Stereotyping

Ada teman yang menulis status, isinya kurang lebih begini. “Elu teriak NKRI. Tapi rumah elu pagarin tinggi-tinggi. Tetangga nggak kenal. Ketua RT nggak tahu. Tetangga sakit juga nggak tahu. Kumpul-kumpul nggak pernah ikut. Kerja bakti nggak pernah ikut. Pas giliran ronda, elu upah orang lain untuk menggantikan.”
 
Para pembaca segera bisa menduga, siapa yang sedang dibicarakan, meski tidak disebut secara eksplisit. Ini terkait dengan situasi politik sekarang. Ya, kita buat mudah saja, itu gambaran tentang orang Tionghoa, yang dianut oleh sebagian orang, khususnya pribumi. Sebagian, artinya tak semua. Tapi jumlahnya cukup banyak.
 
Penulis status tadi, saya duga, sedang membangun upaya delegitimasi komitmen sejumlah orang terhadap NKRI, yang sekarang sedang diteriakkan di mana-mana. Kenapa perlu delegitimasi? Karena sekarang sedang musim klaim.
 
Itu disebut stereotype. Stereotype itu adalah anggapan yang tetap tentang sesuatu. Tentu saja ia tak menggambarkan keadaan sebenarnya. Peliknya, orang tak merasa perlu untuk memeriksa keadaan yang sebenarnya. Bahkan, orang tak peduli ketika berhadapan dengan fakta yang berlawanan dengan kesimpulan yang ia buat. Ia lebih nyaman dengan kesimpulan streotype tadi.
 
Ada memang di wilayah tertentu, orang Tionghoa yang berperilaku seperti itu. Tapi ingat, yang bukan Tionghoa juga banyak yang begitu. Tentu saja ini bukan tipikal orang-orang yang sekarang sedang berdemo meneriakkan komitmen pada NKRI. Tidak ada hubungan sama sekali.
 
Saya sekarang tinggal di perumahan yang hampir separuhnya adalah orang Tionghoa. Rumah-rumah kami tidak berpagar, karena memang tidak boleh dipagari, sesuai aturan estate. Kami saling kenal, saling menyapa kalau bertemu di jalan. Anak-anak kami juga main bersama.
 
Kalau ada acara kumpul-kumpul, kami berkumpul dengan akrab. Teman-teman yang orang Tionghoa malah aktif hadir. Semua orang aktif berpartisipasi.
 
Malah ada yang unik, di cluster tempat saya tinggal sebelumnya. Kalau pas hari raya Idul Adha, teman-teman non muslim, utamanya orang Tionghoa, ikut menyumbangkan hewan kurban untuk disembelih. Usai pemotongan dan pembagian daging, kami berkumpul, pesta dengan masakan daging. Muslim dan non muslim berpesta bersama.
 
Nah, karena itulah mereka menyumbang tadi. Mereka ingin ikut kemeriahan hari raya, tapi tak ingin mengurangi jatah daging kurban yang seharusnya dibagikan kepada fakir miskin.
 
Dulu pernah ketua RT-nya orang Tionghoa. Ketika mau puasa, warga membuat musala darurat untuk tarawih. Pak RT ikut serta, kerja bakti membangun musala.
 
Ada banyak keindahan dalam hubungan antar agama di masyarakat kita. Ada banyak keindahan perilaku antar suku kita. Tapi tidak sedikit orang yang lebih suka mengingat hal-hal yang tak indah. Itu mungkin saja fakta, tapi bukan fakta yang menyeluruh. Berdasarkan ingatan itu, ia membangun sikap dasar, soal bagaimana ia memandang dan bersikap terhadap suatu golongan.
 
Kita bisa duga, bagaimana cara ia memandang. Ia memandang dengan kebencian dan permusuhan. Cara pandang tadi, fondasinya adalah kebencian dan permusuhan.
 
Bagi saya, Tionghoa itu manusia, persis seperti orang-orang dari suku apapun. Ada orang Tionghoa yang baik, sangat baik malah. Ada pula yang brengsek. Persis sama seperti orang Jawa, Bali, Padang, Madura, dan sebagainya.
 
Kalau kita bernalar, kesimpulannya pasti seperti itu. Karena itulah yang benar. Streotype tadi bukan kesimpulan yang benar. Itu biasanya kesimpulan yang dibuat berdasar rasa cinta atau benci. Cinta dan benci punya efek sama pada nalar, yaitu mematikannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *