Sesat

Kita ini sedang menelusuri jalan. Petunjuknya diberikan 14 abad silam. Ada yang tertulis, ada yang tidak. Petunjuk tidak tertulis itu kemudian ditulis, berdasarkan ingatan orang-orang, disampaikan secara lisan. Ada berbagai versi.

Lalu petunjuk-petunjuk itu ditafsir. Ya, harus ditafsir, karena kita tak lagi hidup di tempat dan zaman ketika petunjuk itu ditulis dan diucapkan. Ada petunjuk yang jelas maknanya. Ada yang mesti dicari padanannya di zaman sekarang. Kita lah pencari padanan itu.

Kita berjalan menuju sesuatu. Ada orang lain yang berjalan juga, tapi jalan yang ia tempuh berbeda dengan kita. Tapi kita dan dia merasa sedang menempuh jalan yang benar, menuju tujuan kita. Tapi jalan kita dan dia berbeda. Mana yang benar?

Orang-orang tertentu yakin betul bahwa jalan dia paling benar. Maka jalan orang selain dia pasti salah. Tapi sesungguhnya dengan keterbatasan kita sebagai manusia, kita tak pernah bisa memastikan bahwa jalan kita lah yang benar. Karena sangat mungkin kita salah. Boleh jadi jalan orang itu lah yang benar.

Jadi, kita tidak yakin akan kebenaran jalan yang kita tempuh? Bukan begitu. Kalau tidak yakin tentu kita tak akan menempuhnya, bukan? Yakin. Kita yakin bahwa kita menempuh jalan yang benar. Hanya saja kita perlu sisakan ruang untuk kemungkinan bahwa kita salah. Bila kemudian kita sadar bahwa kita salah, kita akan koreksi. Kalau kita tidak menemukan kesalahan, kita tetap yakin bahwa kita di jalan yang benar, dengan kemungkinan bahwa kita juga bisa salah.

Maka ketika kita berbeda dengan orang lain, boleh jadi kita benar, dan ia salah. Atau sebaliknya, dia benar dan kita salah. Ingat, kita ini pengembara yang sama-sama tak tahu jalan. Jadi menuduh orang lain tersesat karena berbeda dengan kita sama saja dengan menuduh diri kita sesat. Karena ada kemungkinan kita sendiri lah yang sesat.

Atau, ada kemungkinan lain. Bagi Tuhan tak ada yang sesat. BagiNya tak penting ke arah mana kita menuju. Karena semua arah menuju kepadaNya. Ia memberi rahmat kepada orang yang berjalan mendekatiNya. Ke mana arah, tak penting lagi.

3 thoughts on “Sesat

  1. Mas Mamo

    Paragraf terakhir itu benar, kemanapun kita menghadap kita melihat tajali wajah Tuhan. Jadi kalau niatnya mendekat kepadaNya maka akan dekatlah, ke arah manapun jalan kita.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *