Tag Archives: frame of view

Trapped in a Frame

trappedSaya pernah mengalami hal ini, dan saya yakin banyak orang mengalaminya. Saya sedang berada di dalam mobil di tempat parkir. Tiba-tiba saya merasakan mobil saya maju, bergerak perlahan ke depan. Sejenak saya panik. Bagaimana mungkin mobil saya bisa maju, padahal saya sedang menginjak rem. Refleks rem saya injak lebih keras. Tapi mobil tetap bergerak maju. Apakah saya salah injak pedal?

Oh, ternyata tidak. Saya tidak salah injak. Mobil saya pun tidak maju. Yang terjadi adalah mobil di sebelah saya sedang bergerak mundur perlahan. Dalam pandangan sesaat saya mobil sayalah yang sedang bergerak. Ya, pandangan sesaat, mungkin kurang dari sedetik. Setelah itu saya sadar akan kejadian sebenarnya.

Yang saya alami di mobil itu bukanlah fantasi. Itu bukan khayalan. Itu realitas. Dalam kerangka relativitas Newton, saya boleh mengklaim bahwa saya lah yang sedang bergerak maju, sedangkan mobil di sebelah saya diam. Bahkan ketika saya libatkan pohon di depan mobil saya, serta objek lain di sekitar saya, klaim saya bahwa mobil di sebelah saya sedang diam tetap sah. Mobil saya, pohon di depan mobil saya, objek lain di sekitar saya bergerak maju, sedangkan mobil di sebelah saya diam. Namun deskripsi tentang gerakan mobil saya benda-benda di sekitar saya menjadi rumit. Jauh lebih sederhana bila gerak benda-benda dirumuskan dalam kerangka mobil saya dan benda-benda di sekitar saya diam, dan mobil di sebelah saya bergerak.

Dua kerangka berfikir (framework) mobil saya diam dan mobil saya bergerak maju sekali lagi adalah kerangka yang benar. Hanya saja akan timbul kerumitan bila kita hanya mampu melihat sistem dari satu kerangka saja. Inilah yang disebut dengan terjebak dalam kerangka tunggal (trapped in a frame). Kita hanya tahu satu sudut pandang, tidak mau tahu dengan sudut pandang lain yang sebenarnya juga wujud.

Banyak masalah sosial yang timbul akibat cara berfikir yang terjebak oleh sudut pandang tunggal ini. Orang-orang Islam, misalnya, suka meributkan aktivitas yang mereka sebut “kristenisasi” atau pemurtadan. Dalam kerangka berfikir mereka orang-orang Kristen melakukan proses pemurtadan terhadap sejumlah umat Islam. Tapi di satu sisi umat Islam sendiri juga aktif berdakwah, menghasilkan para mualaf, termasuk di antaranya dari kalangan Kristen. Dalam kerangka berfikir tunggal tadi, yang dilakukan oleh umat Islam adalah berdakwah yang merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan setiap muslim. Sedangkan yang dilakukan orang Kristen itu adalah pemurtadan. Padahal dari sudut pandang yang lebih luas, dakwah Islam maupun kegiatan misi Kristen itu substansinya sama.

Contoh lain, saya pernah dimaki-maki orang ketika saya mengatakan bahwa Indonesia dulu menjajah Timor Timur. Yang memaki saya, meski seorang dosen yang harusnya terdidik, adalah seseorang yang kebetulan bapaknya berperang di Timor Timur. Dalam pandangan dia, yang dilakukan Indonesia di sana adalah membebaskan Timor Timur dari penjajahan Portugal dan kekejaman Fretilin. Tapi dari sudut pandang lain, khususnya oleh sebagian orang Timor Timur, Indonesia adalah kekuatan asing yang menguasai bangsa mereka, dan itu adalah penjajahan.

Ada banyak contoh tentang pandangan-pandangan dari sudut sempit atau kerangka acuan tunggal. Bila kita terus memelihara cara pandang seperti itu, maka kita akan terlihat seperti orang gila yang mengira dirinya adalah pusat alam semesta. Saya bersyukur, belajar fisika membuat saya sadar bahwa dunia ini bisa dilihat dari berbagai sudut pandang yang jumlahnya tak berhingga. Melihat dari berbagai sudut pandang itu jauh lebih indah dari pada melihat dari sudut pandang tunggal.