Tag Archives: anak juara

Anak Juara

Suatu hari beberapa tahun yang lalu, Sarah bertanya. “Ayah, aku kok nggak pernah juara?”

“Juara apa?”

“Juara apa saja. Teman-temanku punya banyak piala di rumahnya. Juara lomba mewarnai, juara matematika, juara nyanyi………”

“Oh, iya, kamu belum pernah. Bukan nggak pernah. Belum. Suatu saat nanti kamu akan jadi juara.”

“Tapi juara apa? Aku nggak merasa punya bakat apapun. Menggambar tidak bagus, nyanyi juga tidak. Nilai matematika pas-pasan.”

“Gini, nak. Bakat itu ada yang dibawa dari lahir. Tidak ngapa-ngapain, langsung hebat. Tapi ada juga yang perlu diasah. Kamu tahu nggak, intan itu tidak bening dan cemerlang ketika baru saja ditambang. Ia baru cemerlang setelah diasah ratusan kali.”

Bulan lalu Sarah menjadi juara 3 sebuah lomba karya tulis. Kemarin dia juara 2 kejuaraan karate Gojukai se Jawa Barat. Janji saya pada Sarah kini terwujud. Tapi bagi saya anak juara itu bukanlah sekedar anak-anak yang mengoleksi piala dan medali. Tanpa piala dan medali pun anak-anak kita tetap juara. Kita harus mengarahkan anak-anak untuk menjadi juara.

Pertandingan atau kompetisi terbesar yang dihadapi anak-anak kita adalah kehidupan itu sendiri. Akan ada begitu banyak pertandingan dan kompetisi di dunia nyata yang akan mereka hadapi. Setiap hari adalah latihan untuk menghadapi kompetisi itu, untuk memenangkannya. Bagaimana kita mempersiapkan mereka?

Saya sendiri tidak pernah menyiapkan anak-anak saya untuk mengejar piala-piala. Saya rajin mengajak anak-anak saya melakukan berbagai kegiatan eksperimen, tidak dalam rangka mengarahkan mereka pada olimpiade sains. Saya hanya ingin mengajak mereka mengeksplorasi, memperkaya pengetahuan. Anak-anak saya ikut latihan karate. Tak terpikir oleh kami bahwa suatu saat mereka akan bertanding. Kami hanya ingin agar mereka bisa bergaul dengan anak-anak tetangga, sambil berolah raga.

Mendidik anak-anak untuk jadi juara artinya menyiapkan anak-anak untuk tangguh menjalani hidup, menuju masa depan mereka. Hal terpenting dalam proses ini adalah belajar. Belajar tentang apa saja. Kita sering kali terlalu fokus pada pelajaran dalam makna akademik. Padahal anak kita memerlukan lebih banyak pelajaran. Terlebih, saat ini kita tidak tahu akan jadi apa anak-anak kita di masa depan. Dunia kini sungguh dinamis. Akan ada puluhan, bahkan mungkin ratusan profesi baru di masa depan, profesi-profesi itu belum ada wujudnya saat ini. Anak-anak kita mungkin akan menenekuni salah satunya. Bagaimana kita mempersiapkan anak-anak untuk menjalani profesi yang saat ini kita belum tahu wujudnya?

Belajar adalah kuncinya. Anak-anak harus kita biasakan belajar. Belajar tentang apa saja. Belajar dengan cara apa saja. Sampai mereka bisa melengkapi diri dengan ilmu dan keterampilan apa saja yang kelak mereka butuhkan. Sampai belajar itu menjadi darah daging, mereka menjadi orang yang belajar dalam setiap desah napas mereka, seumur hidup.

Menjadikan anak-anak kita juara artinya menyiapkan mereka untuk menjadi seorang pembelajar. Tantangannya adalah, bagaimana mengalihkan proses belajar itu dari hal yang menyiksa, menjadi hal yang menyenangkan. Karena itulah saya selalu duduk dan berdiri di dekat anak-anak saya sejak usia mereka dini. Saya carikan berbagai cara agar belajar itu jadi menarik dan menyenangkan. Juga saya ganti definis belajar itu, tak melulu menghadapi buku. Belajar bisa di dapur saat kita masak, di sungai atau gunung saat kami berkemah atau menjelajah, di laut saat kami berenang atau main kayak. Belajar juga bisa dilakukan saat kumpul-kumpul hajatan keluarga. Bahkan saat duka cita ketika ada yang wafat, itu adalah saat di mana anak-anak kita bisa belajar.

Menjadi juara artinya tak menyerah ketika kalah. Anak-anak harus diajarkan untuk terus mencoba, sampai bisa. Terus mencari tahu sampai tahu. Terus mencari sampai ketemu.