Soemitro Kolopaking

10 February 2016 0 Comments

kolopaking

Saya jadi tertarik untuk menulis tentang Soemitro Kolopaking saat foto beliau ketika sedang dilantik sebagai pengurus Freemasonry terpampang di timeline Facebook saya. Saya bisa langsung mengenali foto itu ketika melihatnya sekilas. Itu adalah foto yang terpampang di kamar depan di rumah ibu kos saya di Yogya, dalam versi lain. Versi yang saya lihat adalah foto tunggal Pak Soemitro dalam setelan jas putih, berkalung lambang tanda anggota Freemasonry.

Saya tak paham benar apa itu Freemasonry. Tapi saya ingin sedikit bercerita soal beliau. Sumber cerita saya adalah cerita-cerita dari almarhum istrinya, Rusmini Kolopaking, yang biasa saya panggil Mami. Juga cerita dari buku otobiografi beliau berjudul “Tjoret-tjoret Pengalaman Sepandjang Masa”, yang diterbitkan oleh Balai Pembinaan Administrasi (BPA) Sospol UGM tahun 1969. Waktu itu beliau adalah direktur lembaga itu.

Nama Kolopaking sering dikira sebagai nama orang Manado. Padahal bukan, ini nama keluarga Jawa. Kolopaking, menurut cerita Mami, berasal dari kata “kelopo aking”, artinya kelapa kering. Leluhur keluarga ini dulu ceritanya adalah pengawal Pangeran Diponegoro. Dalam sebuah perjalanan, dalam keadaan haus, ia minum air kelapa tua (kering). Dari situlah gelar ini muncul.

Keluarga Kolopaking adalah keluarga bangsawan Banjarnegara. Setiap tahun saya dulu diajak Mami pergi nyekar ke Banjarnegara. Pak Soemitro adalah anak Bupati Banjarnegara pada zaman Belanda, kelak ia menjadi Bupati. Kemudian pada masa kemerdekaan beliau menjadi Residen Pekalongan. Ia lahir tahun 1887.

Meski berasal dari keluarga bangsawan, anak bupati, Soemitro muda tidak menikmati hidup sebagai pangeran. Ia memilih pergi ke Eropa, mengembara ke berbagai negara selama masa awal abad 20. Ia pernah jadi kuli tambang di Jerman, buruh di penggergajian kayu, atau bekerja di Polandia. Di Polandia ia dipanggil Kolopakingski. Ia kemudian bekerja di Swedia, menabung hasil kerja itu untuk biaya kuliah di Leiden.

Tahun 1927 ia dipanggil pulang, karena ayahnya wafat. Ia kemudian menjadi bupati hingga tahun 1947. Pada perjuangan kemerdekaan ia juga turut serta. Ia adalah anggota BPUPKI, tahun 1990-an dianugerahi Bintang Mahaputra. Mami waktu itu mewakili keluarga menerima bintang ini di istana.

Dalam hal pendidikan, ia terlibat cukup penting pada pendirian UGM, khususnya Fakultas Sospol. Dan mungkin masih banyak lagi keterlibatan beliau yang tidak saya ketahui dengan detil.

Waktu melihat foto beliau dengan lambang Freemason, saya sempat teringat soal isu-isu tentang organsasi ini, khususnya yang biasa dibahas oleh orang-orang Islam. Tapi saya tak banyak memikirkan soal itu lagi. Saya menikmati hidup di tengah keluarga ini selama hampir 6 tahun. Sampai sekarang pun saya masih menjalin silaturahmi. Waktu liburan ke Yogya saya ajak anak-anak saya mampir ke rumah keluarga ini. Mami meninggal 2 tahun yang lalu.

Lalu bagaimana dengan soal Freemason tadi? Saya tidak tahu ini organisasi apa. Saya hanya melihat Soemitro Kolopaking sebagai sosok yang banyak kontribusinya bagi bangsa ini. Ketimbang ribut soal Freemason, lebih baik kita ributkan soal apa kontribusi kita untuk bangsa ini.

mami

 

One thought on “Soemitro Kolopaking”

  1. lha, wong bung hatta juga anggota freemason kok. sepertinya memang hal yang jamak untuk ukuran waktu itu golongan intelektual untuk mengikuti perkumpulan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *