing dia menuliskan naskah pidatonya di komputer.

Sementara itu Sarah juga tidak sabar. Ia memandangi tabel periodik elemen dengan penuh minat. Banyak pertanyaan yang ia ajukan selama saya membimbing Ghifari. Tapi saya tak bisa meladeninya, karena harus fokus dulu ke Ghifari. Sarah jadi sedikit ngambek.

Lalu Kenji pun tak mau kalah. Ia duduk di pangkuanku. “Ayah, aku mau latihan nulis,” katanya. Apa boleh buat. Kusuruh Kenju mengambil kursi dan buku tulis, lalu kudiktekan kalimat-kalimat yang harus ia tulis. Sambil mendiktekan kalimat-kalimat untuk Ghifari, aku juga harus melakukan hal yang sama untuk Kenji. Selepas itu Kenji juga menuntut untuk mengetik tulisannya ke komputer. Bah, komputer tak cukup, karena laptop yang satu lagi dipakai Sarah untuk browsing mencari informasi soal tabel periodik. Akhirnya Kenji mau mengalah, menuliskan kalimat-kalimatnya di tablet saja.

Selesai Ghifari menulis naskah, barulah saya punya waktu untuk Sarah. Pertama saya jelaskan sedikit tentang teori atom berdasarkan teori Rutherford. Lalu saya jelaskan komposisi inti atom, yang terdiri dari proton dan netron. Struktur atom yang seperti itu membuat atom memiliki ruji yang berbeda-beda. Lalu saya carikan tabel periodik yang agak lengkap, menunjukkan tidak hanya nomor atom, tapi juga berat, ruji, bilangan ionisasi, dan sebagainya. Saya perkenalkan bahwa tabel periodik itu memuat banyak informasi, tidak sekedar nomor atom seperti yang selama ini dia kenal.

Peliknya, Sarah menjadi semakin tidak sabar. Ia haus informasi.

“Ini apa? Apa maksudnya not observed?”

Ia menunjuk ke atom nomor 117.

“Oh, itu atom yang belum bisa dibuat, tapi sudah bisa diprediksi secara teoretis.”

“Oh, ada atom yang dibuat ya?”

“Iya, itu yang ada gambar orang, itu artinya atomnya buatan manusia.”

Keinginan saya untuk menjelaskan struktur atom dan tabel periodik sementara terputus oleh pertanyaan tentang atom buatan. Saya harus sejenak menjelaskan soal atom-atom buatan manusia, perbedaannya dengan atom natural, radiokatif, dan seterusnya.

Setelah itu barulah saya menjelaskan susunan elektron-elektron dalam atom, yang menjadi dasar penyusunan tabel periodik. Saya jelaskan sedikit tentang mekanisme ikatan antar atom ketika atom-atom itu membentuk senyawa.

Ada banyak lagi hal yang ingin ditanyakan Sarah.

“Sudah malam, sekarang waktunya tidur.”

Ia menurut. Tapi dalam setiap geraknya ia berhenti sejenak, mencoba menawar, bertanya lagi tentang berbagai hal. Dari kamar istri saya keluar, memberi ultimatum untuk segera tidur. Saya ke kamar, menemui Ghifari dan Kenji sedang asyik baca buku. Saya kira tadi mereka sudah tidur. Usai peluk cium barulah lampu kamar anak-anak dimatikan, lalu saya sendiri bersiap untuk tidur.

Badan lelah. Tapi saya harus melayani anak-anak saya. Tak banyak yang bisa saya ajarkan karena keterbatasan waktu. Tapi ada hal penting di situ. Anak-anak menikmati proses belajar. Mereka menemukan jawaban, lalu membuat pertanyaan baru. Rasa ingin tahu yang terpuaskan, membangun rasa ingin tahu yang baru, yang lebih besar. Kadang mereka mencari sendiri jawabannya. Sebagian saya bimbing untuk mereka temukan jawaban.

Proses belajar tidak harus dalam suasana buka buku seperti tadi malam. Kadang sambil berkendara, makan, atau sambil bermain. Selalu ada hal yang bisa diajarkan ke anak-anak.

Saya dibesarkan oleh orang tua yang tak sekolah. Saya kira banyak generasi saya yang demikian. Saya beruntung bisa menikmati pendidikan hingga jenjang doktoral. Maka, anak-anak saya harus menikmati pendidikan yang lebih baik dari saya dulu. Orang tua saya tak bisa mengajarkan banyak hal pada saya. Tapi saya bisa melakukannya. Maka saya lakukan itu, untuk membuat perbedaan.

Kalau kita tak punya teknologi saat ini saya maklum. Karena kita dididik oleh para orang tua yang rendah pendidikannya. Tapi generasi anak-anak kita seharusnya sudah lebih baik. Karena mereka dihasilkan dari generasi terdidik.

Tapi ingat, tak ada makan siang gratis. Tak ada kejayaan tanpa keringat. Untuk Indonesia yang mandiri dan maju, kita harus jadi guru bagi anak-anak kita. Menjadikan mereka lebih kreatif dan inovatif. Masa depan Indonesia 30 tahun ke depan di tentukan oleh hari-hari ini, di rumah-rumah dan sekolah-sekolah kita. Apakah Anda berperan di situ?