Taat Agama, kok Korupsi?

Ada yang bilang, orang taat agama tak mungkin korupsi. Tapi fakta menunjukkan bahwa orang taat agama seperti Luthfi Hasan, Gatot Pujonugroho, Surya Dharma Ali, dan kini Patrialis Akbar, ternyata korupsi. Orang kemudian berdalih,”Oh, itu karena mereka beragama dengan cara yang salah.”

Bagaimana beragama dengan benar? Dengan menjauhi larangan Tuhan, dan melaksanakan perintahNya. Masalahnya, Tuhan tak melarang manusia untuk korupsi. Huss, ngawur! Korupsi itu mencuri, pasti dilarang oleh Tuhan.

Itu masalahnya. Korupsi itu dalam bahasa agama belum tentu mencuri. Mencuri itu mengambil barang milik orang lain. Kalau seseorang menerima suap, ia bisa berdalih bahwa ia tidak mencuri. Ia menerima pemberian, dan ia bisa mencarikan dalil pembenarnya.

Saya hampir yakin bahwa orang seperti Luthfi Hasan atau Patrialis itu tidak akan mau mencongkel jendela rumah orang, masuk ke rumah, kemudian mengambil uang atau harta pemilik rumah. Kenapa? Mereka patuh pada ajaran Tuhan, bahwa mencuri itu haram. Tapi kenapa mereka terima suap? Karena tidak tegas adanya larangan terima suap, sebagaimana tegasnya larangan mencuri.

Agama melarang kita mengambil hak orang lain. Ya, sama seperti mencuri tadi, itu bukan hak kita tapi kita ambil. Banyak orang tak mau mencuri. Tapi sangat banyak orang beragama yang menyerobot antrean, atau memotong jalan orang saat berkendara. Kenapa? Aturan berkendara tidak diterangkan secara jelas dalam beragama. Jadi, menyerobot tidak otomatis dianggap sebagai melanggar ajaran agama.

Apa boleh buat, agama memang dirumuskan belasan abad yang lalu. Banyak hal yang kita hadapi sekarang, tidak tertera aturannya dalam agama. Tapi, kan ada ijtihad? Bah, ijtihadnya sangat ketinggalan zaman. Banyak ahli agama yang sebenarnya tak berijtihad. Mereka cuma jadi penghafal pendapat ulama belasan abad yang lalu.

Jadi, kejahatan korupsi itu tak terdaftar dengan jelas dalam daftar kejahatan versi agama. Yang sangat jelas tercatat adalah mencuri, berzina, dan minum khamar. Belakangan ini, memilih pemimpin non-muslim didaftarkan dengan catatan berhuruf tebal.

Lalu, bagaimana memberantas korupsi? Jangan berharap pada agama. Korupsi hanya bisa diberantas dengan sistem manajemen yang baik. Sistem anggaran, tata kelola, dan pengawasan ketat. Jangan berharap orang taat agama tidak korupsi. Jangan memilih orang taat agama sebagai pemimpin, dengan harapan bahwa dia tidak akan korupsi. Tidak ada rumusan itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *