Syiria, ISIS, dan Malhamah Kubra

20 January 2016 0 Comments

Apa pandangan umat Islam Indonesia tentang ISIS? Dugaan saya banyak orang yang tidak setuju dengannya. Bukan hanya tidak setuju, tapi juga ngeri. Namun tidak sedikit yang mendukung, baik secara terang-terangan maupun tersamar. Pemimpin FPI Rizieq jelas dan terang menyatakan mendukung ISIS. Anis Matta waktu menjabat sebagai Presiden PKS menyatakan bahwa ketakutan terhadap ISIS adalah berlebihan. Ia secara tersamar mendukung gagasan mempersatukan Irak dan Syiria di bawah satu pemerintahan.

Bagaimana dengan berbagai kekejian ISIS? Saya sempat agak shock ketika membaca laman FB seorang teman saya, yang terdidik, ternyata ia membenarkan secara tersamar ketika ISIS membakar pilot militer Yordania. Wow!

Ada apa sebenarnya? Mengapa ada umat Islam yang mendukung ISIS? Jawabannya terletak pada kata kunci “malhamah kubra”. Apa itu? Ada beberapa hadist yang meramalkan suasana akhir zaman. Akan muncul kebangkitan kekuatan baru Islam, khilafah islamiyah, melalui sebuah perang dahsyat di negeri Syam (Syiria). Contoh beberapa hadist itu antara lain adalah:

“Pusat kepemimpinan kaum Muslimin pada hari peperangan yang paling besar adalah di sebuah negeri yang bernama Ghuthah, yang mana di negeri itu terdapat sebuah kota yang bernama Damsyik (Damaskus). Ia merupakan tempat tinggal yang terbaik bagi kaum Muslimin pada waktu itu.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

“Akan keluar dari sulbi ini (Ali bin Abi Thalib ra) seorang pemuda yang akan memenuhkan dunia ini dengan keadilan. Maka apabila kamu meyakini yang demikian itu, hendaklah kamu turut menyertai Pemuda dari Bani Tamim itu. Sesungguhnya dia datang dari sebelah Timur dan dialah pemegang Panji-panji Al-Mahdi.” (At-Tabrani)

Jika kamu semua melihat Panji-panji Hitam datang dari arah Khurasan, maka sambutlah ia walaupun kamu terpaksa merangkak di atas salju. Sesungguhnya di tengah-tengah panji-panji itu ada Khalifah Allah yang mendapat petunjuk.”(Ibnu Majah).

Ring a bell? Banyak orang menganggap ISIS adalah kebangkitan yang dimaksud, dan Abdurahman Al-Baghdadi adalah keturunan Bani Tamim (keturunan Ali) yang diramalkan nabi dalam hadist-hadist di atas. Benarkah? Lha, embuh.

Ramalan selalu menghasilkan orang-orang yang mencoba memenuhi ramalan itu. Dulu ada ramalan bahwa presiden-presiden Indonesia akan terdiri dari orang-orang yang namanya membentuk kata no-to-no-go-ro. No-Soekarno, to-Soeharto. Waktu itu sempat dikira presiden berikutnya adalah Try Soetrisno, tapi meleset menjadi tidak karuan. Tapi tetap saja ada yang masih percaya, yaitu Kivlan Zen. Ia rela mengganti namanya menjadi Wiyogo. Menurut dia, Habibie-Gus Dur-Mega itu anomali saja. Alur sejarah kembali pada jalurnya dengan Yudhoyono menjadi presiden. Maka yang berikutnya adalah giliran orang bernama dengan akhiran go, maka ia mengganti namanya menjadi Wiyogo.

Dalam hal Al-Baghdadi, bisa jadi ia adalah orang yang meyakini dirinya adalah perwujudan ramalan nabi tadi. Atau, ia adalah seorang oportunis yang menunggangi dalil-dalil itu untuk kepentingan pribadinya. Lebih buruk lagi, bisa jadi pula ia hanyalah boneka dari kekuatan lain yang memainkan dalil-dalil itu untuk suatu skenario.

Yang jelas dalil-dalil itu dipercaya, dan berhasil membuat orang-orang mendukung ISIS.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *